“Menulis
membuat kita abadi! Satu buku sebelum mati, Bisa! Jadikan salah satu cita-cita
hidup.”
(Asma Nadia)
Setiap ada yang meminang buku karya saya untuk dibaca,
sebisa mungkin menghadirkan rasa sebagaimana pertama kali mengirimkan buku
karya pertama saya pada pembaca.
Buku pertama bagi para penulis menjadi titik istimewa yang
bersejarah dalam hidupnya. Ia telah berani berbicara bukan hanya pada dirinya
sendiri, tapi pada lebih banyak orang. Ia sudah kian bertanggungjawab dari
sekadar berucap yang kadang banyak dilupakan orang karena dianggap basa basi, menjadi
berkata sependek apa pun, namun abadi untuk dibuka kembali kapanpun kala luput
dari ingatan diri.
Ia telah menuntaskan rangkaian aksara yang selama ini
menjadi miliknya sendiri, menjadi punya orang banyak yang membacanya. Ia telah
menyelesaikan ketekunan menyusun halaman demi halaman yang bukan hanya menyita
waktu, tapi juga rasa yang mewakili jiwanya, pesan yang mendelegasikan
pikirannya.
Pagi ini tepat hari ketiga Iduladha (12 Zulhijah 1447H) saya
mengirim dua buku karya, “Hidup Adalah Catatan” dan “Pemuda Inspirasi Wajah
Negeri” ke Yogyakarta. Pesan dari pembaca yang saya juga belum mengenal
sebelumnya, masuk di hari pertama libur lebaran, waktu sedang sibuknya umat
Islam menunaikan shalat Ied dan berkurban di tempatnya masing-masing. Ini paket
buku pertama yang saya kirim masih di hari lebaran.
Ketika mengirim paket buku ini ada dua hal yang saya
renungkan.
Pertama, buku tak
bisa mati. Bagi kebanyakan buku yang tahun terbitnya telah lama dan ditulis
oleh bukan penulis ternama, apalagi pemula. Selalu beranggapan buku itu sudah
tidak laku, sudah tak ada yang mau membelinya. Jika membaca dengan diberikan
gratis, pasti banyak. Saya menjadi sebagian yang tidak menganut “mahzab” itu. Contohnya
buku yang saya kirim hari ini tiba-tiba saja ada yang berminat.
Tulisan yang telah dipublikasikan atau diterbitkan dalam
bentuk buku, ia sudah diwakafkan oleh penulisnya tidak lagi menjadi milik dan
konsumsi pribadinya, tapi sudah dilepas pada semesta. Biarkan semesta bekerja
dan takdir-takdir mata yang telah Allah swt tetapkan menjadi pembacanya entah
sampai kapan yang penulisnya pun tak dapat mengkalkulasi.
Kedua, perjalanan
buku-buku membersamai kepulangan jamaah haji nusantara pada berabad-abad silam.
Perjalanan haji era sekarang hanya sebulan setengah, bahkan bisa lebih ringkas.
Namun pada masa silam bisa hingga bertahun-tahun lamanya. Pada masa lalu
sebelum menggunakan moda transportasi udara, para jamaah haji menggunakan kapal
laut sederhana mengarungi samudera dengan badainya yang ganas, juga para
perompak atau bajak laut yang mengancam jiwa.
Dalam Berhaji di Masa Kolonial, M
Dien Majid menerangkan, jamaah haji Nusantara pada abad ke-17 menumpangi
kapal-kapal dagang milik orang Arab atau India. Pelayaran yang normal dari Asia
Tenggara ke Jeddah membutuhkan waktu hanya lima atau enam bulan. Tapi
kebanyakan perjalanan haji pada masa itu bisa memakan waktu tiga hingga empat
tahun. Tak sedikit dari mereka yang kerap bekerja menghabiskan waktu di daerah
sekitar embarkasi atau Makkah untuk menambah uang dan bekal.
Bahkan sebagiannya sengaja menetap beberapa saat di Makkah
untuk mempelajari Islam. Hal ini juga yang dilakukan oleh para ulama-ulama
nusantara. Ketika pulang kembali ke tanah air, mereka juga membawa kitab-kitab
tentang Islam untuk di dakwahkan isinya.
Saya tak bermaksud menyamakan buku receh saya dengan kitab-kitab
karya ulama yang datang ke tanah air melalui jalur “kloter haji”, tentu jauh
sekali seperti langit dan atap rumah. Namun, saya cuma ingin mensyukuri nikmat-Nya
pada momen lebaran Iduladha tahun ini buku saya dapat berangkat menemui pembacanya.
Pesan utama dari “kloter haji” ini, mari menulis,
memantaskan dan menuntaskannya hingga menjadi karya yang bisa menjelajah kemana
saja pembacanya berada. Dan ia menjadi ibadah jariyah yang terbuka dilakukan
oleh siapa saja, tak perlu waktu bertahun-tahun seperti antrian daftar haji.(*)
Cordova Street, 29 Mei 2029
#MariBerbagiMakna #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #HidupAdalahCatatan
#InspirasiWajahNegeri #Buku #Haji #KloterHaji #Lebaran
@rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar