Langsung ke konten utama

140 [DIPLOMASI KAUS KAKI]

 


Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945 tidak serta merta Indonesia langsung menjadi sebuah negara. Jepang boleh saja menyerah pada sekutu, tapi syahwat penjajah lama Belanda yang tergabung dalam sekutu masih tinggi untuk mencaplok kembali Indonesia. Perlu pengakuan kedaulatan dari negera lain atas kemerdekaan Indonesia, dan ini bukan kerja diplomasi mudah ditengah bangsa yang miskin pasca perang dan terjajah.

A.R. Baswedan dan H. Agus Salim bersama tim diplomasi, diutus ke Mesir membawa misi besar: mendapatkan pengakuan internasional. April 1947 mereka terbang. Setelah dua bulan berdiplomasi dan tinggal di Mesir mereka berhasil mendapatkan pengakuan de jure Republik Indonesia yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian persahabatan pada 10 Juni 1947.

Membawa dokumen penting ke tanah air bukan pekerjaan mudah. Belanda sudah mulai menguasai negeri, termasuk ibu kota Jakarta. Ibu kota pindah ke Yogyakarta. Penjagaan dari segala penjuru diperketat oleh Belanda. Indonesia harus diisolasi dari dunia agar tak mendapat pengakuan.

A.R. Baswedan kembali ke tanah air membawa dokumen penting tersebut pada pertengahan Juli 1947. Untuk mengelabui pemeriksaan ia melipat dokumen sekecil mungkin, lalu menyembunyikannya di dalam kaos kakinya. Ini bukan tanpa resiko, jika ditemukan petugas Belanda ketika mendarat, bukan hanya nyawanya yang dipertaruhkan. Republik yang baru berdiri akan kandas. Takdir akhirnya berpihak, ia lepas dari pemeriksaan dan membawa dokumen Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kedaulatan RI ke Yogyakarta.

Kaus kaki yang sederhana dan harganya murah bila digunakan oleh orang yang benar akan membawa kemaslahatan bagi seluruh negeri. Tapi, jika dipakai oleh pejabat rakus harta akan menuai bencana. Ingat pengadaan kaos kaki untuk program Badan Gizi Nasional (BGN) sempat menjadi sorotan publik dengan total anggaran mencapai Rp6,9 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan sekitar 17.000 pasang kaos kaki lapangan, dengan harga rata-rata sekitar Rp100.000 per pasang.

Diplomasi kaus kaki seakan menampar republik belakangan ini, dengan noda kaus kaki gizi untuk peserta Pendidikan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang akan diselenggarakan oleh Universitas Pertahanan itu.

Cordova Street, A-03, 19 Juni 2026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_19 #Diplomasi #KausKaki #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[MENGABADIKAN TULISAN]

  "Menulis adalah bekerja untuk keabadian" -Pramoedya Ananta Toer (Pram)- Setelah melalui berbagai macam proses hingga melahirkan sebuah tulisan, sebagian dari kita merasa telah final goresan itu akan abadi sebagaimana perkataan Pramoedya Ananta Toer di atas. Segolongan dari kita malah selangkah agak jauh mempostingnya apa akun media sosial. Agar kata-kata buah penanya segera menemui pembaca. Supaya makna yang ingin disampaikan tak menunggu lama untuk terus terbagai. Biar amal jariyah manfaat kalimat-kalimat ajakan dari teks itu mulai mengalir deras pada penulisnya. Saya pernah merasa kehilangan dari tulisan-tulisan yang susah payah dan memakan banyak waktu menenunnya. Karena file termakan virus, hardisk rusak tak bisa dibuka, android hilang atau dicuri orang hingga akun media sosial di hack atau blokir. Itu sebagai penanda hilangnya "keramat" keabadian tulisan saya, anda dan kita. Dari semua dinamika itu, saya sampai pada sebuah ujung. Setiap tulisan harus ...

[PEMUDA MATAHARI PAGI] #MudaMenyala

  Oleh: Iwan Wahyudi Penulis Buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri”   “Pemuda adalah matahari terbit di pagi hari, mereka membawa harapan bagi dunia.” (Jalaluddin Muhammad Rumi) IA jembatan penghubung   antara gelap dan terang, dari malam gulita dengan cahaya siang. Menapaki jembatan itu dengan berlahan, tak instan dan seketika. Pembatas yang nyata dan tegas, namun lembut berlahan sebagaimana degradasi malam berangsur fajar hingga mentari pagi. Ia kehangatan yang menggairahkan. Menebar energi keseluruh pelosok bumi. Pada hamparan daratannya yang membentang, ke samuderanya yang luas laksana marmer biru tak bertepi, hingga udaranya menyelimuti ibarat tameng pelindung yang sempurna. Tak terik yang menyengat membakar kulit dan berujung petaka dehidrasi. Ia alarm memulai kembali gerakan. Dari waktu panjang istirahat yang melenakan. Penyingkap rayuan selimut yang hangat menjerumuskan. Penghentak tidur dan pembawa alam mimpi pada ruang kenyataan. Pendobrak stagnasi yang me...

[CETAKAN KEDUA PEMUDA INSPIRASI WAJAH NEGERI]

  Alhamdulillah mari dimiliki dan baca... Oktober bulan kaum muda Indonesia "Pemuda adalah sumber kekayaan intelektual, mereka memiliki gagasan segar untuk masa depan." -Albert Einstein- PEMUDA INSPIRASI WAJAH NEGERI Penulis: Iwan Wahyudi IWAN Wahyudi Tebal: 122 halaman ISBN: 978-634-04-5709-4 Penerbit: PANGGITA Harga: Rp70.000- Info pemesanan 082 266 544 388