Langsung ke konten utama

12 [DEFINISI BAHAGIA KITA BERBEDA] 30 Hari Bercerita

 


Pekan pertama awal tahun 2026, Kompas mengeluarkan berita yang “membagongkan” (membingungkan). Dua berita perihal bahagia yang saling bertentangan, bahkan saling mendustakan. Presiden Prabowo dengan sumbernya menyebutkan Indonesia negara PALING BAHAGIA. Sedang berita satunya lagi Negara PALING BAHAGIA di dunia, Indonesia ditempatkan pada urutan ke-83.
 
Kita tidak sedang menunjuk siapa yang salah atau menuding siapa yang berdusta. Bisa jadi keduanya benar dari sumber yang berbeda, menggunakan indikator yang tidak sama. Saya tidak heran jika data di negara ini banyak yang tidak sama, padahal dengan obyek yang sama (program dan proyeknya beda-beda anggaran). Lah untuk urusan sedunia aja dari berita di atas sangat kontras. Institusi level dunia saja tidak satu kata, apa karena yang order berbeda ya?
 
Jika ada 10 orang. 9 orang kelaparan dan sisanya memiliki penghasilan 1 triliun. Maka jika dihitung rata-rata pendapatan 10 orang itu 100 miliar bukan? Mustahil ada yang miskin, pendapatan rendah, apalagi kelaparan.
 
Bahagia itu bukan perihal angka, tapi rasa. 10 orang contoh di atas, bisa disimpulkan yang bahagia cuma sendiri, sisanya 9 orang mayoritas jauh dari rasa itu.
 
“Kebahagiaan itu adalah ketika jiwa telah berhasil mencapai tingkat kesempurnaannya. Keberhasilan adalah ketika jiwa telah mendapatkan buah dari amalannya. Nasib yang baik adalah ketika dunia yang dicarinya, telah mengabdi kepadanya.” (Dr. Aidh Al-Qarni)
 
Selama definisi bahagia kita masih berbeda, tak akan ada bilangan yang mampu menyatukannya.
 
12 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2612 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...