Langsung ke konten utama

[UTA PALUMARA LONDE] #KulinerRamadan 05

 


“Uta Palumara Londe atau ikan palumara bandeng, salah satu bentuk palumara dengan bahan ikan bandeng di Bima-Dompu, NTB. Rasanya manis, asam, pedas dan segar.

Palumara adalah sebutan untuk sup ikan kuah kuning untuk daerah Bima, NTB dan juga Sulawesi Selatan khususnya Makassar/Bugis. Yang membedakannya pada beberapa rempah-rempah yang menjadi bumbu khas kuah kuning tersebut. Bahan utama palumara berbagai jenis ikan laut.

Uta Palumara Londe atau ikan palumara bandeng, salah satu bentuk palumara dengan bahan ikan bandeng di Bima-Dompu, NTB. Sedangkan bumbu yang digunakan diantaranya adalah bawang putih, bawang merah, cabe merah, kunyit dan juga tomat. Untuk menambah rasa asam ada juga yang menambahkan asam Jawa, selain tomat.

Kuliner ini memiliki rasa yang manis, asam dan pedas. Untuk menghasilkan citarasa dan aroma khas ditambahkan kemangi. Dibeberapa tempat palumara juga diberi santan untuk memberi rasa gurih dan kental.

Kandungan gizi Uta Palumara Londe tidak usah diragukan lagi, yang utama berasal dari ikan bandeng (Chanos chanos). Ikan bandeng merupakan sumber protein hewani tinggi, berkisar 20-24%, serta kaya akan asam lemak omega-3 (DHA dan EPA) yang menyehatkan jantung. Selain itu, bandeng mengandung vitamin B12, vitamin D, mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi, menjadikannya makanan bergizi untuk pertumbuhan.

Bagi saya rasa asam dan segarnya itu yang bikin ketagihan. Paling cocok disantap ketika perut lapar habis bekerja seharian. Apalagi untuk berbuka puasa.

Cordova Street A-03, 23022026

IWAN Wahyudi

#KulinerRamadan #SuluhRamadan #Palumara #Londe #UtaPalumaraLonde #PenerbitPanggita #EnergiRamadan #JelajahRamadan
#MariBerbagiMakna #CatatanPuasa #LiterasiRamadan #InspirasiWajahNegeri #Ramadan #Puasa #reHATIwan #IWANwahyudi #reHATIwanInspiring

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...