Langsung ke konten utama

123 [NIRU AFI]

 


Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga.

Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas.

Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa.

Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul dan menembus penghalang seperti kelambu putih itu akan menghasilkan gambar yang cantik dan estetik. Asap yang hampir terlihat di sepanjang perjalanan berasal dari sampah dedaunan dan ranting kecil yang dibakar. Ini cara praktis dan sederhana selain membersihkan pekarangan juga untuk berdiang (menghangatkan diri) duduk atau berdiri melingkari perapian itu.

Jika di tengah jalan menggigil, kami tak kesulitan untuk menghangatkan badan. Berhenti sebentar, menepi di pinggir jalan bergabung dengan masyarakat yang juga sedang berdiang. Kami suku Mbojo (Bima) menyebutnya “Niru Afi”. Niru artinya berdiang, menghangatkan diri, dan afi artinya api. Niru Afi tradisi berdiang atau menghangatkan diri di dekat api.

Alam menghadirkan bentang tantangan dan hamparan jalan keluarnya sekaligus. Manusia hanya diminta berpikir untuk mendekatkan dan menghubungkan keduanya agar bisa menaklukan dan menjadi pengelola semesta yang bijak.

Cordova Street, 02062026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_02 #NiruAfi #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

121 [BUKU KLOTER HAJI]

  “Menulis membuat kita abadi! Satu buku sebelum mati, Bisa! Jadikan salah satu cita-cita hidup.” (Asma Nadia)   Setiap ada yang meminang buku karya saya untuk dibaca, sebisa mungkin menghadirkan rasa sebagaimana pertama kali mengirimkan buku karya pertama saya pada pembaca. Buku pertama bagi para penulis menjadi titik istimewa yang bersejarah dalam hidupnya. Ia telah berani berbicara bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi pada lebih banyak orang. Ia sudah kian bertanggungjawab dari sekadar berucap yang kadang banyak dilupakan orang karena dianggap basa basi, menjadi berkata sependek apa pun, namun abadi untuk dibuka kembali kapanpun kala luput dari ingatan diri. Ia telah menuntaskan rangkaian aksara yang selama ini menjadi miliknya sendiri, menjadi punya orang banyak yang membacanya. Ia telah menyelesaikan ketekunan menyusun halaman demi halaman yang bukan hanya menyita waktu, tapi juga rasa yang mewakili jiwanya, pesan yang mendelegasikan pikirannya. Pagi ini te...

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

  Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu. Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan. Pada tahun 19...