Lima tahun silam berjumpa dengan mantan Presiden
Mahasiswa BEM Universitas Mataram di tempatnya mengabdi. Di sebuah sekolah
pinggiran Kota Bima, NTB. Pak Guru M
Fauzi Muhajir meminta saya membaca sebuah naskah buku
yang sudah rampung ia ketik. Senang bisa baca lebih dulu, sebelum khalayak
menikmati goresannya.
Pekan lalu, saya bersua dengan beliau. Mumpung ada
waktu, sekalian mau meraba dan membaca kembali buku "Study, Dream and
Future" karya pertama beliau versi cetakan penerbit. Sebagai barter saya
bawakan buku, "Pemuda Inspirasi Wajah Negeri" yang juga sama-sama
terbit akhir tahun 2025 yang lalu.
Ada buku yang sudah siap naskah bertahun-tahun
lamanya, tapi tidak terbit-terbit (apalagi yang filenya cuma di kepala). Ada
juga buku yang sudah mau diajukan ISBN, namun si penulis selalu merevisi tiap
baca kembali hingga sekarang masih berstatus revisi. Rasanya mengejar sempurna
tak akan ada garis finis nya. Toh ada ruang edisi revisi yang terbuka agar
kemudian ada perbaikan bila telah terbit.
Ada buku sudah terbit dan selesai cetak. Acara
peluncuran dan bedah bukunya tinggal sehari. Pembedah sudah siap dan undangan
resmi dan poster media sosial sudah kemana-mana. Eh dibatalkan seketika karena
ditemukan indikasi kuat buku tersebut hasil jiplakan alias plagiasi.
Begitulah buku-buku yang kita lihat duduk manis di
rak toko. Atau sudah di hadapan kita untuk di baca. Mereka sudah punya
takdirnya sendiri kapan harus tuntas menulisnya, bagaimana cara mendatangi
pembaca dan waktu bagaimana bercengkrama dengan penikmatnya.
Selamat Pak guru Fauzi. Jangan pernah puas dengan
buku pertama, karena buku selanjutnya buah dari kesempurnaan dari buku
sebelumnya.
Foto
26 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2626 #rehatiwaninspiring
#rehatiwan
#IWANwahyudi
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar