Dulu saat tahun 90an perjalanan darat dari Jakarta
ke Bima, NTB menggunakan Bis memakan waktu tiga malam dua hari.
Satu-satunya cara agar tetap segar dan harum karena tidak mandi dengan mengusap kolonyet. Tulisan asingnya colognette, tisu basah isi satu seperti tisu air galon zaman sekarang tapi aromanya wangi menyengat.
Tidak ada kolonyet yang beroma kalem, semua menyengat. Aroma menyengat yang kemudian bercampur keringat itu malah membuat saya pusing dan mabuk.
=====
Beberapa waktu yang lalu ada teman saya pada sudut
teras rumahnya menjadi sasaran kucing liar buang air besar. Baunya kemana-mana.
Kemudian untuk menguranginya ditaburi bubuk kopi dan percikan parfum. Aromanya
bukan hilang malah tidak karuan, tidak enak.
=====
=====
Dari dua peristiwa di atas memiliki kesamaan.
Menghilangkan kotoran atau aroma tak sedap tidak dengan membersihkan/membuang
sumbernya, tapi memberinya pewangi atau parfum. Tentu tidak menyelesaikan
masalah. Malah hanya membuat kamuflase sementara. Ujung-ujungnya tetap tidak
permanen.
Dalam hidup juga demikian. Kenapa membersihkan jiwa lebih dahulu dan utama baru mengisinya?. Bila ia bersih, akan bisa membedakan dan menolak kotoran yang masuk. Bila ia suci, ia akan menjaga dari perilaku yang akan menodainya.
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syam: 9)
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat." (QS. Al-A'la: 14-15)
25 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2625 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar