Langsung ke konten utama

07 [KATA ETALASE JIWA] 30 Hari Bercerita

 


Setiap hari meluncur ribuan bahkan belasan ribu kata dari bibir seseorang. Entah pada forum resmi, candaan renyah, emosi yang membakar, sumpah serapah, hingga majelis gibah di pinggir jalan.

Apalagi ketika kaget atau terkejut dengan sesuatu yang luar biasa atau tak terduga, Banyak kata spontan yang terceletuk begitu saja. Sebut saja kata kekinian yang menjadi kosakata baru bermedia sosial, astaga, OMG (Oh My God), buset, ya ampun, anjay, wow, anjir, ya amplop dan sebagainya (ya amplop ini juga baru saya tau pernah menjadi trend). Atau kata “tradisional” ala ketimuran kita, ya Tuhan, astaghfirullah, masya Allah, subhanallah dan sejenisnya.

Padahal pilihan kata saat itu tidak serta merta keluar begitu saja. Ia akumulasi dari kosakata yang pernah di dengar, daya sering sebuah kata digunakan dalam percakapan hingga kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Mereka terekam dalam memori dan mengkristal menjadi ucapan yang mewakili jiwa.

Tak berlebihan jika kata ibarat etalase dan jiwa seseorang. Sekali lagi pilihan kata, bukan intonasi suara saat berkata yang banyak juga terpengaruhi oleh lingkungan akibat geografis tinggal seseorang. Ia adalah pintu masuk mengenal seseorang. Ramah dan gaul beda. Membuat pesan sampai dengan sok kekinian juga beda.

Selain banyak kosakata baru yang masuk dalam percakapan kekinian mencecoki setiap generasi. Maka perlu ada penguatan, semacam daya saring agar penempatan dan waktu pengucapan tidak sembarangan. Selain menimbulkan multitafsir, tidak semua generasi meng update kosakata kekinian. Lebih amannya, mendidik diri dan generasi memilih dan menggunakan kata yang “santun” untuk semua generasi, kondisi dan tempat.

Kata-kata adalah cerminan jiwa, ekspresi pengalaman diri, sekaligus bahasa penyampai informasi.
 
07 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2607 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...