Langsung ke konten utama

[KOLAK] #KulinerRamadan 02

 


“Kolak hidangan takjil atau makanan penutup khas Indonesia yang memiliki berbagai jenis varian. Saat Ramadan menjadi salah satu makanan favorit berbuka puasa diberbagai daerah di nusarantara.”
 
Kolak, mendengar namanya saja sudah tidak asing. Terbayang aroma santan dan gula merah yang bersatu dengan isian bahan dasarnya, kian menggoda untuk segera menjadi pilihan menu berbuka puasa.
 
Kolak atau biasa juga disebut kolek adalah makanan penutup (hidangan pencuci mulut) khas Indonesia. Berbahan dasar gula aren atau gula kelapa, santan dan daun pandan (P. amaryllifolius) serta pisang, ubi jalar, singkong atau kolang-kaling yang direbus menjadi satu. Selain buah pisang, ada kolak biji salak juga kerap ditemui saat bulan Ramadhan. Kolak biji salak terbuat dari ubi jalar yang dibentuk bulat, lalu dicampur dengan tepung tapioka.

Rasanya pasti manis, gurih dengan tekstur yang lembut. Disajikan dalam kondisi hangat ataupun dingin dengan menambahkan es batu. Pasti segar dan pas untuk berbuka puasa tentunya.



 
Walau sudah menjadi makanan nusantara yang dapat dijumpai di mana saja, kolak berasal dari Jawa.
 
Kolak kaya mengandung karbohidrat dan lemak sehat (dari santan) yang sangat baik untuk mengembalikan energi setelah berpuasa. Sedangkan pisang dalam kolak mengandung vitamin A, B, C, kalium, dan serat yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh, melancarkan peredaran darah, dan pencernaan.
Terdapat berbagai jenis kolak yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut biasanya tergantung dari isiannya. Diantaranya yaitu:

·         Kolak pisang
  • Kolak labu
  • Kolak biji salak atau ubi jalar
  • Kolak ketan kelapa muda
  • Kolak bola pelangi
  • Kolak sagu mutiara
  • Kolak paris
 
Nah menu berbuka puasa kalian hari ini kolak apa?
 
Cordova Street A-03, 20022026
IWAN Wahyudi

#KulinerRamadan #SuluhRamadan #Kolak #PenerbitPanggita #EnergiRamadan #JelajahRamadan
#MariBerbagiMakna #CatatanPuasa #LiterasiRamadan #InspirasiWajahNegeri #Ramadan #Puasa #reHATIwan #IWANwahyudi #reHATIwanInspiring

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...