Langsung ke konten utama

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

 


Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu.

Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003.

Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan.

Pada tahun 1982, Moh. Natsir pencetus “Mosi Integral” yang kemudian dikenal dengan NKRI sudah mewanti, “Sekarang ini perkataan ‘Anti-Pancasila’ sudah sangat mudah orang menyebutnya dan sangat banyak dipakai sebagai alat pemukul golongan-golongan atau orang yang berbeda paham dengan orang yang memakainya. Ini satu hal yang menyedihkan.”

Pancasila itu perekat bukan untuk menyikat, alat merangkul bukan untuk memukul, sebagai pemersatu dari saking banyaknya perbedaan dan keragaman bangsa Indonesia.

Cordova Street, 01062026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_01 #Pancasila #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

161 [ASRAMA DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

  Sepenuhnya tidak janjian jumpa berempat. Awalnya cuma dengan Sahrel Gunawan @sahrelgunawan_ mahasiswa pasca sarjana UGM yang sedang mudik liburan. Usai Jumatan Sahrel ketemu Rasdan dan Ramadhan. Akhirnya kami duduk satu meja di gerobak mie ayam samping masjid usai Jumatan. Sahrel Gunawan angkatan 2018, Rasdan dan Ramadan angkatan 2021 Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rasdan dan Ramadan lulus September 2025 lalu. Sedang Sahrel jadi mahasiswa UGM dengan beasiswa LPDP mulai semester ganjil tahun lalu. Kami nostalgia kehidupan di Asrama Mahasiswa UTS, setidaknya perubahan sebelum dan pasca covid 19. Asrama tak bisa disamakan dengan asrama santri pondok pesantren yang ketat dengan aturan. Atau sebebas ngekos di rumah susun yang sangat longgar tanpa ada kegiatan bersama yang menyatukan. Asrama hingga menjelang covid diperuntukan untuk anak semester satu. Maunya sih semua semester, tapi fasilitas tidak selengkap UI, IPB atau kampus besar di Jawa. Apalagi UTS swasta. Pokoknya...