Langsung ke konten utama

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

 


Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakrawala.
Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata.

Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo (keyboard), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum).

Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut:

PAMAN DOBLANG – WS Rendra

Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?

Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga ghaib memupuk jiwaku.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.

Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?

Kesedaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.

(Depok, 22 April 1984)

Terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Narendra lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Darah seninya mengalir dari kedua orangtua. Ayahnya selain seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, juga  dramawan tradisional. Dan ibunya adalah penari srimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Sejak muda, ia menulis puisi (saat SMP), skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, dan dari almamaternya itu pulalah menerima gelar Doktor Honoris Causa. Selain itu pernah mendapat beasiswa American Academy of Dramatic Arts (1964–1967).

Penyair yang dijuluki “Burung Merak” ini sepulangnya dari Amerika tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman. Namun, sejak 1977 kesulitan manggung karena tekanan politik rezim. Untuk menyambung hidup dan karir ia hijrah ke Ibukota.

Darah seni dan jiwa panggungnya tak pernah beku apalagi mati. Pada 1985, ia mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya. Di atas lahan sekitar 3 hektar Bengkel Teater ini berdiri termasuk didalamnya bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga.

Ia seorang sastrawan kebanggan Indonesia yang mendapat banyak penghargaan, diantaranya: Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996), dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Jiwanya sangat merdeka dan tak tinggal diam melihat ketimpangan sosial juga perilaku penguasa yang melukai keadilan. Bahkan pernah dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru. Ia banyak menyalurkan hal tersebut melalui tulisan dan pementasan teater. Jejak jeritan nuraninya itu terekam dalam buku kumpulan sajak dan puisinya: Ballada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak), Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Pamphleten van een Dichter, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Disebabkan oleh Angin, Orang Orang Rangkasbitung, dan Rendra: Ballads and Blues Poe.

Kumpulan sajak lainnya, State of Emergency, Do'a untuk Anak-Cucu, Perempuan yang Tergusur, Sajak Sebatang Lisong dan Nyanyian Angsa.

Orang-orang kritis pada masa Soeharto tidak dibiarkan berkeliaran, apalagi membakar alam pikiran dan perlawanan masyarakat. Dalam sebuah rapat mahasiswa di Salemba, Jakarta,  1 Desember 1977, ia membaca sajak yang berjudul “Pertemuan Mahasiswa” mengobarkan semangat perlawanan. Pada tahun itu juga, Rendra ditangkap dan menjadi tahanan di Rutan militer Jalan Guntur, Jakarta.

PERTEMUAN MAHASISWA – WS. Rendra

Matahari terbit pagi ini 
mencium bau kencing orok di kaki langit, 
melihat kali coklat menjalar ke lautan, 
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya. 
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini 
memeriksa keadaan.

Kita bertanya : 
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna. 
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga. 
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “ 
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina 
Ada yang bersenjata, ada yang terluka. 
Ada yang duduk, ada yang diduduki. 
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras. 
Dan kita di sini bertanya : 
“Maksud baik saudara untuk siapa ? 
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan 
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya. 
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota. 
Perkebunan yang luas 
hanya menguntungkan segolongan kecil saja. 
Alat-alat kemajuan yang diimpor 
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya : 
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

Sekarang matahari, semakin tinggi. 
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala. 
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : 
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ? 
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini 
akan menjadi alat pembebasan, 
ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam. 
Malam akan tiba. 
Cicak-cicak berbunyi di tembok. 
Dan rembulan akan berlayar. 
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda. 
Akan hidup di dalam bermimpi. 
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari 
matahari akan terbit kembali. 
Sementara hari baru menjelma. 
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan. 
Atau masuk ke sungai 
menjadi ombak di samodra.

Di bawah matahari ini kita bertanya : 
Ada yang menangis, ada yang mendera. 
Ada yang habis, ada yang mengikis. 
Dan maksud baik kita 
berdiri di pihak yang mana !

(Jakarta, 1 Desember 1977) 

Hari ini genap 16 tahun silam sastrawan besar itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Kamis, 6 Agustus 2010 pukul 22.20 WIB pada usia 74 tahun.

Sajak-sajaknya tak pernah mati, akan tetap bersuara saat terlihat ketimpangan sosial. Puisi-puisinya tetap bergema terus saat penguasa mulai menindas rakyatnya dengan ketidakadilann. Walau penanya terhenti menuliskan kata, tapi kicaunya tetap abadi di dahan negeri ini.

KECOA PEMBANGUNAN- WS. Rendra


Salah dagang banyak hutang
Tata bukunya ditulis di awan
Tata ekonominya ilmu bintang
Kecoa..kecoa...ke...co...a.....

Dengan senjata monopoli
Menjadi pencuri
Kecoa...kecoa..ke...co...a...

