Aku sangka pekik dan kepal tangan perjuagan sudah tergerus.
Aku duga nurani telah bersekat tembok tebal dengan rakyat.
Aku ber su'udzon zaman telah menelan idealisme itu tanpa sebutir debu tersisa.
Ternyata itu semua masih ada dan bermetamorfosis ke banyak penjuru peran, perjuangan dan pengabdian.
Kami bersua di jalan perjuangan. Iya, benar-benar jalan aspal yang panas itu loh. Almamater masing-masing kampus yang melekat di tubuh yang bersenyawa dengan jeritan rakyat menuntut itu. Momentum bersejarah Pemilu dan Pilpres pertama secara langsung 2004 menjadi panggilan perjuangan untuk dikawal sesuai dengan asas demokrasi dan suara nurani rakyat.
Dari sana tumbuh persahabatan dengan kesamaan pandangan apa yang akan terus diperjuangkan. Ketika almamater harus dilipat dalam lemari dan toga wisuda usai diraih. Bukan tanda titik untuk berhenti. Karena perjuangan sesungguhnya adalah sepanjang hayat dengan peran dan metode yang boleh saja berubah dan berpindah.
Jalan pengabdian di tengah-tengah masyarakat lima belas tahun belakangan (insyaAllah istiqomah selanjutnya) tentu menjadi pembuktian. Dalam beragam peran dan beraneka dinamika yang membersamainya, tak memadamkan api perjuangan, tak mencerai berai persahabatan, tak menggadaikan harga dan jati diri.
Saat mengutarakan niat berkunjung atau pertama kali berjumpa kembali selalu ada pertanyaan, “Ada agenda apa gerangan berkunjung?”. Saya hanya punya satu jawaban, “Berkunjung dengan segala keaslian maknanya”.
Mungkin selama ini jika ada yang berkunjung identik dengan mau minta bantuan hingga pinjam uang, antar undangan hingga mempromosikan sesuatu. Supaya perjumpaan tak menguap sekadar ruang nostalgia, tentu di akhir perlu ada sharing apa yang perlu dan bisa dikolaborasi bersama. (*)
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_10#Perjuangan #Persahabatan #Pengabdian #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar