Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...
Pagi ini saya mencicipi sepotong roti dan segelas kopi. Nikmat sekali, Alhamdulillah… Tak perlu sepiring atau sebungkus roti untuk memulai hari. Kita cuma butuh sepotong energi untuk menyapa pagi. Agar fisik mampu meraba pikiran dan memilah dari akal yang akal-akalan serta kelicikan yang menyusup dalam kepintaran. Untuk tubuh kuat berdiri takbiratul ihram dan sujud mengecup bumi bila panggilan-Nya menggema semesta. Agar langkah tak lama berjeda tapak dan absen dari jejak. Karena kaki bukan untuk berdiri selamanya, ia juga harus melangkah, bergerak menjelajah. Tak perlu segelas bahkan satu teko kopi guna menyentak stagnasi . Kita cuma butuh satu sruput yang menyadarkan dan seteguk yang menggerakan. Untuk mengingatkan kembali tujuan awal dari segala yang membuat berani melangkah, tak ragu memilih dan tak gentar akan resikonya. Agar diri tersadar. Rutinitas bukan candu yang melemahkan dan kehilangan kepekaan pada diri dan sekitar. Semua bukan untuk ditonton atau dibia...