Langsung ke konten utama

31 [OPTIMALKAN BULAN SYAKBAN] #Jelajah Ramadan

 


Selain memiliki kemuliaan sendiri yang perlu kita raih, bulan Syakban waktu menjelang kedatangan bulan suci Ramadan.
 
Dimana semua persiapan, perbekalan dan pengkondisian diri di optimal agar dapat meneguk sebanyak mungkin pahala Ramadan nanti.
 
Usamah bin Zaid ra. terkait bulan Syakban pernah menanyakan pada Rasulullah saw. Perihal dilihatnya Rasulullah saw. lebih bersemangat melakukan puasa di bulan Syakban dibandingkan waktu lainnya. Rasulullah saw. pun bersabda,
 
Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i)
 
Dapat dipahami sebelum masuki bulan Ramadan, perlu prakondisi pada bulan sebelumnya. Agar diri baik secara psikologis dan biologis tidak kaget, sudah terbiasa melahan lapar dan dahaga pada siang hari, terlebih mengandalikan hawa nafsu.
 
Sebagaimana layaknya sebuah mesin kendaraan yang akan digunakan untuk perjalanan jauh selama 30 hari lamanya. Tentu  perlu dilakukan pengecekan dan dipanaskan terlebih dahulu. Agar tidak terjadi sesuatu yang mengganggu kelancaran perjalanan.
 
Seperti seorang atlet yang akan berlari jauh 30 Km. Ia harus sering melakukan latihan berkali-kali dan pemanasan sebelum memulainya. Hal tersebut agar menghindari cedera otot dan kondisi tubuh sudah terbiasa hingga optimal saat perlombaan.
 
Dari Aisyah ra, “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari, dan Muslim).
 
Bila seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum Ramadan, tentu akan lebih kuat dan bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadan.
 
Selain persiapan puasa yang dioptimalkan. Ibadah selama mengarungi puasa perlu dibiasakan , baik ibadah pada siang maupun malam hari. Seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, istighfar, shalawat, shalat malam dan amal-amal sunnah lainnya.
 
Abu Bakr Al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Syakban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadan saatnya menuai hasil.”
 
Bila ingin meraih hasil optimal pada bulan Ramadan, siapkan diri lebih dini. Jauh-jauh hari, bahkan sejak dua bulan sebelumnya.
 
31 Januari 2026
#JelajahRamadan #MenujuRamadan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #MariBerbagiMakna @rehatiwan @rehatiwanInspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

34 [SEGERA GANTI UTANG PUASA RAMADAN] Jelajah Ramadan

  Bagi mereka yang memiliki uzur, sesuatu hal yang dibenarkan oleh syariat sehingga diberi keringanan untuk tidak berpuasa pada Ramadan sebelumnya. Maka pada bulan Syakban ini menjadi waktu terakhir untuk membayar utang (Qadha’)  puasa tersebut.   Sebagian dari kita biasanya menunda-nunda mengganti puasa karena berbagai kesibukan. Sebaik-baiknya adalah menyegerakan mengganti puasa tersebut sebelum masuk Ramadan berikutnya. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah ra.   mengatakan,   “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . (HR. Bukhari dan Muslim) Ada beberapa golongan yang diberi keringanan atau diharuskan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan dan mesti mengqadha’ puasanya setelah lepas dari uzur , yaitu: Pertama, orang yang sakit dan ...

30 [MENULIS DENGAN CARAMU] 30 Hari Bercerita

  Dulu aku menulis seperti di papan tulis. Setiap kesalahan mudah dihapus, bila kurang bagus tak sulit diperbaiki. Usai menyusun satu paragraf  ku baca kembali, kurang pas mudah direvisi. Kemudian ku eja ulang ada kata yang rancu, ku coba lagi meramu. Begitu terus tak pernah tuntas tulisan itu, karena selalu ada rasa tak sempurna, takut salah dan tambahan ini dan itu. Kemudian aku menulis seperti memasukan pasir putih dan potongan karang dalam toples kaca. Ku masukan dulu pasir lalu karang, tapi karang tak cukup ruang dalam toples. Penuh bahkan lebih. Padahal dalam toples masih ada rongga-rongga sisa dimana-mana. Akhirnya ku balik, masukan dahulu karang, lalu pasir akan masuk mengisi melalui sela-sela karang dengan lembutnya hingga tak tersisa dan toples penuh sempurna. Bila kemudian menemukan sebongkah karang atau segenggam pasir lagi, aku tak memiliki ruang menampungnya. Akhirnya penaku menemukan cara merajut ala sarang laba-laba. Membentangkan dulu beberapa benang penyangga...