Langsung ke konten utama

15 [BINTANG DALAM GULITA] #30 Hari Bercerita

 

Saya masih ingat pelajaran tentang rasi bintang saat SD (Sekolah Dasar). Zaman dulu untuk menentukan arah dengan melihat bintang di langit. Konon Salah satu catatan tertua tentang rasi bintang berasal dari bangsa Babilonia sekitar 3000 tahun yang lalu. Para pelaut untuk mengetahui arah navigasi akan mengacu pada rasi bintang. Bintang menjadi petunjuk jalan dalam gelap malam dan luasnya samudera.
 
Kemudian pada sekitar abad ke-2 hingga ke-3 baru ditemukan kompas yang hanya digunakan untuk ramalan di Tiongkok. Pada abad ke-11 baru diadopsi untuk navigasi maritim. Dan makin berkembang pada sekitar abad ke-9 hingga 15, saat Ibnu Majid yang memiliki nama lengkap Syihabudin Ahmad bin Majid yang berasal dari Bani Tamim, salah satu kabilah di provinsi Najed, Arab Saudi, menemukan kompas yang memiliki 32 arah mata angin.
Untuk menjadi bintang yang tidak hanya penerang, tapi juga penunjuk arah harus berani menaklukan gulitanya malam. Karena pada waktu malamlah takdirnya berperan. Bila menjadi bintang di luar waktu malam, itu hal yang mustahil.
 
Dalam hidup juga demikian. Jika ingin menjadi bintang harus punya kemampuan memantulkan cahaya, karena bintang tidak memiliki cahaya sendiri. Artinya tidak tinggal diam untuk mencari sumber cahaya itu.
 
Lalu bisa menaklukan di ruang mana ia berperan, bukan baperan. Seperti apa saja tantangan yang harus ditaklukan, segulita malam sekalipun. Sejauh dan selama apa pun menunggu datangnya cahaya, kemudian memantulkannya hingga objek yang membutuhkan.
 
"Jika ingin menjadi bintang yang paling bersinar, jangan takut menembus gulitanya malam."
 
15 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2615 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...

139 [KEBAHAGIAAN ABADI]

  “Jangan biarkan kebahagiaan Anda bergantung pada sesuatu yang tak mungkin Anda meninggalkannya.” Kadang manusia merasa kekuasaan akan membuatnya bahagia dalam jangka panjang. Kenanglah Fir’aun, apa ada manusia dalam sejarah dengan kekuasaan yang melampauinya? Bahkan ia sendiri mendeklarasikan diri sebagai tuhan. Apakah ia mendapatkan kebahagiaan? Hidupnya selalu dibayangi ketakutan akan ada bayi laki-laki yang lahir, kemudian menghancurkannya, Musa as. Ujung hidupnya jauh dari bahagia, tenggelam di Laut Merah. Kadang manusia merasa kekayaan akan menjadikannya bahagia dalam durasi panjang. Bacalah sejarah Qorun, apa ada manusia sekaya dia? Hingga sekarang jika ada yang menemukan harta terpendam dalam tanah bahkan disebut harta karun. Ia tak mengecap bahagia seutuhnya karena terus berburu harta tanpa henti. Ujung hidupnya ditelah bumi bersama semua hartanya. Nabi Sulaiman as memiliki kekuasaan dan sumberdaya melampaui manusia biasa hingga jin pun masuk dalam daftar asetnya. S...

140 [DIPLOMASI KAUS KAKI]

  Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945 tidak serta merta Indonesia langsung menjadi sebuah negara. Jepang boleh saja menyerah pada sekutu, tapi syahwat penjajah lama Belanda yang tergabung dalam sekutu masih tinggi untuk mencaplok kembali Indonesia. Perlu pengakuan kedaulatan dari negera lain atas kemerdekaan Indonesia, dan ini bukan kerja diplomasi mudah ditengah bangsa yang miskin pasca perang dan terjajah. A.R. Baswedan dan H. Agus Salim bersama tim diplomasi, diutus ke Mesir membawa misi besar: mendapatkan pengakuan internasional. April 1947 mereka terbang. Setelah dua bulan berdiplomasi dan tinggal di Mesir mereka berhasil mendapatkan pengakuan  de jure  Republik Indonesia yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian persahabatan pada 10 Juni 1947. Membawa dokumen penting ke tanah air bukan pekerjaan mudah. Belanda sudah mulai menguasai negeri, termasuk ibu kota Jakarta. Ibu kota pindah ke Yogyakarta. Penjagaan dari segala penjuru dipe...