Setiap hari meluncur ribuan bahkan belasan ribu kata
dari bibir seseorang. Entah pada forum resmi, candaan renyah, emosi yang
membakar, sumpah serapah, hingga majelis gibah di pinggir jalan.
Apalagi ketika kaget atau terkejut dengan sesuatu yang luar biasa atau tak terduga, Banyak kata spontan yang terceletuk begitu saja. Sebut saja kata kekinian yang menjadi kosakata baru bermedia sosial, astaga, OMG (Oh My God), buset, ya ampun, anjay, wow, anjir, ya amplop dan sebagainya (ya amplop ini juga baru saya tau pernah menjadi trend). Atau kata “tradisional” ala ketimuran kita, ya Tuhan, astaghfirullah, masya Allah, subhanallah dan sejenisnya.
Tak berlebihan jika kata ibarat etalase dan jiwa seseorang. Sekali lagi pilihan kata, bukan intonasi suara saat berkata yang banyak juga terpengaruhi oleh lingkungan akibat geografis tinggal seseorang. Ia adalah pintu masuk mengenal seseorang. Ramah dan gaul beda. Membuat pesan sampai dengan sok kekinian juga beda.
Selain banyak kosakata baru yang masuk dalam percakapan kekinian mencecoki setiap generasi. Maka perlu ada penguatan, semacam daya saring agar penempatan dan waktu pengucapan tidak sembarangan. Selain menimbulkan multitafsir, tidak semua generasi meng update kosakata kekinian. Lebih amannya, mendidik diri dan generasi memilih dan menggunakan kata yang “santun” untuk semua generasi, kondisi dan tempat.
Kata-kata adalah cerminan jiwa, ekspresi pengalaman diri, sekaligus bahasa penyampai informasi.
#30HariBercerita
#30HBC2607 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar