“Termasuk khianat adalah mencuri harta umat dan negara walaupun sebuah jarum dan selembar kertas.” (Said Hawwa) Suatu waktu para sahabat berkumpul dan berdiskusi terkait gaji presiden alias khalifahnya. Hasil syuro paripurna mereka dengan rada memaksa agar khalifah Abu Bakar Ash-Siddiq mau menerima uang saku sebesar 6.000 dirham setahun. Jika dikonversi dalam rupiah hari ini, gaji sebulan Abu Bakar yang cuma 500 dirham itu setara dengan Rp4.950 x 500= Rp2.475.000. Dengan gaji yang jauh di bawah UMK Kota Mataram NTB tahun 2026 Rp3.019.015 itu, istri Abu Bakar masih bisa berhemat dan hasil menabungnya dibelikan makanan ekstra. Bukannya senang dengan sikap ibu negera yang hemat dan pandai menabung ini. Abu Bakar malah menyuruh mengembalikan kelebihan itu pada negara. “ Kita telah berjanji untuk mengambil secukupnya dan ini adalah kelebihannya.” Putri kedua Moh. Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta saat itu menempuh kuliah di School of Medical Record Administration , Australia. ...
Saya membuka sebuah majalah lama yang sudah tidak terbit lagi. Majalah Tarbawi edisi 137/th 8 memuat lima nasihat dari Syaqiq al-Balkhi rahimahullah (wafat 810 M) . Pertama, “Sembahlah Allah swt sebesar kebutuhanmu kepada-Nya.” Adakah sesaat saja diri ini bisa lepas dari kebutuhan atas nikmat yang diberikan oleh-Nya? Kedua, “Ambillah dunia sekadar memenuhi kebutuhan hidupmu.” Kebutuhan ada titik capainya. Keinginan tak akan pernah berujung walau sudah meraihnya, ia terus ada lagi tanpa henti. Ketiga, “Berbuatlah dosa sekadar kekuatanmu menanggung siksa-Nya.” Hidup bukan sesukanya, tapi semampu menanggung resikonya. Tak satu pun yang luput dari pertanggungjawaban. Keempat, “Berbekallah di dunia sebanyak kebutuhanmu di alam kubur.” Lebih baik kelebihan bekal daripada memikul beban yang berlebihan. Tak seorang pun mau berbagi beban saat tak bisa saling melihat urusan orang lain kelak. Kelima, “Berbuatlah untuk mendapat surga sesuai dengan kedud...