Langsung ke konten utama

131 [PERJUANGAN, PERSAHABATAN, DAN PENGABDIAN]

 


Aku kira dua dekade nyala almamater itu telah menguap.
Aku sangka pekik dan kepal tangan perjuagan sudah tergerus.
Aku duga nurani telah bersekat tembok tebal dengan rakyat.
Aku ber su'udzon zaman telah menelan idealisme itu tanpa sebutir debu tersisa.

Ternyata itu semua masih ada dan bermetamorfosis ke banyak penjuru peran, perjuangan dan pengabdian.

Kami bersua di jalan perjuangan. Iya, benar-benar jalan aspal yang panas itu loh. Almamater masing-masing kampus yang melekat di tubuh yang bersenyawa dengan jeritan rakyat menuntut itu. Momentum bersejarah Pemilu dan Pilpres pertama secara langsung 2004 menjadi panggilan perjuangan untuk dikawal sesuai dengan asas demokrasi dan suara nurani rakyat.

Dari sana tumbuh persahabatan dengan kesamaan pandangan apa yang akan terus diperjuangkan. Ketika almamater harus dilipat dalam lemari dan toga wisuda usai diraih. Bukan tanda titik untuk berhenti. Karena perjuangan sesungguhnya adalah sepanjang hayat dengan peran dan metode yang boleh saja berubah dan berpindah.

Jalan pengabdian di tengah-tengah masyarakat lima belas tahun belakangan (insyaAllah istiqomah selanjutnya) tentu menjadi pembuktian. Dalam beragam peran dan beraneka dinamika yang membersamainya, tak memadamkan api perjuangan, tak mencerai berai persahabatan, tak menggadaikan harga dan jati diri.

Saat mengutarakan niat berkunjung atau pertama kali berjumpa kembali selalu ada pertanyaan, “Ada agenda apa gerangan berkunjung?”. Saya hanya punya satu jawaban, “Berkunjung dengan segala keaslian maknanya”.

Mungkin selama ini jika ada yang berkunjung identik dengan mau minta bantuan hingga pinjam uang, antar undangan hingga mempromosikan sesuatu. Supaya perjumpaan tak menguap sekadar ruang nostalgia, tentu di akhir perlu ada sharing apa yang perlu dan bisa dikolaborasi bersama. (*)


Cordova Street, 10062026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_10#Perjuangan #Persahabatan #Pengabdian #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

130 [RUPIAH SOEHARTO]

  Soeharto Presiden ke-2 RI yang memerintah selama 31 tahun dan 70 hari, sejak 27 Maret 1968 hingga 21 Mei 1998. Presiden Indonesia yang menjabat paling lama. Lahir hari ini 105 tahun yang lalu. Tepat pada tanggal 8 Juni 1921. Wafat di Jakarta pada 27 Januari 2008. Ketika awal menjadi pemimpin RI, nilai rupiah Rp150,00/USD. Sebelum krisis 1997 stabil pada Rp2.000/USD, hingga ketika puncak krisis 1998 rupiah melemah hingga angka Rp16.800,00/USD. Pada masa Soeharto dikeluarkan uang kertas bergambar beliau dengan nilai nominal Rp50.000. Walau ketika reformasi 1998 saya masih berusia Sekolah, dalam hati saya SETUJU SOEHARTO MUNDUR saat itu. Ini penting agar postingan ini tidak salah tafsir dan melabeli saya sebagai antek-anteknya. Angka Rp16.800,00/USD di ujung pemerintahan Soeharto menjadi nilai tukar terlemah rupiah sepenjang sejarah republik. Hingga saat sang mantan menantunya, Prabowo Subianto pada bulan Juni 2026 memecah rekor itu. Rupiah anjlok di posisi lebih dari Rp18.0...

128 [PEGANGAN HIDUP]

  Saya membuka sebuah majalah lama yang sudah tidak terbit lagi. Majalah Tarbawi edisi 137/th 8 memuat lima nasihat dari Syaqiq al-Balkhi rahimahullah (wafat 810 M) .   Pertama, “Sembahlah Allah swt sebesar kebutuhanmu kepada-Nya.” Adakah sesaat saja diri ini bisa lepas dari kebutuhan atas nikmat yang diberikan oleh-Nya?   Kedua, “Ambillah dunia sekadar memenuhi kebutuhan hidupmu.” Kebutuhan ada titik capainya. Keinginan tak akan pernah berujung walau sudah meraihnya, ia terus ada lagi tanpa henti.   Ketiga, “Berbuatlah dosa sekadar kekuatanmu menanggung siksa-Nya.” Hidup bukan sesukanya, tapi semampu menanggung resikonya. Tak satu pun yang luput dari pertanggungjawaban.   Keempat, “Berbekallah di dunia sebanyak kebutuhanmu di alam kubur.” Lebih baik kelebihan bekal daripada memikul beban yang berlebihan. Tak seorang pun mau berbagi beban saat tak bisa saling melihat urusan orang lain kelak.   Kelima, “Berbuatlah untuk mendapat surga sesuai dengan kedud...