Langsung ke konten utama

121 [BUKU KLOTER HAJI]

 


“Menulis membuat kita abadi! Satu buku sebelum mati, Bisa! Jadikan salah satu cita-cita hidup.”

(Asma Nadia)

 

Setiap ada yang meminang buku karya saya untuk dibaca, sebisa mungkin menghadirkan rasa sebagaimana pertama kali mengirimkan buku karya pertama saya pada pembaca.

Buku pertama bagi para penulis menjadi titik istimewa yang bersejarah dalam hidupnya. Ia telah berani berbicara bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi pada lebih banyak orang. Ia sudah kian bertanggungjawab dari sekadar berucap yang kadang banyak dilupakan orang karena dianggap basa basi, menjadi berkata sependek apa pun, namun abadi untuk dibuka kembali kapanpun kala luput dari ingatan diri.

Ia telah menuntaskan rangkaian aksara yang selama ini menjadi miliknya sendiri, menjadi punya orang banyak yang membacanya. Ia telah menyelesaikan ketekunan menyusun halaman demi halaman yang bukan hanya menyita waktu, tapi juga rasa yang mewakili jiwanya, pesan yang mendelegasikan pikirannya.

Pagi ini tepat hari ketiga Iduladha (12 Zulhijah 1447H) saya mengirim dua buku karya, “Hidup Adalah Catatan” dan “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri” ke Yogyakarta. Pesan dari pembaca yang saya juga belum mengenal sebelumnya, masuk di hari pertama libur lebaran, waktu sedang sibuknya umat Islam menunaikan shalat Ied dan berkurban di tempatnya masing-masing. Ini paket buku pertama yang saya kirim masih di hari lebaran.

Ketika mengirim paket buku ini ada dua hal yang saya renungkan.

Pertama, buku tak bisa mati. Bagi kebanyakan buku yang tahun terbitnya telah lama dan ditulis oleh bukan penulis ternama, apalagi pemula. Selalu beranggapan buku itu sudah tidak laku, sudah tak ada yang mau membelinya. Jika membaca dengan diberikan gratis, pasti banyak. Saya menjadi sebagian yang tidak menganut “mahzab” itu. Contohnya buku yang saya kirim hari ini tiba-tiba saja ada yang berminat.

Tulisan yang telah dipublikasikan atau diterbitkan dalam bentuk buku, ia sudah diwakafkan oleh penulisnya tidak lagi menjadi milik dan konsumsi pribadinya, tapi sudah dilepas pada semesta. Biarkan semesta bekerja dan takdir-takdir mata yang telah Allah swt tetapkan menjadi pembacanya entah sampai kapan yang penulisnya pun tak dapat mengkalkulasi.

Kedua, perjalanan buku-buku membersamai kepulangan jamaah haji nusantara pada berabad-abad silam. Perjalanan haji era sekarang hanya sebulan setengah, bahkan bisa lebih ringkas. Namun pada masa silam bisa hingga bertahun-tahun lamanya. Pada masa lalu sebelum menggunakan moda transportasi udara, para jamaah haji menggunakan kapal laut sederhana mengarungi samudera dengan badainya yang ganas, juga para perompak atau bajak laut yang mengancam jiwa.

Dalam Berhaji di Masa Kolonial, M Dien Majid menerangkan, jamaah haji Nusantara pada abad ke-17 menumpangi kapal-kapal dagang milik orang Arab atau India. Pelayaran yang normal dari Asia Tenggara ke Jeddah membutuhkan waktu hanya lima atau enam bulan. Tapi kebanyakan perjalanan haji pada masa itu bisa memakan waktu tiga hingga empat tahun. Tak sedikit dari mereka yang kerap bekerja menghabiskan waktu di daerah sekitar embarkasi atau Makkah untuk menambah uang dan bekal.

Bahkan sebagiannya sengaja menetap beberapa saat di Makkah untuk mempelajari Islam. Hal ini juga yang dilakukan oleh para ulama-ulama nusantara. Ketika pulang kembali ke tanah air, mereka juga membawa kitab-kitab tentang Islam untuk di dakwahkan isinya.

Saya tak bermaksud menyamakan buku receh saya dengan kitab-kitab karya ulama yang datang ke tanah air melalui jalur “kloter haji”, tentu jauh sekali seperti langit dan atap rumah. Namun, saya cuma ingin mensyukuri nikmat-Nya pada momen lebaran Iduladha tahun ini buku saya dapat berangkat menemui pembacanya.

Pesan utama dari “kloter haji” ini, mari menulis, memantaskan dan menuntaskannya hingga menjadi karya yang bisa menjelajah kemana saja pembacanya berada. Dan ia menjadi ibadah jariyah yang terbuka dilakukan oleh siapa saja, tak perlu waktu bertahun-tahun seperti antrian daftar haji.(*)

Cordova Street, 29 Mei 2029

#MariBerbagiMakna #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #HidupAdalahCatatan #InspirasiWajahNegeri #Buku #Haji #KloterHaji #Lebaran

@rehatiwan @rehatiwaninspiring

www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[PADANG CINTA]

"Pertemuan dan perpisahan serta peristiwa yang terjadi diantara keduanya tak luput sesaat pun dari-Nya. Kisah cinta anak manusia dalam episode diatas terus mengalir hingga muara akhir waktu bumi. " Arafah, setiap tahunnya menjadi tempat bertemunya jutaan (tahun 2019 2.489.406 orang) umat muslim dunia yang melaksanakan ibadah haji. Wukuf di arafah merupakan salah satu rukun haji yang wajib dipenuhi.  Semua manusia berkumpul dengan pakaian dua lembar kain ihram yang sama, berdo'a pada Rabb yang sama, menghadap kiblat yang sama, di padang yang sama, Arafah. Melepaskan semua dimensi dan asesoris keduniaan yang selama ini disandang. Gemuruh dzikir dan beraneka pujian pada-Nya, menjadi terasa lebih dalam. Kekerdilan diri begitu nampak, kecintaan pada-Nya kian membuncah.  Arafah, ketika haji wada (haji terakhir) Rasulullah SAW menerima wahyu terakhir dan berkhutbah bahwa pada hari itu Islam sebagai agama telah sempurna. Sebuah puncak perjuangan Rasulullah dan para sa...