Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...
Setelah tak lagi menjadi aktivis mahasiswa kami cuma berjumpa satu kali. Semua sibuk bergelut dengan ruang peran dan pengabdian masing-masing. Tahun 2005-2007 ia mulai mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan RA di kampungnya Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Padahal kala itu ia masih berstatus mahasiswa alias belum wisuda. Kemudian dengan yayasan yang sama untuk dua sekolah sebelumnya, ia mendirikan lagi SMP dan SMK. Tekadnya tak terbendung dengan dorongan tidak boleh setengah-setengah dalam pendidikan anak bangsa. Ketika covid-19 melanda dunia. Ia mulai merintis usaha pemberdayaan bidang pertanian pada lahan di kaki bukit tak jauh dari sekolah yang didirikannya. Salah satu komplek itu budidaya maggot (larva lalat BlackBerry Soldier Fly /BSF). Sampah-sampah makanan dari hotel-hotel sekitar Mandalika di kumpulkan, diolah menjadi kompos yang kemudian digunakan sebagai media tanam/pupuk pada tanaman di taman hotel itu lagi sebagiannya. Ada 7 orang tenaga kerja an...