Awal pekan ini saya disuguhi oleh Bung M Herman Yadi sesama aktivis kala mahasiswa dulu satu album foto edisi cetak. Masa itu punya kamera digital sangat langka, masih kamera analog yang pakai rol film itu. Album itu mengobati rasa kehilangan saya atas banyak foto cetak yang rusak karena melekat pada plastik album, CD backup foto-foto yang tergores dan tak terbaca lagi, hingga hardisk eksternal penyimpan arsip juga foto yang tak bisa lagi dibuka karena minta diformat ulang yang artinya akan menghapus habis semua file-file berharga itu. Sebuah potret akan berbicara banyak hal. Raut wajah dan gestur tubuh, kostum dan tempat hingga beragam makna yang tak tampak didepan mata, tapi hadir kembali mewakili makna sebuah peristiwa. Selembar foto juga menjadi saksi otentik yang tak tergantikan. Sehebat apa pun AI membantu mengkonstruksi sebuah gambar dan foto akan hambar nilai rasa dan makna. Cuma kepuasan tidak asli yang sementara dan kamuflase semu. Sebuah foto selain menyimpa...
Aku dapatkan makan yang gratis sesungguhnya seusai shalat Jumat. Tanpa wadah ompreng atau mobil box pengantarnya. Pengantarnya tak perlu motor dinas dari uang negara. Pembaginya tanpa seragam, kaus kaki hingga sepatu mahal dari dana APBN. Aku nikmati makan yang gratis yang asli usai Jumatan. Jauh dari aroma basi apalagi ada yang keracunan. Tak perlu ada tim cicip sebelum dikonsumsi. Pastinya bersih dari ulat yang membuat perut mulas. Aku dikasih sebungkus nasi benar-benar bergizi sepulang Jumat. Seporsi nasi dengan ukuran penuh kalori. Sepotong tahu protein tanpa ragu gizi. Sesendok sambal terong pemicu nafsu makan dan energi. Aku diberi seporsi nasi bungkus di depan pintu masjid Jumatan. Tidak dari kas masjid atau pajak rakyat. Tanpa ribut jatah 5ribu operasional dan 10ribu isi asli porsi. Di jamin 100% bukan dari hasil uang suap atau bisa dikorupsi. Aku melihat setiap Jumat nasi gratis dibagi. Mengelolanya tak perlu studi banding kelu...