Setelah tak lagi menjadi aktivis mahasiswa kami cuma berjumpa satu kali. Semua sibuk bergelut dengan ruang peran dan pengabdian masing-masing. Tahun 2005-2007 ia mulai mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan RA di kampungnya Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Padahal kala itu ia masih berstatus mahasiswa alias belum wisuda. Kemudian dengan yayasan yang sama untuk dua sekolah sebelumnya, ia mendirikan lagi SMP dan SMK. Tekadnya tak terbendung dengan dorongan tidak boleh setengah-setengah dalam pendidikan anak bangsa. Ketika covid-19 melanda dunia. Ia mulai merintis usaha pemberdayaan bidang pertanian pada lahan di kaki bukit tak jauh dari sekolah yang didirikannya. Salah satu komplek itu budidaya maggot (larva lalat BlackBerry Soldier Fly /BSF). Sampah-sampah makanan dari hotel-hotel sekitar Mandalika di kumpulkan, diolah menjadi kompos yang kemudian digunakan sebagai media tanam/pupuk pada tanaman di taman hotel itu lagi sebagiannya. Ada 7 orang tenaga kerja an...
Ngopi "darurat" karena kilat dan buru-buru bareng "Manajer" Muhammad Ardiansyah setelah panca warsa tak bersua. “Culik” sejenak 30 menit saat jam istirahat dari tempatnya pelatihan di sebuah hotel. Perjumpaan kurang lengkap tanpa Direktur Yeyen Febrianto . Saya biasa memanggil beliau dengan "Manajer". Ketika di kampus Universitas Teknologi Sumbawa ia salah satu manajer di bawah Direktorat IT. Pak Direktur Yeyen sering menyapanya 'Manajer' demikian juga kami ketularan saling memanggil dengan posisi struktural kala itu dan kelolosan hingga sekarang. Jangan heran jika sampai sekarang ada yang masih kami sapa dengan Pak Rektor, Bang Warek, Adinda Dekan, Pak Kepala, Dae Ketua dan sejenisnya. Ini bukan “gila jabatan” atau belum bisa move on dari posisi sebelumnya. Sesungguhnya panggilan sebuah bentuk penghormatan, keakraban dan doa kebaikan selain nama yang telah diberikan oleh orang tua. Panggilan yang baik adalah ajaran mulia dalam Islam. “...