Langsung ke konten utama

27 [MENGAHADAPI PEMBEBANAN] 30 Hari Bercerita

 


Suatu waktu kita dihadapkan dengan cobaan yang tidak pernah terbayangkan. Bahkan tak pernah masuk dalam radar tantangan dan hambatan.

Suatu saat kita bertemu dengan kegagalan yang meruntuhkan semua capaian. Seketika apa yang telah diperjuangkan begitu lama berantakan.

Ada waktunya dalam kondisi terbatas malah mendapatkan tanggungjawab yang lebih lagi. Pada kondisi normal saja terasa punggung mau patah.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Kadang kacamata yang kita gunakan cuma mampu memandang hingga belasan meter dihadapan. Padahal cobaan, kegagalan dan keterbatasan yang menjumpai ia punya kompensasi jangka panjang pada perjalanan hidup kita.

Bisa berupa pengalaman baru, cara bertahan lebih lama, mengembangkan diri lebih jauh, berpikir mencari solusi lebih dari biasa hingga mengenal diri lebih dalam bahwa selama ini ada potensi yang belum diberdayakan.

Perihal pembebanan yang Allah SWT berikan, Dr. Aidh Al-Qarni mengatakan, "Tidak ada pembebanan di atas kesanggupan. Pembebanan itu selalu disesuaikan dengan kemampuan yang sanggup dipikul oleh seseorang, sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan dengan batas kekuatannya."

Lalu kenapa selama ini merasa putus asa, menyerah bahkan ingin mengakhiri hidup saja?

Kita masih tidak percaya bahwa Allah SWT Maha Paling Tau terhadap kemampuan maksimal diri kita. Yang selama ini kita hanya bermain pada zona nyaman di bawahnya saja.

27 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2627  #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

34 [SEGERA GANTI UTANG PUASA RAMADAN] Jelajah Ramadan

  Bagi mereka yang memiliki uzur, sesuatu hal yang dibenarkan oleh syariat sehingga diberi keringanan untuk tidak berpuasa pada Ramadan sebelumnya. Maka pada bulan Syakban ini menjadi waktu terakhir untuk membayar utang (Qadha’)  puasa tersebut.   Sebagian dari kita biasanya menunda-nunda mengganti puasa karena berbagai kesibukan. Sebaik-baiknya adalah menyegerakan mengganti puasa tersebut sebelum masuk Ramadan berikutnya. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah ra.   mengatakan,   “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . (HR. Bukhari dan Muslim) Ada beberapa golongan yang diberi keringanan atau diharuskan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan dan mesti mengqadha’ puasanya setelah lepas dari uzur , yaitu: Pertama, orang yang sakit dan ...

31 [OPTIMALKAN BULAN SYAKBAN] #Jelajah Ramadan

  Selain memiliki kemuliaan sendiri yang perlu kita raih, bulan Syakban waktu menjelang kedatangan bulan suci Ramadan.   Dimana semua persiapan, perbekalan dan pengkondisian diri di optimal agar dapat meneguk sebanyak mungkin pahala Ramadan nanti.   Usamah bin Zaid ra. terkait bulan Syakban pernah menanyakan pada Rasulullah saw. Perihal dilihatnya Rasulullah saw. lebih bersemangat melakukan puasa di bulan Syakban dibandingkan waktu lainnya. Rasulullah saw. pun bersabda,   “ Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan .” (HR. An-Nasa’i)   Dapat dipahami sebelum masuki bulan Ramadan, perlu prakondisi pada bulan sebelumnya. Agar diri baik secara psikologis dan biologis tidak kaget, sudah terbiasa melahan lapar dan dahaga pada siang hari, terlebih mengandalikan ha...

30 [MENULIS DENGAN CARAMU] 30 Hari Bercerita

  Dulu aku menulis seperti di papan tulis. Setiap kesalahan mudah dihapus, bila kurang bagus tak sulit diperbaiki. Usai menyusun satu paragraf  ku baca kembali, kurang pas mudah direvisi. Kemudian ku eja ulang ada kata yang rancu, ku coba lagi meramu. Begitu terus tak pernah tuntas tulisan itu, karena selalu ada rasa tak sempurna, takut salah dan tambahan ini dan itu. Kemudian aku menulis seperti memasukan pasir putih dan potongan karang dalam toples kaca. Ku masukan dulu pasir lalu karang, tapi karang tak cukup ruang dalam toples. Penuh bahkan lebih. Padahal dalam toples masih ada rongga-rongga sisa dimana-mana. Akhirnya ku balik, masukan dahulu karang, lalu pasir akan masuk mengisi melalui sela-sela karang dengan lembutnya hingga tak tersisa dan toples penuh sempurna. Bila kemudian menemukan sebongkah karang atau segenggam pasir lagi, aku tak memiliki ruang menampungnya. Akhirnya penaku menemukan cara merajut ala sarang laba-laba. Membentangkan dulu beberapa benang penyangga...