Langsung ke konten utama

125 [SENSASI TULISAN TANGAN]

 


Setiap kita kenal tulisan, ada tulisan tangan, tulisan cetak atau tulisan digital. Saya yan terlahir sebagai generasi milenial (gen X) mengalami periode dari tulisan tangan hingga menulis digital.

SD kelas 1-3 menulisan tangan dengan pensil (mudah dihapus jika salah) dan sempat menulis sambung dengan buku tulis bergaris khusus. Kelas 4 hingga sekarang menulis dengan pulpen. Kelas 5 belajar menulis dengan mesin tik dengan 11 jari (dua jari telunjuk), ini membantu saat membuat laporan praktikum semester 1-3 ketika kuliah.

SMA mulai mengenal menulis dengan komputer masih juga dengan 11 jari, ini menjadi modal membuat makalah tugas dan laporan saat mahasiswa. Tahun 2011 saat memiliki HP Blackberry mulai menikmati sensasi baru menulis dengan dua jempol.

Bagi mereka yang pernah merasakan menulis tangan dengan pulpen dan kertas ada sensasi yang tak serta merta dikalahkan oleh kecanggihan teknologi AI sekalipun. Ia menjadi identitas dan karakter seseorang yang dengan mudah diterka.

Usai ujian akhir semester saya dipanggil oleh seorang dosen “killer”, pasalnya nama saya ada di absen tapi lembar jawaban tak didapatinya. Ada tiga lembar jawaban tanpa identitas. Saya mengklaim salah satu lembar jawaban dengan nilai 85 sambil menunjukan buku catatan kuliah. Tulisannya identik. Sensasi punya identitas yang tak mudah untuk ditiru.

Menulis tangan punya sensasi membaca berkali-kali. Membaca saat menyalin atau meringkas, membaca ketika merevisi tulisan dan membaca lagi waktu mengetiknya. Ini menjadi sensasi bagi otak menyimpan memori dengan kuat.

Menulis tangan, cepat menangkap lintasan ide. Saat memulai tulisan, betapa cekatan membuat coretan outline dengan goresan di kertas. Di tengah menulis bila ada sekelebat ide, segera menangkap dengan coretan singkat, sebelum ia menguap dan sulit dipanggil kembali. Sensasi sat set begini bagi saya nikmatnya mengabadikan ide.

Merevisi dengan coretan tangan cocok dalam segala kondisi. Saya orang yang masih asyik menikmati proses perbaikan dari teks yang dicetak. Pasalnya walau dengan bentuk fisik yang besar dan berat, tapi bisa sambil berbaring, dalam perjalanan, saat mengantri yang panjang. Bahkan ketika android kita terkendala sinyal internet atau baterainya kolaps hingga di dalam pesawat terbang sekalipun.

Tulisan tangan punya sensasi autentik, kental mewakili identitas penulisnya yang membawa karakter khas tanpa harus membaca lama tulisan mereka.

Cordova Street, 04062026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_04 #Berbagi #Tulisan #TulisanTangan #Sensasi #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

121 [BUKU KLOTER HAJI]

  “Menulis membuat kita abadi! Satu buku sebelum mati, Bisa! Jadikan salah satu cita-cita hidup.” (Asma Nadia)   Setiap ada yang meminang buku karya saya untuk dibaca, sebisa mungkin menghadirkan rasa sebagaimana pertama kali mengirimkan buku karya pertama saya pada pembaca. Buku pertama bagi para penulis menjadi titik istimewa yang bersejarah dalam hidupnya. Ia telah berani berbicara bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi pada lebih banyak orang. Ia sudah kian bertanggungjawab dari sekadar berucap yang kadang banyak dilupakan orang karena dianggap basa basi, menjadi berkata sependek apa pun, namun abadi untuk dibuka kembali kapanpun kala luput dari ingatan diri. Ia telah menuntaskan rangkaian aksara yang selama ini menjadi miliknya sendiri, menjadi punya orang banyak yang membacanya. Ia telah menyelesaikan ketekunan menyusun halaman demi halaman yang bukan hanya menyita waktu, tapi juga rasa yang mewakili jiwanya, pesan yang mendelegasikan pikirannya. Pagi ini te...

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

  Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu. Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan. Pada tahun 19...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...