Setiap kita kenal tulisan, ada tulisan tangan, tulisan cetak atau tulisan digital. Saya yan terlahir sebagai generasi milenial (gen X) mengalami periode dari tulisan tangan hingga menulis digital. SD kelas 1-3 menulisan tangan dengan pensil (mudah dihapus jika salah) dan sempat menulis sambung dengan buku tulis bergaris khusus. Kelas 4 hingga sekarang menulis dengan pulpen. Kelas 5 belajar menulis dengan mesin tik dengan 11 jari (dua jari telunjuk), ini membantu saat membuat laporan praktikum semester 1-3 ketika kuliah. SMA mulai mengenal menulis dengan komputer masih juga dengan 11 jari, ini menjadi modal membuat makalah tugas dan laporan saat mahasiswa. Tahun 2011 saat memiliki HP Blackberry mulai menikmati sensasi baru menulis dengan dua jempol. Bagi mereka yang pernah merasakan menulis tangan dengan pulpen dan kertas ada sensasi yang tak serta merta dikalahkan oleh kecanggihan teknologi AI sekalipun. Ia menjadi identitas dan karakter seseorang yang dengan mudah diterka....
Ada makhluk hidup bernama Amoeba. Allah swt. menciptakannya bisa biak secara vegetatif (aseksual) dengan cara membelah diri (pembelahan biner) . Dalam proses ini, satu sel induk akan membelah menjadi dua sel anakan yang identik dan mandiri. Dari satu membagi diri menjadi dua, dua membelah jadi empat dan seterusnya. Sejenak perhatikan keran air, membukanya akan mengalirkan percikan air. Kian besar di buka, kian deras air keluar. Makin banyak air mengalir, akan jauh radius jelajahnya. Seluas itu juga manusia, tumbuhan dan hewan yang merasakan manfaat darinya. Air tidak hanya sebatas pada titik tetes di bawah keran menebar segarnya kebaikan. Amoeba, tidak berpikir banyak atas takdir membelah dirinya. Ikuti dan nikmati. Keran air juga tidak pusing dengan perhitungan mengalirkan air, apakah akan kembali dengan jumlah dan debit yang sama masuk lagi ke dalam keran itu. Lakukan dan ikhlaskan. Amoeba hanya tau membagi diri akan menambah jumlah dengan dua kali lipat alia...