Pemimpin hendaknya semakin banyak membuka ruang interaksi dengan masyarakat. Tak cukup dengan perjumpaan formalitas dan sarat hirarki birokrasi. Apalagi dengan kemudahan era digital sekarang. Ketika seseorang menjadi pemimpin terutama pejabat, akan banyak perbedaan terutama protokoler yang melekat pada jabatannya. Kadang yang seperti ini malah membuat sekat dengan khalayak. Pemimpin harus merobohkan tembok yang menjadikannya berjarak dengan rakyat dan sebisa mungkin memudahkan mereka memberi masukan serta mengemukakan pendapat. Kadang kritik dari mereka tak bisa menggunakan bahasa ala birokrasi yang relatif santun dan prosedural. Namanya juga rakyat dari beragam latar, pendidikan dan kemampuan bertutur. Di sini perbedaan seseorang ketika menjadi orang biasa dan pejabat/pemimpin. Diperlukan mental yang tak mudah rapuh. Katerbukaan diri yang tidak lagi hanya milik keluarga atau golongannya saja. Kelapangan jiwa menerima masukan dari sudut pandang yang kian banyak. Seharus...
Tahun 2018 atau 2019 saya diminta mengisi materi DM2 KAMMI. Saya mendapat undangan menyampaikan materi sekitar sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Setelah memaparkan materi yang berat itu he... he.... Sebelum sesi tanya jawab, saya bertanya nama, asal kampus dan daerah asal masing-masing peserta. Usai itu sebuah pertanyaan saya lontarkan, "Kapan (tahun atau abad ke berapa) Islam masuk ke Aceh?" pada mahasiswa yang berasal dari Aceh. Hal serupa saya tanyakan pada yang lain, "Kapan Islam masuk ke daerah kalian?". Saat itu ada yang berasal dari Jawa, Kalimantan Utara, Sumbawa dan Bima. Bisa ditebak mereka bingung dan asal menjawab sekenanya saja. Yah, begitulah kondisinya. Sejarah peradaban dunia dan nasional banyak dilahap, saat sejarah daerah asal atau daerah kita berdomisili rada buta. Syukur saat saya SMP mulai ada pelajaran Muatan Lokal. Salah satunya Muatan Lokal Sejarah Bima. Walau masih belum ada referensi, guru memberikan sedikit wawasan terkait s...