Langsung ke konten utama

30 [MENULIS DENGAN CARAMU] 30 Hari Bercerita

 


Dulu aku menulis seperti di papan tulis. Setiap kesalahan mudah dihapus, bila kurang bagus tak sulit diperbaiki. Usai menyusun satu paragraf  ku baca kembali, kurang pas mudah direvisi. Kemudian ku eja ulang ada kata yang rancu, ku coba lagi meramu. Begitu terus tak pernah tuntas tulisan itu, karena selalu ada rasa tak sempurna, takut salah dan tambahan ini dan itu.

Kemudian aku menulis seperti memasukan pasir putih dan potongan karang dalam toples kaca. Ku masukan dulu pasir lalu karang, tapi karang tak cukup ruang dalam toples. Penuh bahkan lebih. Padahal dalam toples masih ada rongga-rongga sisa dimana-mana. Akhirnya ku balik, masukan dahulu karang, lalu pasir akan masuk mengisi melalui sela-sela karang dengan lembutnya hingga tak tersisa dan toples penuh sempurna. Bila kemudian menemukan sebongkah karang atau segenggam pasir lagi, aku tak memiliki ruang menampungnya.

Akhirnya penaku menemukan cara merajut ala sarang laba-laba. Membentangkan dulu beberapa benang penyangga pada sisi yang luas. Kemudian mulai merajut dari titik tengah melingkar terus hingga lingkaran terluar, menghubungkan benang-benang penyangga di awal. Mengulangi dari diameter kecil hingga yang paling lebar. Mengatur jaraknya sedemikian presisi dengan kerapatan yang kokoh untuk kemudian bisa menjerat serangga yang lewat usai sarang rampung.

Semua orang menemukan cara ternyaman sendiri bagaimana untuk menulis. Ada hal yang tak boleh terlupakan. Menulis itu kata kerja yang menghasilkan bentuk karya. Bukan berimajinasi tanpa dituliskan, keinginan tanpa rajutan kata. Atau menyulam aksara yang hambar makna, menyusun kalimat tanpa pesan.

30 hari bercerita menjadi panggung siapa saja menulis dengan caranya, pendek hingga panjang, fiksi hingga non fiksi, to the point bahkan penuh basa basi, dari sudut pandang orang pertama atau keberapa. Intinya harus menulis setiap hari, bolos sehari harus rapel dalam waktu 30 hari Januari. Semoga rasa dan karya yang sama dapat bertahan 11 bulan selanjutnya.

Terima kasih Ani, Budi, dan Pak Pos menemani Januari 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...