Setelah lebih satu dekade tak bersua dengan Bung Sahnam salah satu generasi awal BEM NTB Raya di Lombok Timur, akhirnya takdir perjumpaan kembali itu datang. Kami bernostalgia era keemasan menyandang status mahasiswa yang sarat dengan sikap idealisme, kritis, leadership, pembelaan pada kaum marginal, bahkan militansi yang hebat.
Kami coba merefleksi perjalanan. Mahasiswa dulu vs mahasiswa now, aktivis mahasiswa vs pasca wisuda. Semua aktivis mahasiswa sangat jago dan hebat saat memakai almamater, tapi harus diuji daya tahan keaktivisannya. “Coba lihat cara mereka masuk dalam kekuasaan, menerima kekuasaan, mengelola kekuasaan hingga mengakhiri kekuasaannya.” Begitu kata sahabat saya satu ini.
Nampak berkelebat dalam kepala saya para orator ulung anti korupsi yang kemudian karena maling uang negara masuk jeruji besi. Mereka yang dulu getol menolak suap, eh malah meminta upeti sana sini. Mereka yang dulu hidup mati bersama rakyat, kemudian tak takut menjadi penjilat. Dulu sangat sederhana dan bersahaja, kini hidup bermewah dan pamer harta di media.
Ada tiga faktor penyebab aktivis kehilangan idealismenya. Pertama, rendahnya integritas. Moralitas yang buruk bersenyawa dengan lemahnya cita-cita perjuangan akan membuat mereka terjebak dalam pragmatisme politik. Tradisi intelektualitas aktivis yang buruk seperti lemahnya membaca, menulis, diskusi dan riset menjadi cirinya.
Kedua, Kemiskinan. Tidak semua aktivis mampu dan punya daya tahan kesabaran yang panjang dengan faktor ekonomi, akhirnya mengambil jalan pintas untuk menghidupi dapurnya. Seharusnya sejak dalam alam pikiran memilih peran aktivis harus ditanamkan, jadi aktivis bukan jalan tol pada kekuasaan dan mesin ATM menumpuk harta. Bukan berarti jadi aktivis tak boleh kaya, bahkan harus itu, tapi dengan jalan yang benar.
Ketiga, faktor sistem. Niat masuk dalam kekuasan untuk melakukan perubahan, setelah di sana malah termakan arus sistem yang merusak bahkan turut menjadi aktor kerusakan. Terjebak dalam mekanisme sistemik praktik transaksional dan oligarkis yang akut.
Jika tiga hal ini dibiarkan akan muncul dua dampak berbahaya. Hilangnya kepercayaan publik pada aktivis dan merusak mental generasi baru aktivis menjadi aktivis pragmatis yang kontras.
Ujilah aktivis mencicipi kekuasaan, maka anda akan dapat membedakan mana aktivis tulen dan mana yang sekadar mendompleng. (*)
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_17#Aktivis #Godaan #Kekuasaan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar