Awal niatnya sederhana, cuma ingin punya buku yang
ditulis sendiri karena selama ini sudah banyak baca buku. Suatu ketika penjaga
toko buku langganan saya entah bercanda atau serius berucap, "Beli buku
terus, kapan terbitin tulisan sendiri hasil banyak buku yang di baca?".
Dalam hati saya rada kesal, "Ini orang kok tidak melihat dirinya sendiri, hidup bersama ribuan buku setiap hari bahkan dengan buku terbaru juga belum-belum terbitin karya."
Sepuluh tahun silam, tahun 2016. Terbit buku pertama saya. Dalam proses akhir terbit dan mau cetak terpikir. Jika hanya sebuah buku dan bermanfaat sekadar di baca saja, lalu apa bedanya dengan yang lain. Walau buku "receh" bukan best seller, tapi harus punya nilai lebih bagi penulis, pembeli, pembaca dan semua yang terlibat. Maka lahirlah label "10 % dari penjualan buku ini untuk dakwah dan kemanusiaan."
Label biru 10% itu hingga buku terakhir masih menemani di sampul belakang. Walau tidak semua perhatikan dan mempedulikannya. Atau sekadar mengkritisi seperti menanggapi kasir ritel saat bertanya pada uang kembalian kita, "Apakah mau didonasikan?"
Dari 10% yang setara dengan setengah dari harga sebatang cokelat SilverQueen itu sudah tersebar ratusan, bahkan lebih dari seribu buku Iqro bagi para santri TPQ terpencil yang belajar membaca Al-Qur'an di NTB hingga NTT. Di Pulau Ende, NTT harga satu buku Iqro lebih mahal dua kali lipat dibandingkan dengan Bima, NTB. Bayangkan harganya di Indonesia yang lebih timur lagi.
Dari kegemaran dan kecintaan membaca serta menulis, kita bisa menumbuhkan dan menjalarkan makna cinta lainnya. Berhenti menilai kebaikan dari ukuran, mulailah melipatgandakannya manfaatnya berlapis-lapis. Karena itulah makna cinta yang sesungguhnya.
28 Januari 2026
#30HBC2628 #30HariBercerita #30HBC26Memberi #BanyakMaknaCinta #reHATIwan #reHATIwanInspiring #MariBerbagiMakna #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring @silverqueenid
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar