Langsung ke konten utama

11 [BELAJAR DARI DURIAN] 30 Hari Bercerita

 

Saat musim durian begini, ya enaknya belah duren. Walau bukan penikmat “gila” durian, setidak cicip sedikit setiap musim bisa menjadi mengobat rindu tahunan terhadap si buah berduri ini. Tidak sedikit juga orang yang kurang suka bahkan anti terhadap buah pemiliki aroma khas menyegat ini. Alasan mereka, yah karena aromanya itu, ada yang sampai muntah saking tak bisa sedikit saja mencium bau nya.
 
Nah, kemarin saya coba ajak seorang teman untuk berburu durian. Kita tak cari yang premium banget dan varian level atas. Dapatlah Durian mentega. Sambil disiapkan, kami disuguhi kopi ala kampung. Saya minta tanpa gula.
 
Dari buah yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya  Kalimantan, Indonesia, dan Semenanjung Malaysia ini kita bisa belajar banyak hal. Pertama, toleransi atas perbedaan. Tidak semua orang suka durian dan aroma menyengatnya, walau kita menikmati buah itu. Tidak semua orang bisa disamakan dengan yang kita sukai. Perbedaan untuk dihargai bukan dipertentangkan.
 
Kedua, nikmati proses dan semua ada waktunya. Durian tidak akan jatuh sebelum benar-benar matang sempurna. Kesabaran menjalani proses akan berbuah manis. Buru-buru memetik hasil akan menuai kecewa. Ketiga, jangan tertipu oleh penampilan. Durian dengan kulitnya yang berduri tajam tapi isinya manis. Penampilah boleh apa adanya, namun hati bisa jadi lebih dari itu.
 
Dan keempat, jadilah diri sendiri. Durian dengan aroma yang sebagian orang benci dan duri luarnya sangat tajam, tetap memiliki peminat dan penikmat. Tidak perlu ia berpura-pura menjadi Semangka dengan menggunduli diri atau mengurangi aromanya agar seperti Nangka.
 
Dari setiap menu yang dihidangkan selain kelezatan yang dijanjikan, sesekali perlu memetik pelajaran yang manis untuk bekal perjalanan.
 
11 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2611 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...