Setiap kita kenal tulisan, ada tulisan tangan,
tulisan cetak atau tulisan digital. Saya yan terlahir sebagai generasi milenial
(gen X) mengalami periode dari tulisan tangan hingga menulis digital.
SD kelas 1-3 menulisan tangan dengan pensil (mudah
dihapus jika salah) dan sempat menulis sambung dengan buku tulis bergaris
khusus. Kelas 4 hingga sekarang menulis dengan pulpen. Kelas 5 belajar menulis
dengan mesin tik dengan 11 jari (dua jari telunjuk), ini membantu saat membuat
laporan praktikum semester 1-3 ketika kuliah.
SMA mulai mengenal menulis dengan komputer masih
juga dengan 11 jari, ini menjadi modal membuat makalah tugas dan laporan saat
mahasiswa. Tahun 2011 saat memiliki HP Blackberry
mulai menikmati sensasi baru menulis dengan dua jempol.
Bagi mereka yang pernah merasakan menulis tangan
dengan pulpen dan kertas ada sensasi yang tak serta merta dikalahkan oleh kecanggihan
teknologi AI sekalipun. Ia menjadi identitas dan karakter seseorang yang dengan
mudah diterka.
Usai ujian akhir semester saya dipanggil oleh
seorang dosen “killer”, pasalnya nama
saya ada di absen tapi lembar jawaban tak didapatinya. Ada tiga lembar jawaban
tanpa identitas. Saya mengklaim salah satu lembar jawaban dengan nilai 85
sambil menunjukan buku catatan kuliah. Tulisannya identik. Sensasi punya
identitas yang tak mudah untuk ditiru.
Menulis tangan punya sensasi membaca berkali-kali.
Membaca saat menyalin atau meringkas, membaca ketika merevisi tulisan dan
membaca lagi waktu mengetiknya. Ini menjadi sensasi bagi otak menyimpan memori
dengan kuat.
Menulis tangan, cepat menangkap lintasan ide. Saat
memulai tulisan, betapa cekatan membuat coretan outline dengan goresan di kertas. Di tengah menulis bila ada
sekelebat ide, segera menangkap dengan coretan singkat, sebelum ia menguap dan
sulit dipanggil kembali. Sensasi sat set
begini bagi saya nikmatnya mengabadikan ide.
Merevisi dengan coretan tangan cocok dalam segala
kondisi. Saya orang yang masih asyik menikmati proses perbaikan dari teks yang
dicetak. Pasalnya walau dengan bentuk fisik yang besar dan berat, tapi bisa
sambil berbaring, dalam perjalanan, saat mengantri yang panjang. Bahkan ketika android kita terkendala sinyal internet
atau baterainya kolaps hingga di
dalam pesawat terbang sekalipun.
Tulisan tangan punya sensasi autentik, kental
mewakili identitas penulisnya yang membawa karakter khas tanpa harus membaca
lama tulisan mereka.
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_04 #Berbagi #Tulisan #TulisanTangan #Sensasi #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar