Langsung ke konten utama

Postingan

31 [OPTIMALKAN BULAN SYAKBAN] #Jelajah Ramadan

  Selain memiliki kemuliaan sendiri yang perlu kita raih, bulan Syakban waktu menjelang kedatangan bulan suci Ramadan.   Dimana semua persiapan, perbekalan dan pengkondisian diri di optimal agar dapat meneguk sebanyak mungkin pahala Ramadan nanti.   Usamah bin Zaid ra. terkait bulan Syakban pernah menanyakan pada Rasulullah saw. Perihal dilihatnya Rasulullah saw. lebih bersemangat melakukan puasa di bulan Syakban dibandingkan waktu lainnya. Rasulullah saw. pun bersabda,   “ Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan .” (HR. An-Nasa’i)   Dapat dipahami sebelum masuki bulan Ramadan, perlu prakondisi pada bulan sebelumnya. Agar diri baik secara psikologis dan biologis tidak kaget, sudah terbiasa melahan lapar dan dahaga pada siang hari, terlebih mengandalikan ha...

30 [MENULIS DENGAN CARAMU] 30 Hari Bercerita

  Dulu aku menulis seperti di papan tulis. Setiap kesalahan mudah dihapus, bila kurang bagus tak sulit diperbaiki. Usai menyusun satu paragraf  ku baca kembali, kurang pas mudah direvisi. Kemudian ku eja ulang ada kata yang rancu, ku coba lagi meramu. Begitu terus tak pernah tuntas tulisan itu, karena selalu ada rasa tak sempurna, takut salah dan tambahan ini dan itu. Kemudian aku menulis seperti memasukan pasir putih dan potongan karang dalam toples kaca. Ku masukan dulu pasir lalu karang, tapi karang tak cukup ruang dalam toples. Penuh bahkan lebih. Padahal dalam toples masih ada rongga-rongga sisa dimana-mana. Akhirnya ku balik, masukan dahulu karang, lalu pasir akan masuk mengisi melalui sela-sela karang dengan lembutnya hingga tak tersisa dan toples penuh sempurna. Bila kemudian menemukan sebongkah karang atau segenggam pasir lagi, aku tak memiliki ruang menampungnya. Akhirnya penaku menemukan cara merajut ala sarang laba-laba. Membentangkan dulu beberapa benang penyangga...

29 [BERBUNGA TANPA SUARA] 30 Hari Bercerita

  Coba tengok senjenak ke taman kecil halaman rumah, pot yang berjejer di pinggir teras sekolah, atau ujung pucuk pohon-pohon rindang di tepi jalan yang dilalui. Mereka mulai berbunga, tiba-tiba tanpa suara. Tak gaduh dan berisik. Mereka juga tidak mencuri perhatian atau decak kagum sebagaimana bunga-bunga hias yang terpajang pada toko bunga (florist) segar. Bahkan namanya juga anda lupa karena tak sepopuler bunga mahal lainnya. Paling anda akrab dengan buahnya saja yang ranum dan manis. Acuh dengan bunganya. Padahal dari bungalah buah itu berawal. Sejelek apa rupanya, seburam apa warnanya, sekecil apa kelopaknya mereka tetap disebut bunga. Dari mereka kita belajar, tetaplah berbunga meski tanpa pengumuman. Teruslah berkolaborasi dengan lebah dan serangga lainnya bersama bunga, tanpa berisik dan mengusik. Jangan berhenti berbuah dan menebar aroma sebagaimana mestinya. Gaduhlah pada waktunya. Berbungalah setiap saatnya. 29 Januari 2026 #30HBC2629 #30HariBercerita #reHATIwan #reHA...

28 [LAPIS-LAPIS CINTA DARI BUKU] 30 Hari Bercerita

  Awal niatnya sederhana, cuma ingin punya buku yang ditulis sendiri karena selama ini sudah banyak baca buku. Suatu ketika penjaga toko buku langganan saya entah bercanda atau serius berucap, "Beli buku terus, kapan terbitin tulisan sendiri hasil banyak buku yang di baca?". Dalam hati saya rada kesal, "Ini orang kok tidak melihat dirinya sendiri, hidup bersama ribuan buku setiap hari bahkan dengan buku terbaru juga belum-belum terbitin karya." Sepuluh tahun silam, tahun 2016. Terbit buku pertama saya. Dalam proses akhir terbit dan mau cetak terpikir. Jika hanya sebuah buku dan bermanfaat sekadar di baca saja, lalu apa bedanya dengan yang lain. Walau buku "receh" bukan best seller, tapi harus punya nilai lebih bagi penulis, pembeli, pembaca dan semua yang terlibat. Maka lahirlah label "10 % dari penjualan buku ini untuk dakwah dan kemanusiaan." Label biru 10% itu hingga buku terakhir masih menemani di sampul belakang. Walau tidak semua perhatikan...

27 [MENGAHADAPI PEMBEBANAN] 30 Hari Bercerita

  Suatu waktu kita dihadapkan dengan cobaan yang tidak pernah terbayangkan. Bahkan tak pernah masuk dalam radar tantangan dan hambatan. Suatu saat kita bertemu dengan kegagalan yang meruntuhkan semua capaian. Seketika apa yang telah diperjuangkan begitu lama berantakan. Ada waktunya dalam kondisi terbatas malah mendapatkan tanggungjawab yang lebih lagi. Pada kondisi normal saja terasa punggung mau patah. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Kadang kacamata yang kita gunakan cuma mampu memandang hingga belasan meter dihadapan. Padahal cobaan, kegagalan dan keterbatasan yang menjumpai ia punya kompensasi jangka panjang pada perjalanan hidup kita. Bisa berupa pengalaman baru, cara bertahan lebih lama, mengembangkan diri lebih jauh, berpikir mencari solusi lebih dari biasa hingga mengenal diri lebih dalam bahwa selama ini ada potensi yang belum diberdayakan. Perihal pembebanan yang Allah SWT berikan, Dr. Aidh Al-Qarni mengata...

26 [TIAP BUKU PUNYA TAKDIR TERBITNYA SENDIRI] 30 Hari Bercerita

  Lima tahun silam berjumpa dengan mantan Presiden Mahasiswa BEM Universitas Mataram di tempatnya mengabdi. Di sebuah sekolah pinggiran Kota Bima, NTB. Pak Guru M Fauzi Muhajir meminta saya membaca sebuah naskah buku yang sudah rampung ia ketik. Senang bisa baca lebih dulu, sebelum khalayak menikmati goresannya. Pekan lalu, saya bersua dengan beliau. Mumpung ada waktu, sekalian mau meraba dan membaca kembali buku "Study, Dream and Future" karya pertama beliau versi cetakan penerbit. Sebagai barter saya bawakan buku, "Pemuda Inspirasi Wajah Negeri" yang juga sama-sama terbit akhir tahun 2025 yang lalu. Ada buku yang sudah siap naskah bertahun-tahun lamanya, tapi tidak terbit-terbit (apalagi yang filenya cuma di kepala). Ada juga buku yang sudah mau diajukan ISBN, namun si penulis selalu merevisi tiap baca kembali hingga sekarang masih berstatus revisi. Rasanya mengejar sempurna tak akan ada garis finis nya. Toh ada ruang edisi revisi yang terbuka agar kemudian a...

25 [BERSIH DAN WANGI] 30 Hari Bercerita

  Dulu saat tahun 90an perjalanan darat dari Jakarta ke Bima, NTB menggunakan Bis memakan waktu tiga malam dua hari. Satu-satunya cara agar tetap segar dan harum karena tidak mandi dengan mengusap kolonyet. Tulisan asingnya colognette, tisu basah isi satu seperti tisu air galon zaman sekarang tapi aromanya wangi menyengat. Tidak ada kolonyet yang beroma kalem, semua menyengat. Aroma menyengat yang kemudian bercampur keringat itu malah membuat saya pusing dan mabuk. ===== Beberapa waktu yang lalu ada teman saya pada sudut teras rumahnya menjadi sasaran kucing liar buang air besar. Baunya kemana-mana. Kemudian untuk menguranginya ditaburi bubuk kopi dan percikan parfum. Aromanya bukan hilang malah tidak karuan, tidak enak. ===== Dari dua peristiwa di atas memiliki kesamaan. Menghilangkan kotoran atau aroma tak sedap tidak dengan membersihkan/membuang sumbernya, tapi memberinya pewangi atau parfum. Tentu tidak menyelesaikan masalah. Malah hanya membuat kamuflase sementara. Ujung-ujung...