Ada makhluk hidup bernama Amoeba. Allah swt. menciptakannya bisa biak secara vegetatif (aseksual) dengan cara membelah diri (pembelahan biner) . Dalam proses ini, satu sel induk akan membelah menjadi dua sel anakan yang identik dan mandiri. Dari satu membagi diri menjadi dua, dua membelah jadi empat dan seterusnya. Sejenak perhatikan keran air, membukanya akan mengalirkan percikan air. Kian besar di buka, kian deras air keluar. Makin banyak air mengalir, akan jauh radius jelajahnya. Seluas itu juga manusia, tumbuhan dan hewan yang merasakan manfaat darinya. Air tidak hanya sebatas pada titik tetes di bawah keran menebar segarnya kebaikan. Amoeba, tidak berpikir banyak atas takdir membelah dirinya. Ikuti dan nikmati. Keran air juga tidak pusing dengan perhitungan mengalirkan air, apakah akan kembali dengan jumlah dan debit yang sama masuk lagi ke dalam keran itu. Lakukan dan ikhlaskan. Amoeba hanya tau membagi diri akan menambah jumlah dengan dua kali lipat alia...
Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...