Langsung ke konten utama

Postingan

[SALAM PAGI 195: KEANGKUHAN ITU KETERBATASAN]

  Assalamu’alaikum Pagi “Saat berjalan angkuh di atas bumi, ingatlah kelak jasadmu akan tenggelam di dalam bumi.” Keangkuhan itu sebenarnya menunjukan kebodohan. Merasa pintar, tapi lupa bahwa masih banyak manusia yang lebih berilmu darinya. Termasuk semesta yang megah ini belum semuanya ia ketahui. Keangkuhan itu sebenarnya membuktikan kepapaan. Merasa berada, tapi tak mampu menghitung seberapa besar nikmat dari-Nya yang cuma-cuma melekat pada dirinya. Keangkuhan itu sebenarnya menampakan kerendahan. Merasa tinggi tak tersaingi, padahal sebuah roda kehidupan akan mempergilirkan posisi di bawah dan di atas. Ia pun tak mampu menghalagi pergantian itu. Keangkuhan itu sebenarnya tanda keterbatasan. Merasa berkuasa tak tergoyahkan. Padahal kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki belum ada seujung kuku yang pernah dianugerahkan pada Nabi Sulaiman as. Keangkuhan itu sebenarnya menipu diri sendiri. Merasa adidaya berjalan di mula bumi, tak sadar saatnya meninggal kelak akan lenya...
Postingan terbaru

[Setiap Kepemimpinan Punya Ujian] #CatatanSyawal 21

  Sejatinya kepemimpinan itu sendiri sebuah ujian. Bahkan bagi seseorang yang tak memimpin apa pun, ia sudah dilekatkan kepemimpinan bagi dirinya sendiri sejak lahir.   Kepemimpinan untuk mengarahkan diri menjadi versi terbaik di dunia dan melindungi diri hingga hadiah keabadian di akhirat kelak.   Ujian kepemimpinan kadang bukan dari masalah dalam organisasi semata. Ia bisa datang dari kenyamanan dan "kemewahan" organisasi yang dikelolanya.   Bahkan dengan duduk manis saja semua sudah berjalan otomatis karena sistem yang telah terbentuk dan berfungsi dengan sendirinya.   Ujiannya berupa jebakan tidak mau meningkatkan yang telah dianugerahkan atau dengan keserakahan meraup sebanyak mungkin untuk kepentingan pribadi dan ambisi tanpa etika juga mengambil hak orang lain.   Ketika ambisi personal yang tak halal ini berhasil, akan hadir perasaan bangga dan merasa sukses paripurna. Dapat menjaga bahkan menaikan level organisasi yang telah ada. Dan bonus besar keu...

[DHUHA DULU SEBELUM KELUAR RUMAH] #CatatanSyawal 13

  Oleh: Iwan Wahyudi (Penulis Buku “Hidup adalah Catatan” )   Belasan tahun lalu pagi-pagi sekali saya perlu menghubungi seorang dokter yang juga kepala RSUD. Bukan terkait kedaruratan penanganan orang sakit, tapi minta persetujuan penggunaan salah satu ruang yayasan yang beliau bawahi untuk sebuah pertemuan.   Saya tak menggunakan waktu Subuh menghubungi, karena waktu privasi setiap orang hingga mau berangkat kantor, juga disibukan dengan persiapan mengantar anak sekolah.   Saya memilih pukul 7 pagi, sebelum ia tiba di kantor dan bergelut dengan kesibukan melayani masyarakat. Di ujung sana telpon saya di angkat oleh anaknya. Dari suaranya saya bisa menerka seusia Sekolah Dasar, "Bapak masih shalat Dhuha, nanti hubungi kembali 5 menit lagi ya." Demikian pesannya.   Dhuha yang identik dengan salah satu shalat sunah dan salah satu nama surah dalam Al-Qur'an itu merupakan sepenggalan waktu yang selalu semua makhluk lewati tiap harinya.   Rentang waktu yang dim...

[Kebaikan Kadang Perlu Dipaksakan] #CatatanSyawal 05

  Sudah lama tidak menulis artikel yang agak panjang. Maksud saya dengan panjang 8-10 paragraf. Biasanya 4-5 paragraf ala status Facebook dan media sosial lainnya. Ramadan kemarin coba menantang diri sendiri agar rutin menulis artikel panjang sebulan penuh. Dengan peningkatan volume dan frekuensi ibadah selama Ramadan, saya juga sadar waktu akan menjadi kendala dan alasan yang melemahkan diri. Dan ini selalu berulang dan celah kegagalan. Saya mengajak Kang Syamsudin Kadir agar niatan baik itu terlaksana di website Penerbit Panggita www.panggitapublishing.com. Setidaknya saat saya bolong tidak menulis, goresan beliau menambalnya. Bila beliau kosong, saya wajib mengisi. Alhamdulillah jika kami berdua sama-sama menulis lebih dari satu artikel tiap hari. Gayung bersambut. Sempat datang kekhawatiran, bagaimana bila suatu hari kami berdua sama-sama kosong menulis? Saya coba mengajak seorang sohib lama semasa aktivis mahasiswa dulu, Ustadz Junaidi Ana . Tema seputar Ramadan yang begi...

[KOCA] #KulinerRamadan 10

  Jajanan tradisional ini di Bima, NTB menamainya dengan Koca. Makanan tradisional kukus yang ditaburi kepala parut diluarnya ini dibuat dari tepung ketan yang dibulatkan. Diisi denga gula merah merah.   Salah satu sensasi makan koca ialah saat mengunyah di dalam mulut, gula merahnya akan pecah dan muncrat ke luar.   Jajan pasar satu ini memiliki nama yang berbeda disetiap daerah. Orang Jawa dan Lombok menyebutnya klepon. Klepon khas Lombok bentuknya lonjong disebut kelepon kecerit , kata kecerit dalam hal ini bermakna "muncrat" atau pecah dalam mulut.   Masyarakat Bugis menyebutnya sebagai umba-umba . Sumatra Barat menamainya onde-onde, masyarakat Sambas, Kalimantan Barat mengenalnya sebagai kelapon pancit . Dan masyarakat Banjar menyebutnya kalalapun atau kelelepon .   Koca atau klepon tidak hanya terkenal di Indonesia. Di negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Brune Darussalam juga memiliki jajan serupa. Jangan heran jika ke sana menjumpai m...

[ES CENDOL] #KulinerRamadan 09

  Es cendol menjadi salah satu minuman pilihan favorit orang Indonesia untuk berbuka puasa. Rasanya jangan ditanya lagi, manis, segar, dan tekstur cendolnya yang kenyal.   Es cendol miniman asli Indoensia. Tepatnya minuman tradisional khas Jawa. Merupakan inovasi dari dawet yang ditemukan oleh orang-orang Jawa, di sekitar abad 9 hingga awal abad 10.   Beberapa daerah di Indonesia memiliki nama sendiri. Di Bima, NTB menyebutnya cendo. Suku Bugis Sulawesi Selatan   mengenalnya dengan cindolou. Sumatera Barat menamainya cindua. Terkait sejarah kata cendol saya kutip dari sumber Wikipedia sebagai berikut:   “Catatan tentang kata cendol atau tjendol dapat ditelusuri pada banyak kamus dan buku abad ke-19 di Hindia Belanda . Salah satu catatan tertua tentang kata tjendol yang diketahui tercantum pada Oost-Indisch kookboek atau buku resep Hindia Timur bertahun 1866. Buku ini memasukkan resep cendol dengan judul " Tjendol of Dawet " yang menandakan bahwa cendol dan d...

[KAREDO MACI KANDOLE] #KulinerRamadan 06

  “Si Manis Jenang khas Bima yang diburu untuk berbuka puasa . ”   Karedo Maci Kandole (KMK) masuk dalam bangsa bubur pada jagad kuliner. Sesuai dengan namanya dalam bahasa Bima “Karedo” artinya bubur, “Maci” artinya manis dan “Kandole” artinya bulat. Sehingga arti dari asal katanya menjadi bubur manis bulat.   Nama lain bubur ini Jenouri atau Januri. Di daerah lain mirip-mirip Jenang atau Candil. Sangat mudah ditemukan bagi mereka yang ngabuburit. KMK akan dijejerkan dengan kuliner sebangsanya seperti bubur kacang hijau, kolak dan cendol. KMK dibuat dari bahan dasar tepung beras. Tepung beras yang dicampur dengan sedikit air kemudian dibulatkan sedemikian rupa seukuran kelereng dengan tangan. Siapkan santan dan gula merah, masak hingga mendidih. Lalu masukan tepung beras yang sudah dibulatkan tadi, tunggu hingga masak dengan tekstur menjadi kenyal dan kuahnya mengental. KMK siap dihidangkan. Sebagian ada yang menambahkan topping berupa kacang hijau atau sagu mutiara “ma...