Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab.
Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis.
Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlukan kepiawaian olah kata saja, tapi perlu nyali mewartakan fakta dan kebenaran yang tak jarang harus bermain di tepi jurang.
Rasa takut tentu manusiawi mendatangi. Membunyikan suara kritis, tentu banyak orang yang agak terganggu ulahnya. Jurus jitu beliau dengan menaklukan rasa itu. Ketakutan suatu yang wajar dalam kadar tertentu dan tak dijadikan kambing hitam dalam segala hal untuk tidak berani melakukan sesuatu. “Hadapi saja, selalu ada rahasia dan tangan-Nya yang tak terduga akan menolong”. Begitu nasehatnya. Memang benar, sesungguhnya rasa takut hanya pada-Nya Sang Maha Segala.
"Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (QS. Al-Baqarah: 40)
Terima kasih Bang Muslih Syuaib atas kopi darat dengan segala maknanya.
Biarlah ketakutan itu sendiri yang menakuti rasa takut. Dan tetaplah hadirkan keberanian diri untuk berbuat dan bergerak. (*)
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_16#Takut #Ketakutan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar