Langsung ke konten utama

138 [GODAAN KEKUASAAN AKTIVIS]

 


Setelah lebih satu dekade tak bersua dengan Bung Sahnam salah satu generasi awal BEM NTB Raya di Lombok Timur, akhirnya takdir perjumpaan kembali itu datang. Kami bernostalgia era keemasan menyandang status mahasiswa yang sarat dengan sikap idealisme, kritis, leadership, pembelaan pada kaum marginal, bahkan militansi yang hebat.

Kami coba merefleksi perjalanan. Mahasiswa dulu vs mahasiswa now, aktivis mahasiswa vs pasca wisuda. Semua aktivis mahasiswa sangat jago dan hebat saat memakai almamater, tapi harus diuji daya tahan keaktivisannya. “Coba lihat cara mereka masuk dalam kekuasaan, menerima kekuasaan, mengelola kekuasaan hingga mengakhiri kekuasaannya.” Begitu kata sahabat saya satu ini.

Nampak berkelebat dalam kepala saya para orator ulung anti korupsi yang kemudian karena maling uang negara masuk jeruji besi. Mereka yang dulu getol menolak suap, eh malah meminta upeti sana sini. Mereka yang dulu hidup mati bersama rakyat, kemudian tak takut menjadi penjilat. Dulu sangat sederhana dan bersahaja, kini hidup bermewah dan pamer harta di media.

Ada tiga faktor penyebab aktivis kehilangan idealismenya. Pertama, rendahnya integritas. Moralitas yang buruk bersenyawa dengan lemahnya cita-cita perjuangan akan membuat mereka terjebak dalam pragmatisme politik. Tradisi intelektualitas aktivis yang buruk seperti lemahnya membaca, menulis, diskusi dan riset menjadi cirinya.

Kedua, Kemiskinan. Tidak semua aktivis mampu dan punya daya tahan kesabaran yang panjang dengan faktor ekonomi, akhirnya mengambil jalan pintas untuk menghidupi dapurnya. Seharusnya sejak dalam alam pikiran memilih peran aktivis harus ditanamkan, jadi aktivis bukan jalan tol pada kekuasaan dan mesin ATM menumpuk harta. Bukan berarti jadi aktivis tak boleh kaya, bahkan harus itu, tapi dengan jalan yang benar.

Ketiga, faktor sistem. Niat masuk dalam kekuasan untuk melakukan perubahan, setelah di sana malah termakan arus sistem yang merusak bahkan turut menjadi aktor kerusakan. Terjebak dalam mekanisme sistemik praktik transaksional dan oligarkis yang akut.

Jika tiga hal ini dibiarkan akan muncul dua dampak berbahaya. Hilangnya kepercayaan publik pada aktivis dan merusak mental generasi baru aktivis menjadi aktivis pragmatis yang kontras.

Ujilah aktivis mencicipi kekuasaan, maka anda akan dapat membedakan mana aktivis tulen dan mana yang sekadar mendompleng. (*)


Cordova Street, A-03, 17 Juni 2026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_17#Aktivis #Godaan #Kekuasaan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...

139 [KEBAHAGIAAN ABADI]

  “Jangan biarkan kebahagiaan Anda bergantung pada sesuatu yang tak mungkin Anda meninggalkannya.” Kadang manusia merasa kekuasaan akan membuatnya bahagia dalam jangka panjang. Kenanglah Fir’aun, apa ada manusia dalam sejarah dengan kekuasaan yang melampauinya? Bahkan ia sendiri mendeklarasikan diri sebagai tuhan. Apakah ia mendapatkan kebahagiaan? Hidupnya selalu dibayangi ketakutan akan ada bayi laki-laki yang lahir, kemudian menghancurkannya, Musa as. Ujung hidupnya jauh dari bahagia, tenggelam di Laut Merah. Kadang manusia merasa kekayaan akan menjadikannya bahagia dalam durasi panjang. Bacalah sejarah Qorun, apa ada manusia sekaya dia? Hingga sekarang jika ada yang menemukan harta terpendam dalam tanah bahkan disebut harta karun. Ia tak mengecap bahagia seutuhnya karena terus berburu harta tanpa henti. Ujung hidupnya ditelah bumi bersama semua hartanya. Nabi Sulaiman as memiliki kekuasaan dan sumberdaya melampaui manusia biasa hingga jin pun masuk dalam daftar asetnya. S...

140 [DIPLOMASI KAUS KAKI]

  Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945 tidak serta merta Indonesia langsung menjadi sebuah negara. Jepang boleh saja menyerah pada sekutu, tapi syahwat penjajah lama Belanda yang tergabung dalam sekutu masih tinggi untuk mencaplok kembali Indonesia. Perlu pengakuan kedaulatan dari negera lain atas kemerdekaan Indonesia, dan ini bukan kerja diplomasi mudah ditengah bangsa yang miskin pasca perang dan terjajah. A.R. Baswedan dan H. Agus Salim bersama tim diplomasi, diutus ke Mesir membawa misi besar: mendapatkan pengakuan internasional. April 1947 mereka terbang. Setelah dua bulan berdiplomasi dan tinggal di Mesir mereka berhasil mendapatkan pengakuan  de jure  Republik Indonesia yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian persahabatan pada 10 Juni 1947. Membawa dokumen penting ke tanah air bukan pekerjaan mudah. Belanda sudah mulai menguasai negeri, termasuk ibu kota Jakarta. Ibu kota pindah ke Yogyakarta. Penjagaan dari segala penjuru dipe...