Langsung ke konten utama

28 [LAPIS-LAPIS CINTA DARI BUKU] 30 Hari Bercerita

 


Awal niatnya sederhana, cuma ingin punya buku yang ditulis sendiri karena selama ini sudah banyak baca buku. Suatu ketika penjaga toko buku langganan saya entah bercanda atau serius berucap, "Beli buku terus, kapan terbitin tulisan sendiri hasil banyak buku yang di baca?".

Dalam hati saya rada kesal, "Ini orang kok tidak melihat dirinya sendiri, hidup bersama ribuan buku setiap hari bahkan dengan buku terbaru juga belum-belum terbitin karya."

Sepuluh tahun silam, tahun 2016. Terbit buku pertama saya. Dalam proses akhir terbit dan mau cetak terpikir. Jika hanya sebuah buku dan bermanfaat sekadar di baca saja, lalu apa bedanya dengan yang lain. Walau buku "receh" bukan best seller, tapi harus punya nilai lebih bagi penulis, pembeli, pembaca dan semua yang terlibat. Maka lahirlah label "10 % dari penjualan buku ini untuk dakwah dan kemanusiaan."

Label biru 10% itu hingga buku terakhir masih menemani di sampul belakang. Walau tidak semua perhatikan dan mempedulikannya. Atau sekadar mengkritisi seperti menanggapi kasir ritel saat bertanya pada uang kembalian kita, "Apakah mau didonasikan?"

Dari 10% yang setara dengan setengah dari harga sebatang cokelat SilverQueen itu sudah tersebar ratusan, bahkan lebih dari seribu buku Iqro bagi para santri TPQ terpencil yang belajar membaca Al-Qur'an di NTB hingga NTT. Di Pulau Ende, NTT harga satu buku Iqro lebih mahal dua kali lipat dibandingkan dengan Bima, NTB. Bayangkan harganya di Indonesia yang lebih timur lagi.

Dari kegemaran dan kecintaan membaca serta menulis, kita bisa menumbuhkan dan menjalarkan makna cinta lainnya. Berhenti menilai kebaikan dari ukuran, mulailah melipatgandakannya manfaatnya berlapis-lapis. Karena itulah makna cinta yang sesungguhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...