Dilindungi kekuasaan
Merampok negeri ini
Kecoa, kecoa pembangunan
Ngimpi ngelindur disangka pertumbuhan
Hutang pribadi dianggap hutang bangsa
Suara dibungkam agar dosa berkuasa
Kecoa..kecoa..ke..co...a....

Stabilitas, stabilitas, katanya
Gangsir Bank
Gangsir Bank, kenyataannya
Kecoa..kecoa...ke..co....a...

Keamanan, keamanan, ketenangan katanya
Marsinah terbunuh, petani digusur, kenyataannya
Kecoa pembangunan
Kecoa bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang raja singa
Lebih berbahaya ketimbang pelacuran
Kabut gelap masa depan
Kemarau panjang bagi harapan
Kecoa...kecoa...ke...co....a..

Ngakunya konglomerat
Nyatanya macan kandang
Ngakunya bisa dagang
Nyatanya banyak hutang
Kecoa...kecoa...ke...co..a...

Paspornya empat
Kata buku dua versi
Katanya pemerataan
Nyatanya monopoli
Kecoa...kecoa...ke...co..a...

Cordova Street A-03, 06 Agustus2025
#MariBerbagiMakna #MemungutKatakata #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #InspirasiWajahNegeri
@rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[SALAM PAGI 201: MEKARLAH DI PAGI HARI]

  Assalamu'alaikum Pagi Pagi ini tengok taman di halaman rumah, lihat pucuk-pucuk pepohonan di sekitar, bunga-bunga pada pot-pot kecil di sudut ruang. Resapi aroma wanginya yang merasuk bersama kesegaran udara. Bunganya yang bermekaran, menambah hangat semesta bersama cahaya mentari. Kita tidak salah lihat dan kebetulan menikmati aroma itu pagi ini saja. Kebanyakan bunga memang bermekaran di pagi hari. Ada jam biologis ( ritme sirkandi ) internal yang teratur sedemikan rupa. Mode sinyal otomatis berdasarkan siklusus terang-gelap yang memacu waktu terbaik untuk membuka kelopak dan menutupnya usai menebar aroma. Itu juga terjadi pada manusia, hingga ada waktu terjaga bila tidur dengan durasi waktu tertentu. Bila lekas tidur, cepat pula terbangun. Jika bergadang kelewatan, akan sering bangun kesiangan. Pagi hari sinar matahari menjadikan perubahan suhu memicu sel-sel motorik di pangkal kelopak bunga meregang dan membuka. Rangsangan cahaya dan suhu ini yang secara ilmiah dike...

027 [HR.RASUNA SAID TUTUP USIA]

Namanya terkenal dengan salah satu ruas jalan di Ibu Kota Jakarta, Jalan HR. Rasuna Said. Jujur dari awal saya kira sosok ini pejuang laki-laki. Ternyata setelah membaca lengkap namanya Hajjah Rangkayo Rasuna Said baru terkuak ia seorang wanita pejuang.  Lahir pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau Sumatera Barat. Darah pejuang Dan aktivisnya mengalir sang ayah yang merupakan seorang saudagar dan aktivis Minang, Haji Muhammad Said. Pendidikan dasarnya di Pondok Pesantren Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.  Terkenal dengan tulisan-tulisannya yang sangat tajam. Termasuk saat di penjara Belanda masih sempat menyelundupkan tulisan-tulisannya untuk diterbitkan pada surat kabar. Pidatonya sangat fasih dan membakar semangat perlawan pada Belanda. Pidatonya berjudul "Langkah-langkah memerdekakan Indonesia" pada tahun 1932 dianggap radikal oleh penjajah.  Kutipan dahsyat dari salah satu surat Rasuna Said, "Perjuangan kita adalah perjuangan suci di sisi Alla...

[PERCIKAN SAFARI LITERASI]

Dr. Aidh Al-Qarni menulis, "Membaca buku: Nasehat yang membuahkan tangis, kelembutan yang melegakan, keunikan yang mengandung tawa, kelangkaan yang menajubkan, perkara nan indah, larangan yang menakutkan, ungkapan menawan, pembicaraan yang fasih." Kemudian beliau melanjutkan, "Dengannya didapatkan Basil pikiran brilian, inti dari berita-berita, saringan dari zaman-zaman, ilmu dari krisis-krisis, peristiwa berbagai negeri, siasat para raja, pandangan para ulama, keindahan syair para penyair, pilihan kata para bijak, kedalaman pikiran para filosof, kesucian para ahli hadits, ekstasisme para zahid dan linangan air mata para ahli ibadah." "Menurut saya kita harus bangga menjadi orang Bima karena di alam inilah kita bisa mengelaborasi pikiran-pikiran dan berkontempelasi. (H. Muhammad Lutfi, SE Walikota Bima ) Di tanah ini, ada lebih dari 100 cerita rakyat, Baru 30 porsen kisah kisah itu ditulis dan dibukukan. Maka perlu upaya serius untuk men...