Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...
Pernah rasakan jadi siswa SMA atau Mahasiswa ketika ditanya mau jadi apa jawabannya selalu berubah-ubah? Artinya hingga titik usia segitu ia belum menemukan potensi dirinya sendiri. Apalagi mau mengembangkannya. Pasca itu kemudian akan berproses dengan sebuah slogan, "Apa saja saya siap kerjakan" alias palugada (apa yang lu butuh, gue ada). Seharusnya seberapa beragam aktivitas, harus punya satu atau dua yang menjadi fokus dan branding diri. Dan hal itu harus diperkuat pondasinya. Agustus 2016 awal perkenalan saya dengan Bang Mahridin Amin . Di sebuah ruko depan Kantor PGRI NTB Gomong Mataram. Ia membuka usaha D' Cafe Pinter dengan menu beragam varian pizza dengan harga miring. Semua kemampuan per-pizza-annya didapat dari pengalaman belajar dibeberapa cheff resto Eropa saat ia bergelut di dunia pelayaran. Perihal perjumpaan dan D' Cafe Pinter ini bisa baca tulisan: https://rehatiwan.blogspot.com/.../tidak-ada-kata-telat... Awalnya saya mengira ia hanya ...