Trump (T): Hai bro lagi sruput kopi apa? Nikmat
banget kayaknya.
Aku (A): Americano dong.
T: Parah, di negeri sendiri aja minum kopi Amerika. Gaya selangit, tapi pengekor.
A: Ini kopi Tambora Bos, bukan kopi impor.
T: Apa pun kopinya, tetap kalian menyebut Americano, negera ku. Kenapa tidak meracik sendiri dan menyebutnya Indonesiano? Mati gaya ya kalau sebut istilah lokal.
A: Oke…oke… ngaku kalah. Cerutu Bos pasti dari tembakau Lombok ya? Aromanya tak asing dihidung saya.
T: Tembakaunya boleh ditanam di Lombok, tapi jenisnya Virginia. Tau Virginia itu dimana? Itu di Amerika. Jenis tembakau ini (Nicotiana tabacum) dikembangkan dari tembakau Amerika Selatan yang dibawa oleh John Rolfe pada tahun 1612. Diperkenalkan ke Indonesia oleh PT British American Tobacco Ltd. (BAT) sekitar tahun 1928-1930-an. Banyak ditanam di Lombok.
A: Ampuun…deh. Terima kasih atas obrolannya Mr. Trump.
=====
Dialog imajiner diatas bagi saya punya pesan yang
mendalam hingga harus mengucapkan terima kasih. Pertama, negara kita mungkin tidak langsung di invasi secara fisik,
contoh terbaru seperti dialami Venezuela. Tapi, hal berbau Amerika sudah
mendalam merasuki sendi kehidupan kita. Tanpa sadar, halus banget.
Kedua, aroma Amerika mungkin membuat kita bangga dan percaya diri. Namun, ada banyak jati diri yang telah hilang di tinggalkan jauh-jauh. Hingga kita sendiri sudah tak mengenal aslinya, kita ini siapa? Ketiga, selain sumber daya alam, ada sumber daya manusia yang harus memiliki branding Indonesia. Jangan sampai produknya dari kita, labelnya dari mereka yang lebih terkenal dan meraup keuntungan besar. Kita cuma dapat jatah kuli yang recehan.
#30HariBercerita
#30HBC2608 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar