Pekan pertama awal tahun 2026, Kompas mengeluarkan berita yang “membagongkan”
(membingungkan). Dua berita perihal bahagia yang saling bertentangan, bahkan
saling mendustakan. Presiden Prabowo dengan sumbernya menyebutkan Indonesia
negara PALING BAHAGIA. Sedang berita satunya lagi Negara PALING BAHAGIA di
dunia, Indonesia ditempatkan pada urutan ke-83.
Kita tidak sedang menunjuk siapa yang salah atau menuding siapa
yang berdusta. Bisa jadi keduanya benar dari sumber yang berbeda, menggunakan indikator
yang tidak sama. Saya tidak heran jika data di negara ini banyak yang tidak
sama, padahal dengan obyek yang sama (program dan proyeknya beda-beda anggaran).
Lah untuk urusan sedunia aja dari berita di atas sangat kontras. Institusi
level dunia saja tidak satu kata, apa karena yang order berbeda ya?
Jika ada 10 orang. 9 orang kelaparan dan sisanya memiliki
penghasilan 1 triliun. Maka jika dihitung rata-rata pendapatan 10 orang itu 100
miliar bukan? Mustahil ada yang miskin, pendapatan rendah, apalagi kelaparan.
Bahagia itu bukan perihal angka, tapi rasa. 10 orang contoh di
atas, bisa disimpulkan yang bahagia cuma sendiri, sisanya 9 orang mayoritas
jauh dari rasa itu.
“Kebahagiaan itu adalah ketika jiwa telah berhasil mencapai
tingkat kesempurnaannya. Keberhasilan adalah ketika jiwa telah mendapatkan buah
dari amalannya. Nasib yang baik adalah ketika dunia yang dicarinya, telah
mengabdi kepadanya.” (Dr. Aidh Al-Qarni)
Selama definisi bahagia kita masih berbeda, tak akan ada bilangan
yang mampu menyatukannya.
12 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2612 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com
#30HariBercerita
#30HBC2612 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar