Langsung ke konten utama

Postingan

129 [HARTA NEGARA]

  “Termasuk khianat adalah mencuri harta umat dan negara walaupun sebuah jarum dan selembar kertas.” (Said Hawwa) Suatu waktu para sahabat berkumpul dan berdiskusi terkait gaji presiden alias khalifahnya. Hasil syuro paripurna mereka dengan rada memaksa agar khalifah Abu Bakar Ash-Siddiq mau menerima uang saku sebesar 6.000 dirham setahun. Jika dikonversi dalam rupiah hari ini, gaji sebulan Abu Bakar yang cuma 500 dirham itu setara dengan Rp4.950 x 500= Rp2.475.000. Dengan gaji yang jauh di bawah UMK Kota Mataram NTB tahun 2026 Rp3.019.015 itu, istri Abu Bakar masih bisa berhemat dan hasil menabungnya dibelikan makanan ekstra. Bukannya senang dengan sikap ibu negera yang hemat dan pandai menabung ini. Abu Bakar malah menyuruh mengembalikan kelebihan itu pada negara. “ Kita telah berjanji untuk mengambil secukupnya dan ini adalah kelebihannya.” Putri kedua Moh. Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta saat itu menempuh kuliah di ​ School of Medical Record Administration ,​ Australia. ...
Postingan terbaru

128 [PEGANGAN HIDUP]

  Saya membuka sebuah majalah lama yang sudah tidak terbit lagi. Majalah Tarbawi edisi 137/th 8 memuat lima nasihat dari Syaqiq al-Balkhi rahimahullah (wafat 810 M) .   Pertama, “Sembahlah Allah swt sebesar kebutuhanmu kepada-Nya.” Adakah sesaat saja diri ini bisa lepas dari kebutuhan atas nikmat yang diberikan oleh-Nya?   Kedua, “Ambillah dunia sekadar memenuhi kebutuhan hidupmu.” Kebutuhan ada titik capainya. Keinginan tak akan pernah berujung walau sudah meraihnya, ia terus ada lagi tanpa henti.   Ketiga, “Berbuatlah dosa sekadar kekuatanmu menanggung siksa-Nya.” Hidup bukan sesukanya, tapi semampu menanggung resikonya. Tak satu pun yang luput dari pertanggungjawaban.   Keempat, “Berbekallah di dunia sebanyak kebutuhanmu di alam kubur.” Lebih baik kelebihan bekal daripada memikul beban yang berlebihan. Tak seorang pun mau berbagi beban saat tak bisa saling melihat urusan orang lain kelak.   Kelima, “Berbuatlah untuk mendapat surga sesuai dengan kedud...

126 [PENGHAMBAAN MANUSIA]

  Pernah ada suatu zaman peradaban manusia, manusia menjadi hamba manusia lain atau manusia satu merasa lebih layak memperbudak manusia lainnya. Hamba dan budak secara fisik. Titik di mana seorang manusia tak punya hak atas dirinya sendiri. Manusia satu secara sah dapat merampas hak asasi yang lainnya. Amerika saja baru resmi menghapus perbudakan manusia setelah amandemen ke-13 konstitusinya pada 18 Desember 1865. Kawasan Eropa, penghambaan atas sesama itu mulai dihapus pada abad ke-15 hingga sepenuhnya perbudakan massal berakhir pada abadke-19. Sedangkan benua Afrika berhasil menghapus sisa-sisa perbudakan budaya saat mereka merdeka dan bergabung menjadi negara modern abad ke-20. Penghambaan manusia atas manusia lain secara fisik tidak ada lagi dalam artian tak ada negara yang masih memberlakukannya. Namun di era modern mereka berkamufalase dalam rupa yang berbeda yaitu: Harta, kuasa dan strata. Harta dapat mengubah mentalitas menusia untuk menumpuk sumber daya yang dapat ...

125 [SENSASI TULISAN TANGAN]

  Setiap kita kenal tulisan, ada tulisan tangan, tulisan cetak atau tulisan digital. Saya yan terlahir sebagai generasi milenial (gen X) mengalami periode dari tulisan tangan hingga menulis digital. SD kelas 1-3 menulisan tangan dengan pensil (mudah dihapus jika salah) dan sempat menulis sambung dengan buku tulis bergaris khusus. Kelas 4 hingga sekarang menulis dengan pulpen. Kelas 5 belajar menulis dengan mesin tik dengan 11 jari (dua jari telunjuk), ini membantu saat membuat laporan praktikum semester 1-3 ketika kuliah. SMA mulai mengenal menulis dengan komputer masih juga dengan 11 jari, ini menjadi modal membuat makalah tugas dan laporan saat mahasiswa. Tahun 2011 saat memiliki HP Blackberry mulai menikmati sensasi baru menulis dengan dua jempol. Bagi mereka yang pernah merasakan menulis tangan dengan pulpen dan kertas ada sensasi yang tak serta merta dikalahkan oleh kecanggihan teknologi AI sekalipun. Ia menjadi identitas dan karakter seseorang yang dengan mudah diterka....

124 [BERBAGI BERTAMBAH BERKALI]

  Ada makhluk hidup   bernama Amoeba. Allah swt. menciptakannya bisa biak secara vegetatif (aseksual) dengan cara membelah diri  (pembelahan biner) . Dalam proses ini, satu sel induk akan membelah menjadi dua sel anakan yang identik dan mandiri. Dari satu membagi diri menjadi dua, dua membelah jadi empat dan seterusnya. Sejenak perhatikan keran air, membukanya akan mengalirkan percikan air. Kian besar di buka, kian deras air keluar. Makin banyak air mengalir, akan jauh radius jelajahnya. Seluas itu juga manusia, tumbuhan dan hewan yang merasakan manfaat darinya. Air tidak hanya sebatas pada titik tetes di bawah keran menebar segarnya kebaikan. Amoeba, tidak berpikir banyak atas takdir membelah dirinya. Ikuti dan nikmati. Keran air juga tidak pusing dengan perhitungan mengalirkan air, apakah akan kembali dengan jumlah dan debit yang sama masuk lagi ke dalam keran itu. Lakukan dan ikhlaskan. Amoeba hanya tau membagi diri akan menambah jumlah dengan dua kali lipat alia...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

  Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu. Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan. Pada tahun 19...