Langsung ke konten utama

Postingan

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...
Postingan terbaru

136 [SISI KETENANGAN]

  Setelah tak lagi menjadi aktivis mahasiswa kami cuma berjumpa satu kali. Semua sibuk bergelut dengan ruang peran dan pengabdian masing-masing. Tahun 2005-2007 ia mulai mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan RA di kampungnya Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Padahal kala itu ia masih berstatus mahasiswa alias belum wisuda. Kemudian dengan yayasan yang sama untuk dua sekolah sebelumnya, ia mendirikan lagi SMP dan SMK. Tekadnya tak terbendung dengan dorongan tidak boleh setengah-setengah dalam pendidikan anak bangsa. Ketika covid-19 melanda dunia. Ia mulai merintis usaha pemberdayaan bidang pertanian pada lahan di kaki bukit tak jauh dari sekolah yang didirikannya. Salah satu komplek itu budidaya maggot (larva lalat BlackBerry Soldier Fly /BSF). Sampah-sampah makanan dari hotel-hotel sekitar Mandalika di kumpulkan, diolah menjadi kompos yang kemudian digunakan sebagai media tanam/pupuk pada tanaman di taman hotel itu lagi sebagiannya. Ada 7 orang tenaga kerja an...

135 [MANAJER]

  Ngopi "darurat" karena kilat dan buru-buru bareng "Manajer" Muhammad Ardiansyah setelah panca warsa tak bersua. “Culik” sejenak 30 menit saat jam istirahat dari tempatnya pelatihan di sebuah hotel. Perjumpaan kurang lengkap tanpa Direktur Yeyen Febrianto . Saya biasa memanggil beliau dengan "Manajer". Ketika di kampus Universitas Teknologi Sumbawa ia salah satu manajer di bawah Direktorat IT. Pak Direktur Yeyen sering menyapanya 'Manajer' demikian juga kami ketularan saling memanggil dengan posisi struktural kala itu dan kelolosan hingga sekarang. Jangan heran jika sampai sekarang ada yang masih kami sapa dengan Pak Rektor, Bang Warek, Adinda Dekan, Pak Kepala, Dae Ketua dan sejenisnya. Ini bukan “gila jabatan” atau belum bisa move on dari posisi sebelumnya. Sesungguhnya panggilan sebuah bentuk penghormatan, keakraban dan doa kebaikan selain nama yang telah diberikan oleh orang tua. Panggilan yang baik adalah ajaran mulia dalam Islam. “...

134 [POTRET]

  Awal pekan ini saya disuguhi oleh Bung M Herman Yadi sesama aktivis kala mahasiswa dulu satu album foto edisi cetak. Masa itu punya kamera digital sangat langka, masih kamera analog yang pakai rol film itu. Album itu mengobati rasa kehilangan saya atas banyak foto cetak yang rusak karena melekat pada plastik album, CD backup foto-foto yang tergores dan tak terbaca lagi, hingga hardisk eksternal penyimpan arsip juga foto yang tak bisa lagi dibuka karena minta diformat ulang yang artinya akan menghapus habis semua file-file berharga itu. Sebuah potret akan berbicara banyak hal. Raut wajah dan gestur tubuh, kostum dan tempat hingga beragam makna yang tak tampak didepan mata, tapi hadir kembali mewakili makna sebuah peristiwa. Selembar foto juga menjadi saksi otentik yang tak tergantikan. Sehebat apa pun AI membantu mengkonstruksi sebuah gambar dan foto akan hambar nilai rasa dan makna. Cuma kepuasan tidak asli yang sementara dan kamuflase semu. Sebuah foto selain menyimpa...

133 [NASI JUMAT GRATIS LAGI BERKAH]

  Aku dapatkan makan yang gratis sesungguhnya seusai shalat Jumat. Tanpa wadah ompreng atau mobil box pengantarnya. Pengantarnya tak perlu motor dinas dari uang negara. Pembaginya tanpa seragam, kaus kaki hingga sepatu mahal dari dana APBN.   Aku nikmati makan yang gratis yang asli usai Jumatan. Jauh dari aroma basi apalagi ada yang keracunan. Tak perlu ada tim cicip sebelum dikonsumsi. Pastinya bersih dari ulat yang membuat perut mulas.   Aku dikasih sebungkus nasi benar-benar bergizi sepulang Jumat. Seporsi nasi dengan ukuran penuh kalori. Sepotong tahu protein tanpa ragu gizi. Sesendok sambal terong pemicu nafsu makan dan energi.   Aku diberi seporsi nasi bungkus di depan pintu masjid Jumatan. Tidak dari kas masjid atau pajak rakyat. Tanpa ribut jatah 5ribu operasional dan 10ribu isi asli porsi. Di jamin 100% bukan dari hasil uang suap atau bisa dikorupsi.   Aku melihat setiap Jumat nasi gratis dibagi. Mengelolanya tak perlu studi banding kelu...

132 [LEGENDA NASI BALAP ASRAMA UNRAM]

  Nasi balap sebutan yang identik dengan nasi bungkus untuk sarapan yang sering dijajakan keliling dengan menggunakan sepeda di Lombok khususnya Kota Mataram. Nasi bungkus sederhana yang berisi seporsi nasi putih, suwiran daging ayam bumbu pedas, kedelai goreng dan sambal khas. Harganya yang murah membuatnya pilihan utama anak kost. Tak jarang ada toping tambahan tempe orek pedas, mie/bihun goreng, oseng buncis/kacang panjang dan kerupuk. Kemudian berkembang juga berisi ikan tongkol, telur goreng/balado, hati ampela , lindung, paru dan sebagainya. Sosok legenda ini mulai mangkal di Universitas Mataramn (Unram) dengan sepedanya (kemudian motor) sejak 1971. Dan di Asrama Mahasiswa (sekarang asrama putra) sejak gedung tersebut mulai beroperasi. Beliau tak hanya menjadi saksi pergantian rektor dan regenerasi aktivis mahasiswa yang biasanya kebanyakan tinggal di asrama, tapi juga ikut merasakan pahit getirnya mahasiswa menyambung hidup sekadar dengan sebungkus nasi balap yang bis...

131 [PERJUANGAN, PERSAHABATAN, DAN PENGABDIAN]

  Aku kira dua dekade nyala almamater itu telah menguap. Aku sangka pekik dan kepal tangan perjuagan sudah tergerus. Aku duga nurani telah bersekat tembok tebal dengan rakyat. Aku ber su'udzon zaman telah menelan idealisme itu tanpa sebutir debu tersisa. Ternyata itu semua masih ada dan bermetamorfosis ke banyak penjuru peran, perjuangan dan pengabdian. Kami bersua di jalan perjuangan. Iya, benar-benar jalan aspal yang panas itu loh. Almamater masing-masing kampus yang melekat di tubuh yang bersenyawa dengan jeritan rakyat menuntut itu. Momentum bersejarah Pemilu dan Pilpres pertama secara langsung 2004 menjadi panggilan perjuangan untuk dikawal sesuai dengan asas demokrasi dan suara nurani rakyat. Dari sana tumbuh persahabatan dengan kesamaan pandangan apa yang akan terus diperjuangkan. Ketika almamater harus dilipat dalam lemari dan toga wisuda usai diraih. Bukan tanda titik untuk berhenti. Karena perjuangan sesungguhnya adalah sepanjang hayat dengan peran dan metode yan...