Saat musim durian begini, ya enaknya
belah duren. Walau bukan penikmat “gila” durian, setidak cicip sedikit setiap
musim bisa menjadi mengobat rindu tahunan terhadap si buah berduri ini. Tidak
sedikit juga orang yang kurang suka bahkan anti terhadap buah pemiliki aroma
khas menyegat ini. Alasan mereka, yah karena aromanya itu, ada yang sampai
muntah saking tak bisa sedikit saja mencium bau nya.
Nah, kemarin saya coba ajak seorang teman untuk berburu durian. Kita tak cari yang premium banget dan varian level atas. Dapatlah Durian mentega. Sambil disiapkan, kami disuguhi kopi ala kampung. Saya minta tanpa gula.
Dari buah yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya Kalimantan, Indonesia, dan Semenanjung Malaysia ini kita bisa belajar banyak hal. Pertama, toleransi atas perbedaan. Tidak semua orang suka durian dan aroma menyengatnya, walau kita menikmati buah itu. Tidak semua orang bisa disamakan dengan yang kita sukai. Perbedaan untuk dihargai bukan dipertentangkan.
Kedua, nikmati proses dan semua ada waktunya. Durian tidak akan jatuh sebelum benar-benar matang sempurna. Kesabaran menjalani proses akan berbuah manis. Buru-buru memetik hasil akan menuai kecewa. Ketiga, jangan tertipu oleh penampilan. Durian dengan kulitnya yang berduri tajam tapi isinya manis. Penampilah boleh apa adanya, namun hati bisa jadi lebih dari itu.
Dan keempat, jadilah diri sendiri. Durian dengan aroma yang sebagian orang benci dan duri luarnya sangat tajam, tetap memiliki peminat dan penikmat. Tidak perlu ia berpura-pura menjadi Semangka dengan menggunduli diri atau mengurangi aromanya agar seperti Nangka.
Dari setiap menu yang dihidangkan selain kelezatan yang dijanjikan, sesekali perlu memetik pelajaran yang manis untuk bekal perjalanan.
11 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2611 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com
Nah, kemarin saya coba ajak seorang teman untuk berburu durian. Kita tak cari yang premium banget dan varian level atas. Dapatlah Durian mentega. Sambil disiapkan, kami disuguhi kopi ala kampung. Saya minta tanpa gula.
Dari buah yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya Kalimantan, Indonesia, dan Semenanjung Malaysia ini kita bisa belajar banyak hal. Pertama, toleransi atas perbedaan. Tidak semua orang suka durian dan aroma menyengatnya, walau kita menikmati buah itu. Tidak semua orang bisa disamakan dengan yang kita sukai. Perbedaan untuk dihargai bukan dipertentangkan.
Kedua, nikmati proses dan semua ada waktunya. Durian tidak akan jatuh sebelum benar-benar matang sempurna. Kesabaran menjalani proses akan berbuah manis. Buru-buru memetik hasil akan menuai kecewa. Ketiga, jangan tertipu oleh penampilan. Durian dengan kulitnya yang berduri tajam tapi isinya manis. Penampilah boleh apa adanya, namun hati bisa jadi lebih dari itu.
Dan keempat, jadilah diri sendiri. Durian dengan aroma yang sebagian orang benci dan duri luarnya sangat tajam, tetap memiliki peminat dan penikmat. Tidak perlu ia berpura-pura menjadi Semangka dengan menggunduli diri atau mengurangi aromanya agar seperti Nangka.
Dari setiap menu yang dihidangkan selain kelezatan yang dijanjikan, sesekali perlu memetik pelajaran yang manis untuk bekal perjalanan.
11 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2611 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar