Langsung ke konten utama

Postingan

13 [KENAPA MASIH MENULIS?] 30 Hari Bercerita

  Mengapa harus menulis setiap hari? Untuk membiasakan diri. Bila sudah biasa, maka hilang rasa terpaksa, sirna rasa malas. Seperti halnya Anda makan, karena sudah terbiasa dan butuh saat lapar, tak pernah ada orang yang terpaksa atau malas makan. Kecuali terpaksa atau malas cari makan.   Kenapa harus menulis apa saja? Karena tidak setiap waktu dan hari menemukan satu jenis ide atau objek menulis. Jika tentang hal yang sama terus menerus, akan membosankan bagi penulis atau pembaca. Hidup ini terlalu luas untuk mengunci diri. Ayat-ayat semesta ini sangat berlimpah untuk direnungkan dan dibagi pesan-pesannya.   Kok mau ikut tantangan menulis 30 hari? Agar tidak merasa sendiri dan terasing. Ternyata di luar sana banyak yang juga sama-sama sedang belajar merangkai kata, tertatih menyusun kalimat dengan sederhana, terseok mengungkap rasa dan berani bersuara tanpa harus mengeluarkan bunyi yang bising. Mereka sedang berlomba sebanyak mungkin mengeluarkan tulisan-tulisan jeleknya...

12 [DEFINISI BAHAGIA KITA BERBEDA] 30 Hari Bercerita

  Pekan pertama awal tahun 2026, Kompas mengeluarkan berita yang “membagongkan” (membingungkan). Dua berita perihal bahagia yang saling bertentangan, bahkan saling mendustakan. Presiden Prabowo dengan sumbernya menyebutkan Indonesia negara PALING BAHAGIA. Sedang berita satunya lagi Negara PALING BAHAGIA di dunia, Indonesia ditempatkan pada urutan ke-83.   Kita tidak sedang menunjuk siapa yang salah atau menuding siapa yang berdusta. Bisa jadi keduanya benar dari sumber yang berbeda, menggunakan indikator yang tidak sama. Saya tidak heran jika data di negara ini banyak yang tidak sama, padahal dengan obyek yang sama (program dan proyeknya beda-beda anggaran). Lah untuk urusan sedunia aja dari berita di atas sangat kontras. Institusi level dunia saja tidak satu kata, apa karena yang order berbeda ya?   Jika ada 10 orang. 9 orang kelaparan dan sisanya memiliki penghasilan 1 triliun. Maka jika dihitung rata-rata pendapatan 10 orang itu 100 miliar bukan? Mustahil ada yang misk...

11 [BELAJAR DARI DURIAN] 30 Hari Bercerita

  Saat musim durian begini, ya enaknya belah duren. Walau bukan penikmat “gila” durian, setidak cicip sedikit setiap musim bisa menjadi mengobat rindu tahunan terhadap si buah berduri ini. Tidak sedikit juga orang yang kurang suka bahkan anti terhadap buah pemiliki aroma khas menyegat ini. Alasan mereka, yah karena aromanya itu, ada yang sampai muntah saking tak bisa sedikit saja mencium bau nya.   Nah, kemarin saya coba ajak seorang teman untuk berburu durian. Kita tak cari yang premium banget dan varian level atas. Dapatlah Durian mentega. Sambil disiapkan, kami disuguhi kopi ala kampung. Saya minta tanpa gula.   Dari buah yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya  Kalimantan, Indonesia, dan Semenanjung Malaysia ini kita bisa belajar banyak hal. Pertama, toleransi atas perbedaan. Tidak semua orang suka durian dan aroma menyengatnya, walau kita menikmati buah itu. Tidak semua orang bisa disamakan dengan yang kita sukai. Perbedaan untuk dihargai bukan dipertentangka...

10 [CERMIN SUMATRA] 30 Hari Bercerita

  Akhir November 2025, semua mata tertuju pada Sumatra. 25-30 November banjir dan longsor menimpa bagian utara bumi Andalas, di Barat Indonesia. Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Dalam setiap musibah selalu seperti ada dua sisi keping uang yang harus disimak bersama. Daya tahan yang sedang diuji oleh Sang Maha Pencipta, dan sentilan atas ketidakwajaran perilaku menyimpang. Jangan membadingkan hanya 3 Provinsi dari 38 Provinsi di Indonesia, itu sesat dan menyesatkan empati.   Ada 52 Kabupaten/Kota yang berjuang keluar dari isolasi dampak bencana. Suaranya mungkin terhambat sinyal dan akses jalan. Rintihan dukanya sejak menit pertama telah membahana ke seluruh nusantara. Berbeda-beda, tapi tetap satu Sumatra yang kami ulurkan tangan. Jangan bandingkan jumlah Kabupaten/Kota itu dengan 462 Kabupaten/Kota lainnya. Itu hanya ucapan picik memisahkan Republik dari narasi Negara Kesatuan nya.   Hingga 9 Januari 2026 tercatat 1.182 jiwa meninggal dan 145 jiwa tak tau di mana r...

09 [INSPIRASI PANGERAN DIPONEGORO] 30 Hari Bercerita

  Pagi itu jam menunjukan pukul 06.30 waktu Makassar, tempat Benteng Fort Rotterdam berdiri kokoh. Tanggal 8 Januari 1885, 171 tahun silam. Salah satu sosok bersorban selain Tuanku Imam Bonjol, yang paling saya ingat fotonya terpajang hampir di tiap kelas saat sekolah dulu itu menghembuskan nafas terakhir dalam status tahanan penjajah Belanda. Sebelumnya ia diasingkan ke Benteng Fort Nieuw Amsterdam , Manado, Sulawesi Utara. Nama aslinya ketika lahir di Yogyakarta 11 November 1785 Raden Mas Mustahar. Sang kakek Sultan Hamengkubuwono II kemudian menggantinya menjadi Raden Mas Ontowiryo. Sang pangeran kemudian diangkat oleh rakyat dengan gelar Soeltan Abdoel Hamid Eroetjakra Moekminin, Sjaijjidin Panatagama, Chalifah Rasoeloellah ing Tanah Djawa . Dalam masa pengasingan ia menulis Babad Diponegoro atau Babad Dipanagara. Babad Diponegoro merupakan naskah kuno yang berisi riwayat hidup dari  Pangeran Diponegoro . Disebutkan pula naskah ini merupakan biografi pertama dala...

08 [TERIMA KASIH TRUMP] 30 Hari Bercerita

  Trump (T): Hai bro lagi sruput kopi apa? Nikmat banget kayaknya. Aku (A): Americano dong. T: Parah, di negeri sendiri aja minum kopi Amerika. Gaya selangit, tapi pengekor. A: Ini kopi Tambora Bos, bukan kopi impor. T: Apa pun kopinya, tetap kalian menyebut Americano, negera ku. Kenapa tidak meracik sendiri dan menyebutnya Indonesiano? Mati gaya ya kalau sebut istilah lokal. A: Oke…oke… ngaku kalah. Cerutu Bos pasti dari tembakau Lombok ya? Aromanya tak asing dihidung saya. T: Tembakaunya boleh ditanam di Lombok, tapi jenisnya Virginia. Tau Virginia itu dimana? Itu di Amerika.  Jenis tembakau ini ( Nicotiana tabacum ) dikembangkan dari tembakau Amerika Selatan yang dibawa oleh John Rolfe pada tahun 1612. Diperkenalkan ke Indonesia oleh PT British American Tobacco Ltd. (BAT) sekitar tahun 1928-1930-an. Banyak ditanam di Lombok. A: Ampuun…deh. Terima kasih atas obrolannya Mr. Trump. ===== Dialog imajiner diatas bagi saya punya pesan yang mendalam hingga harus mengucapkan terima...

07 [KATA ETALASE JIWA] 30 Hari Bercerita

  Setiap hari meluncur ribuan bahkan belasan ribu kata dari bibir seseorang. Entah pada forum resmi, candaan renyah, emosi yang membakar, sumpah serapah, hingga majelis gibah di pinggir jalan. Apalagi ketika kaget a tau terkejut dengan sesuatu yang luar biasa atau tak terduga, Banyak kata spontan yang terceletuk begitu saja. Sebut saja kata kekinian yang menjadi kosakata baru bermedia sosial, astaga, OMG ( Oh My God ), buset, ya ampun, anjay, wow, anjir, ya amplop dan sebagainya (ya amplop ini juga baru saya tau pernah menjadi trend). Atau kata “tradisional” ala ketimuran kita, ya Tuhan, astaghfirullah , masya Allah , subhanallah dan sejenisnya. Padahal pilihan kata saat itu tidak serta merta keluar begitu saja. Ia akumulasi dari kosakata yang pernah di dengar, daya sering sebuah kata digunakan dalam percakapan hingga kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Mereka terekam dalam memori dan mengkristal menjadi ucapan yang mewakili jiwa. Tak berlebihan jika kata ibarat etalase dan ji...