Langsung ke konten utama

25 [BERSIH DAN WANGI] 30 Hari Bercerita

 


Dulu saat tahun 90an perjalanan darat dari Jakarta ke Bima, NTB menggunakan Bis memakan waktu tiga malam dua hari.

Satu-satunya cara agar tetap segar dan harum karena tidak mandi dengan mengusap kolonyet. Tulisan asingnya colognette, tisu basah isi satu seperti tisu air galon zaman sekarang tapi aromanya wangi menyengat.

Tidak ada kolonyet yang beroma kalem, semua menyengat. Aroma menyengat yang kemudian bercampur keringat itu malah membuat saya pusing dan mabuk.
=====

Beberapa waktu yang lalu ada teman saya pada sudut teras rumahnya menjadi sasaran kucing liar buang air besar. Baunya kemana-mana. Kemudian untuk menguranginya ditaburi bubuk kopi dan percikan parfum. Aromanya bukan hilang malah tidak karuan, tidak enak.
=====

Dari dua peristiwa di atas memiliki kesamaan. Menghilangkan kotoran atau aroma tak sedap tidak dengan membersihkan/membuang sumbernya, tapi memberinya pewangi atau parfum. Tentu tidak menyelesaikan masalah. Malah hanya membuat kamuflase sementara. Ujung-ujungnya tetap tidak permanen.

Dalam hidup juga demikian. Kenapa membersihkan jiwa lebih dahulu dan utama baru mengisinya?. Bila ia bersih, akan bisa membedakan dan menolak kotoran yang masuk. Bila ia suci, ia akan menjaga dari perilaku yang akan menodainya.

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syam: 9)

Bagaimana cara membersihkan dan menyucikan jiwa? Di antaranya dengan mengingat Allah, shalat, dan memohon ampun (beristighfar)

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat." (QS. Al-A'la: 14-15)

Suatu hari Imam Ibnul Jauzi ditanya oleh seseorang, "Manakah yang lebih baik bagiku, bertasbih atau beristighfar?". Lalu beliau menjawab dengan sangat bijak, " Pakaian yang kotor lebih membutuhkan sabun untuk membersihkan noda daripada minyak wangi."

25 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2625 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[HAPPY MONDAY]

  Setelah libur akhir pekan biasanya membuat sebagian diantara kita enggan untuk bertemu dengan hari Senin (MONDAY), yang artinya akan bertemu kembali dengan rutinitas, kerja, kuliah, sekolah, tugas dan sebagainya. Tak heran bila sebagian menyebutnya I Hate Monday. Bagaimana caranya agar mengahadapi hari Senin dengan senyuman dan langkah bahagia? Bertemu Senin tentunya kita memiliki persiapan yang lebih panjang dibanding hari lainnya karena ada Weekend sebelumnya. Siapkan rencana dengan matang, buat jadwal kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jadwal akan membuat pekerjaan lebih sistematis dan pemenuhan target sesuai dengan prioritas. Hal ini juga dapat mengurangi beban dan tekanan kerja. Penuhi hati dengan optimisme, gimana? Tanamkan bahwa hari Senin adalah kembalinya kita bertemu dengan orang-orang yg kita cintai dan menyayangi kita di tempat kerja dan lainnya. Ia adalah lembaran baru diawal pekan sehingga harus memiliki pesona warna dan rasa yang dapat bertahan selama sepekan. Stu...

[TEH HANGAT] #KulinerRamadan 04

  “Teh berasal dari Cina. Sangat nikmat diminum ketika hangat atau dingin. Minum teh tawar (tanpa gula) secara teratur dapat menurunkan kolestrol dan meredakan stres.”   Saat itu kelas 2 SMP sekolah kelas siang (masuk siang, pulang sore maksudnya). Sekolah dikampung saat musim kemarau dengan bersepeda, di Bima lagi yang terkenal ber matahari tiga saking panasnya.    Bulan sudah memasuki bulan Dzulhijjah, rumah panggung kami sepi, saya sendiri. Orang tua sedang perjalanan ke tanah suci dan adik menginap di rumah kakek, di desa tetangga. Tibalah hari Arafah, 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Iduladha). Seperti biasa berkesempatan puasa sunah Arafah. Terasa berat, berangkat sekolah siang bolong ditengah terik, pulang sore dengan sisa tenaga. Menunggu Azan Magrib terasa waktu lambat, perut keroncongan. Makanan berbuka tidak ada yang dingin. Maklum di desa tidak ada yang jual es batu, saat itu satu desa bisa di hitung dengan jari yang punya lemari es. Saya putuskan berbaring u...

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

  Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...