Langsung ke konten utama

10 [CERMIN SUMATRA] 30 Hari Bercerita

 


Akhir November 2025, semua mata tertuju pada Sumatra. 25-30 November banjir dan longsor menimpa bagian utara bumi Andalas, di Barat Indonesia. Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Dalam setiap musibah selalu seperti ada dua sisi keping uang yang harus disimak bersama. Daya tahan yang sedang diuji oleh Sang Maha Pencipta, dan sentilan atas ketidakwajaran perilaku menyimpang. Jangan membadingkan hanya 3 Provinsi dari 38 Provinsi di Indonesia, itu sesat dan menyesatkan empati.
 
Ada 52 Kabupaten/Kota yang berjuang keluar dari isolasi dampak bencana. Suaranya mungkin terhambat sinyal dan akses jalan. Rintihan dukanya sejak menit pertama telah membahana ke seluruh nusantara. Berbeda-beda, tapi tetap satu Sumatra yang kami ulurkan tangan. Jangan bandingkan jumlah Kabupaten/Kota itu dengan 462 Kabupaten/Kota lainnya. Itu hanya ucapan picik memisahkan Republik dari narasi Negara Kesatuan nya.
 
Hingga 9 Januari 2026 tercatat 1.182 jiwa meninggal dan 145 jiwa tak tau di mana rimbanya. Jangan sesekali membandingkan angka itu dengan bilanga ratusan juta penduduk Indonesia yang masih hidup hingga saat ini. Itu hanya kian mengkerdilkan dan menistakan diri sebagai manusia yang tak menghargai satu nyawa yang hilang. 
 
Masih ada 238.627 orang di pengungsian dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Pemerintah diuji kesigapannya dengan segala sarana dan kebijakan yang bisa diambilnya. Rakyat Indonesia diuji empati dan peduli sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jangan dibalik, negara dengan semampunya, rakyat dengan segala-galanya.
 
Dalam setiap memandang cermin, harus sama-sama seimbang melihat dua sisinya. Sisi depan yang langsung berhadapan dengan kita. Dan sisi belakang yang tidak nampak langsung, tapi mempengaruhi kualitas bayangan di depannya.
 
10 Januari 2026
#30HariBercerita #30HBC2610Sumatra
#30HBC2610 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...