Langsung ke konten utama

Postingan

124 [BERBAGI BERTAMBAH BERKALI]

  Ada makhluk hidup   bernama Amoeba. Allah swt. menciptakannya bisa biak secara vegetatif (aseksual) dengan cara membelah diri  (pembelahan biner) . Dalam proses ini, satu sel induk akan membelah menjadi dua sel anakan yang identik dan mandiri. Dari satu membagi diri menjadi dua, dua membelah jadi empat dan seterusnya. Sejenak perhatikan keran air, membukanya akan mengalirkan percikan air. Kian besar di buka, kian deras air keluar. Makin banyak air mengalir, akan jauh radius jelajahnya. Seluas itu juga manusia, tumbuhan dan hewan yang merasakan manfaat darinya. Air tidak hanya sebatas pada titik tetes di bawah keran menebar segarnya kebaikan. Amoeba, tidak berpikir banyak atas takdir membelah dirinya. Ikuti dan nikmati. Keran air juga tidak pusing dengan perhitungan mengalirkan air, apakah akan kembali dengan jumlah dan debit yang sama masuk lagi ke dalam keran itu. Lakukan dan ikhlaskan. Amoeba hanya tau membagi diri akan menambah jumlah dengan dua kali lipat alia...
Postingan terbaru

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

  Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu. Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan. Pada tahun 19...

121 [BUKU KLOTER HAJI]

  “Menulis membuat kita abadi! Satu buku sebelum mati, Bisa! Jadikan salah satu cita-cita hidup.” (Asma Nadia)   Setiap ada yang meminang buku karya saya untuk dibaca, sebisa mungkin menghadirkan rasa sebagaimana pertama kali mengirimkan buku karya pertama saya pada pembaca. Buku pertama bagi para penulis menjadi titik istimewa yang bersejarah dalam hidupnya. Ia telah berani berbicara bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi pada lebih banyak orang. Ia sudah kian bertanggungjawab dari sekadar berucap yang kadang banyak dilupakan orang karena dianggap basa basi, menjadi berkata sependek apa pun, namun abadi untuk dibuka kembali kapanpun kala luput dari ingatan diri. Ia telah menuntaskan rangkaian aksara yang selama ini menjadi miliknya sendiri, menjadi punya orang banyak yang membacanya. Ia telah menyelesaikan ketekunan menyusun halaman demi halaman yang bukan hanya menyita waktu, tapi juga rasa yang mewakili jiwanya, pesan yang mendelegasikan pikirannya. Pagi ini te...

20 Mei 1998 : [14 Menteri Soeharto yang Baru Dilantik 2 Bulan Kompak Mundur]

  Menteri di lingkungan EKUIN (Ekonomi, Keuangan dan Indutri) dibawah Menko Ekuin Gunanjar Kartasasmita hadir memenuhi panggilan Ginandjar dalam pertemuan di Gedung Bappenas. Hanya ada tiga menteri yang tidak bisa hadir, yakni Menteri Lingkungan Hidup Juwono Sudarsono, Menteri Industri dan Perdagangan Bob Hasan, dan Menteri Keuangan (Menkeu) Fuad Bawazier. Karena ketiadaan Menkeu, Ginandjar mengikutsertakan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin. Ada empat belas menteri yang dalam pertemuan di Bappenas itu menolak bergabung dengan Kabinet Reformasi bentukan Soeharto. 14 menteri yang hadir sepakat untuk menarik diri dari Kabinet Pembangunan VII. Mereka adalah: 1. Akbar Tandjung (Menteri Negara Perumahan Rakyat) 2. A.M Hendropriyono (Menteri Transmigrasi & Permukiman Perambah Hutan) 3. Giri Suseno Hadihardjono (Menteri Perhubungan) 4. Haryanto Dhanutirto (Menteri Negara Pangan & Holtikultura) 5. Ginandjar Kartasasmita (Menko Ekuin) 6. Kuntoro Mangkusubroto (Menteri Pertamban...

[Kebahagiaan dan Sebaik Tempat Kembali untuk Orang Beriman dan Beramal Saleh]

  “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. ar-Ra’d: 29) Ayat yang merupakan kabar gembira dari Allah swt Sang Pemilik Segala Makhluk bagi orang-orang yang beriman pada Allah dan RasulNya. Mereka yang mengerjakan amal saleh, menunaikan kewajiban, bersegera memenuhi panggilan dan berbuat kebajikan. Mereka tak hanya melakukan amalan fisik, namun juga amalan tersebut melibatkan hati dan sepenuh jiwa seperti cinta Allah, rasa takut dan pengharapan kepadaNya dan amalan-amalan anggota tubuh seperti shalat dan lainnya. Mereka itulah yang dianugerahi kebahagiaan, pandangan sejuk dan keadaan yang baik. Bahagia yang membuat mereka ridha, keadaan hidup yang baik lagi mulia. Dan pandangan yang selalu membuat tenang dan nyaman dalam kesejukan. Selain itu mereka juga disediakan tempat kembali yang baik yaitu surga nan abadi selama-lamanya dengan segala kenikmatan tiada dua di dalamnya. Sebagian ahli tafsir memaknai “thuuba”...

[SALAM PAGI 196: BERDOALAH UNTUK KEBAHAGIAAN]

  Assalamu’alaikum Pagi “Berdoalah, karena kita butuh hati yang merasa cukup dan merasakan kehadiran-Nya agar kebahagiaan menjadi tujuan, bukan kepuasan yang tak berujung.” Pagi ini berdoalah untuk kebahagiaan. Bukan karena Allah swt. tidak Maha Mengetahui kebutuhan hambanya, tapi karena kita membutuhkan ruang menganggap diri ini hamba dengan kewajiban meminta pada-Nya. Bukan juga karena Allah swt. tidak Maha Segalanya, namun sebab diri ini penuh kekurangan dan kelemahan bahkan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Pagi ini mintalah pada-Nya kebahagiaan. Sejak bangun dan membuka mata bahkan saat tidur tak sadarkan diri sekalipun nikmat-Nya mengalir dalam diri. Tak banyak manusia yang mendapatkannya serta merta merasa bahagia. Cenderung merasa kurang dan memburu keinginan yang tak pernah mengenal batas, bukan kebutuhan. Hingga jauh dari rasa bernama bahagia. Pagi ini mohonlah, agar diri selalu merasa yakin bahwa Allah swt. dekat dan senantiasa mengabulkan doa setiap hambanya. “Apabil...