Langsung ke konten utama

Postingan

[KOLAK] #KulinerRamadan 02

  “Kolak hidangan takjil atau makanan penutup khas Indonesia yang memiliki berbagai jenis varian. Saat Ramadan menjadi salah satu makanan favorit berbuka puasa diberbagai daerah di nusarantara.”   Kolak, mendengar namanya saja sudah tidak asing. Terbayang aroma santan dan gula merah yang bersatu dengan isian bahan dasarnya, kian menggoda untuk segera menjadi pilihan menu berbuka puasa.   Kolak atau biasa juga disebut kolek adalah makanan penutup (hidangan pencuci mulut) khas Indonesia. Berbahan dasar gula aren atau gula kelapa, santan dan daun pandan ( P. amaryllifolius ) serta pisang, ubi jalar, singkong atau kolang-kaling yang direbus menjadi satu. Selain buah pisang, ada kolak  biji  salak juga kerap ditemui saat bulan Ramadhan. Kolak biji salak terbuat dari ubi jalar yang dibentuk bulat, lalu dicampur dengan tepung tapioka. Rasanya pasti manis, gurih dengan tekstur yang lembut. Disajikan dalam kondisi hangat ataupun dingin dengan menambahkan es batu. Pasti s...
Postingan terbaru

[KURMA] #KulinerRamadan 01

  “Kurma identik dengan Ramadan dan puasa. Padahal menikmatinya tak harus di bulan Ramadan saja dengan kandungan dan manfaatnya yang besar.”   Kuliner hari pertama ini adalah Kurma. Buah yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara itu menjadi semacam hidangan wajib saat berbuka puasa. Baik formal resmi hingga rumahan. Hal tersebut tidak jauh dari alasan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw.   Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi  ra. , dari Nabi  saw. , beliau bersabda, “ Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan .” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi)   Waktu kecil dulu, saya kurang suka dengan buah Kurma, terutama saat berbuka puasa. Selain rasanya yang terlalu manis, keluarga yang berislam biasa-biasa saja belum menempatkan kurma sebagai makanan wajib berbuka. Ia kalah dengan makanan dan minuman berbuka lainnya s...

34 [SEGERA GANTI UTANG PUASA RAMADAN] Jelajah Ramadan

  Bagi mereka yang memiliki uzur, sesuatu hal yang dibenarkan oleh syariat sehingga diberi keringanan untuk tidak berpuasa pada Ramadan sebelumnya. Maka pada bulan Syakban ini menjadi waktu terakhir untuk membayar utang (Qadha’)  puasa tersebut.   Sebagian dari kita biasanya menunda-nunda mengganti puasa karena berbagai kesibukan. Sebaik-baiknya adalah menyegerakan mengganti puasa tersebut sebelum masuk Ramadan berikutnya. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah ra.   mengatakan,   “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . (HR. Bukhari dan Muslim) Ada beberapa golongan yang diberi keringanan atau diharuskan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan dan mesti mengqadha’ puasanya setelah lepas dari uzur , yaitu: Pertama, orang yang sakit dan ...

33 [HIKMAH ADANYA MALAM]

  "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190) Ada siang dan malam diciptakan sedemikian rupa dan memiliki waktu pergantian yang seimbang bukan sebuah kebetulan atau tanpa maksud. Jika hidup tanpa malam, bayangkan bumi akan merasakan panas matahari sepanjang waktu. Manusia akan beraktivitas tanpa istirahat dengan porsi yang dibutuhkan tubuh. Hiruk pikuk kehidupan, tanpa jeda dengan suara bising terus menerus. Malam diciptakan sebagai waktu istirahat bagi semua anggota tubuh setelah seharian beraktivitas fisik. Istirahat dengan suasana gelap dan sunyi akan terasa nyaman dan tenang. Kita juga akan mengetahui kode fisik bila kekurangan istirahat sebagaimana mestinya. Malam waktu kembali ke rumah, bertemu dan bercengkrama dengan keluarga dan orang tercinta. Setelah seharian terpisah dan sibuk dengan kegiatan dan rutinitas masing-masing. Ruang yang seharusnya...

31 [OPTIMALKAN BULAN SYAKBAN] #Jelajah Ramadan

  Selain memiliki kemuliaan sendiri yang perlu kita raih, bulan Syakban waktu menjelang kedatangan bulan suci Ramadan.   Dimana semua persiapan, perbekalan dan pengkondisian diri di optimal agar dapat meneguk sebanyak mungkin pahala Ramadan nanti.   Usamah bin Zaid ra. terkait bulan Syakban pernah menanyakan pada Rasulullah saw. Perihal dilihatnya Rasulullah saw. lebih bersemangat melakukan puasa di bulan Syakban dibandingkan waktu lainnya. Rasulullah saw. pun bersabda,   “ Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan .” (HR. An-Nasa’i)   Dapat dipahami sebelum masuki bulan Ramadan, perlu prakondisi pada bulan sebelumnya. Agar diri baik secara psikologis dan biologis tidak kaget, sudah terbiasa melahan lapar dan dahaga pada siang hari, terlebih mengandalikan ha...

30 [MENULIS DENGAN CARAMU] 30 Hari Bercerita

  Dulu aku menulis seperti di papan tulis. Setiap kesalahan mudah dihapus, bila kurang bagus tak sulit diperbaiki. Usai menyusun satu paragraf  ku baca kembali, kurang pas mudah direvisi. Kemudian ku eja ulang ada kata yang rancu, ku coba lagi meramu. Begitu terus tak pernah tuntas tulisan itu, karena selalu ada rasa tak sempurna, takut salah dan tambahan ini dan itu. Kemudian aku menulis seperti memasukan pasir putih dan potongan karang dalam toples kaca. Ku masukan dulu pasir lalu karang, tapi karang tak cukup ruang dalam toples. Penuh bahkan lebih. Padahal dalam toples masih ada rongga-rongga sisa dimana-mana. Akhirnya ku balik, masukan dahulu karang, lalu pasir akan masuk mengisi melalui sela-sela karang dengan lembutnya hingga tak tersisa dan toples penuh sempurna. Bila kemudian menemukan sebongkah karang atau segenggam pasir lagi, aku tak memiliki ruang menampungnya. Akhirnya penaku menemukan cara merajut ala sarang laba-laba. Membentangkan dulu beberapa benang penyangga...

29 [BERBUNGA TANPA SUARA] 30 Hari Bercerita

  Coba tengok senjenak ke taman kecil halaman rumah, pot yang berjejer di pinggir teras sekolah, atau ujung pucuk pohon-pohon rindang di tepi jalan yang dilalui. Mereka mulai berbunga, tiba-tiba tanpa suara. Tak gaduh dan berisik. Mereka juga tidak mencuri perhatian atau decak kagum sebagaimana bunga-bunga hias yang terpajang pada toko bunga (florist) segar. Bahkan namanya juga anda lupa karena tak sepopuler bunga mahal lainnya. Paling anda akrab dengan buahnya saja yang ranum dan manis. Acuh dengan bunganya. Padahal dari bungalah buah itu berawal. Sejelek apa rupanya, seburam apa warnanya, sekecil apa kelopaknya mereka tetap disebut bunga. Dari mereka kita belajar, tetaplah berbunga meski tanpa pengumuman. Teruslah berkolaborasi dengan lebah dan serangga lainnya bersama bunga, tanpa berisik dan mengusik. Jangan berhenti berbuah dan menebar aroma sebagaimana mestinya. Gaduhlah pada waktunya. Berbungalah setiap saatnya. 29 Januari 2026 #30HBC2629 #30HariBercerita #reHATIwan #reHA...