Langsung ke konten utama

184 [RUMAH PEMBELAJARAN DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

 


"Cinta bukan sekadar rasa yang tumbuh. Tapi juga energi yang membuat hidup kita lebih berkualitas. Rutinitas kita punya makna, orang-orang yang tumbuh dengan semangat cinta, setiap potongan waktunya selalu punya makna."

(Buku Bind and Spread Love, halaman 16 "Cinta Memberi Makna")

 

Tiga hari lalu muncul di instagram Sahrel Gunawan postingan persiapan keberangkatan angkatan 257 Beasiswa LPDP S2 Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM. Senang membacanya, saya komentar hanya icon nyala api Description: 🔥. Di jawab oleh Alumni Ilmu Komunikasi Univeristas Teknologi Sumbawa (UTS) angkatan 2018 itu, "Hikmah dari Rumah Pembelajaran dan Sekolah Kepemimpinan, pak."

Sehari kemudian saya telepon memastikan postingan itu dan menanyakan kapan berangkat. Dan tak ketinggalan menanyakan Muhammad Sahidin alumni Psikologi UTS angkatan 2018 yang saat tiba di UTS mereka barengan. Dan mereka juga berasal dari desa yang sama di Sekotong, Lombok Barat. Ternyata juga lolos beasiswa LPDP di Universitas Airlangga, Surabaya. Bahagia mendengar nya. Kami janjian kopi darat. Saya wajib jumpa dengan mereka, karena saat mereka berdua wisuda di UTS saya tidak hadir. Begitu suara hati saya.

Tadi Pagi (11/06/2025) akhirnya saya meluncur ke Sekotong. Melintasi hutan jati, kelokan tajam ditanjakan, meluncur di pinggiran pantai Sekotong Barat dengan degradasi air lautnya dari hijau hingga biru, memandangi kapal-kapal Ferry yang “parkir” di Pelabuhan Lembar di seberang sana. Saya kira sampai di situ saja, ternyata jalur lebih menantang berikutnya baru dimulai saat belok ke kiri menanjak menuju Desa Kedaro. Melewati jalan bukit yang lebih sempit, kiri kanan sebagian besar mata memandang bekas tanaman jagung yang sudah di panen. Pokoknya tidak kalah dengan jalan lintas Pulau Sumbawa dan Kota Bima ke Wera Kabupaten Bima.

Tiba di patung Catur Muka Simpang Empat Dusun Lendang Guar ternyata Sahrel (Ketua Asrama Mahasiswa UTS 2022) sudah menunggu untuk menjemput. Dari situ kami mulai menikmati jalan tak beraspal hingga rumahnya.

Air kelapa muda menjadi hidangan pembuka penghilang dahaga di berugak sederhana depan rumah Kepala Sekolah Kepemimpinan Asrama Mahasiswa UTS 2019 itu, sambil menunggu kedatangan Sahidin yang otw merapat.

Setelah lengkap semuanya, kami memulai nostalgia saat di Asrama Mahasiswa UTS. Asrama bukan sekedar tempat tinggal mereka yang kuliah, tapi harus memiliki perbedaan dengan mahasiswa lain yang kos di luar sana. Harus ada nilai lebih sekadar tempat istirahat. Hingga perlu ada slogan yang dilekatkan padanya, maka terbersitlah “Rumah Pembelajaran”.

Sekolah Kepemimpinan adalah program untuk semester kedua para penghuni asrama yang terpilih dan mendaftarkan diri. Walau masih semester dua mereka harus dibekali banyak ilmu dan skill kepemimpinan setelah tidak tinggal di asrama atau menjadi Senior Resident membimbing adik-adik juniornya. Bekal ini kalau dalam jenjang oganisasi baru di dapat pada tahun kedua atau ketiga. Ada semacam percepatan pembentukan bagi mereka yang ikut sekolah kepemimpinan sehingga siap menjadi kader pemimpin di organisasinya kelak.

Sahrel dan Sahidin ini dua di antara alumni Sekolah Kepemimpinan. Sangat membanggakan. Para pemimpin selain dari warisan genetik keturunan, juga bisa disiapkan dan dibentuk dengan sebuah perencanaan yang matang.

Cordova Street A-03, 11 Juni 2025

#MariBerbagiMakna #reHATIwan #reHATIwanInspiring #MemungutKataKata #Gerimis30Hari #Gerimis_Juni25_11 #IWANwahyudi

@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring

www.rehatiwan.blogspot.com

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...