Awal pekan ini saya disuguhi oleh Bung M Herman Yadi sesama aktivis kala mahasiswa dulu satu album foto edisi cetak. Masa itu punya kamera digital sangat langka, masih kamera analog yang pakai rol film itu.
Album itu mengobati rasa kehilangan saya atas banyak foto cetak yang rusak karena melekat pada plastik album, CD backup foto-foto yang tergores dan tak terbaca lagi, hingga hardisk eksternal penyimpan arsip juga foto yang tak bisa lagi dibuka karena minta diformat ulang yang artinya akan menghapus habis semua file-file berharga itu.
Sebuah potret akan berbicara banyak hal. Raut wajah dan gestur tubuh, kostum dan tempat hingga beragam makna yang tak tampak didepan mata, tapi hadir kembali mewakili makna sebuah peristiwa.
Selembar foto juga menjadi saksi otentik yang tak tergantikan. Sehebat apa pun AI membantu mengkonstruksi sebuah gambar dan foto akan hambar nilai rasa dan makna. Cuma kepuasan tidak asli yang sementara dan kamuflase semu.
Sebuah foto selain menyimpan nostalgia, melahirkan ruang refleksi (muhasabah) diri. Dengan usia yang berubah, harus lebih memberi perubahan. Dengan idealisme yang termakan waktu tak boleh sirna. Dengan peran dan posisi yang telah berganti, namun harus tetap memberi arti.
Kali ini entah yang keberapa bermajelis kopi dan buku dengan Pak dosen UTS Bang Jul Lembo Ade sejak kami sama-sama memulai pengabdian lima tahun silam pada sebuah kampus di bawah bukit Olat Maras itu. Bahkan hingga berubah posisi dan tempat mengabdi masih terjaga. Dan setiap perjumpaan perlu diabadikan dengan sebuah foto.
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_13#Potret #Foto #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar