"Cinta bukan sekadar rasa yang tumbuh. Tapi juga energi
yang membuat hidup kita lebih berkualitas. Rutinitas kita punya makna,
orang-orang yang tumbuh dengan semangat cinta, setiap potongan waktunya selalu
punya makna."
(Buku Bind
and Spread Love, halaman 16 "Cinta Memberi Makna")
Tiga hari lalu muncul di instagram Sahrel Gunawan
postingan persiapan keberangkatan angkatan 257 Beasiswa LPDP S2 Ilmu Politik
dan Pemerintahan UGM. Senang membacanya, saya komentar hanya icon nyala api
. Di
jawab oleh Alumni Ilmu Komunikasi Univeristas Teknologi Sumbawa (UTS) angkatan
2018 itu, "Hikmah dari Rumah Pembelajaran dan Sekolah Kepemimpinan,
pak."
Sehari kemudian saya telepon memastikan postingan itu dan menanyakan kapan berangkat. Dan tak ketinggalan menanyakan Muhammad Sahidin alumni Psikologi UTS angkatan 2018 yang saat tiba di UTS mereka barengan. Dan mereka juga berasal dari desa yang sama di Sekotong, Lombok Barat. Ternyata juga lolos beasiswa LPDP di Universitas Airlangga, Surabaya. Bahagia mendengar nya. Kami janjian kopi darat. Saya wajib jumpa dengan mereka, karena saat mereka berdua wisuda di UTS saya tidak hadir. Begitu suara hati saya.
Tadi Pagi (11/06/2025) akhirnya saya meluncur ke Sekotong. Melintasi hutan jati, kelokan tajam ditanjakan, meluncur di pinggiran pantai Sekotong Barat dengan degradasi air lautnya dari hijau hingga biru, memandangi kapal-kapal Ferry yang “parkir” di Pelabuhan Lembar di seberang sana. Saya kira sampai di situ saja, ternyata jalur lebih menantang berikutnya baru dimulai saat belok ke kiri menanjak menuju Desa Kedaro. Melewati jalan bukit yang lebih sempit, kiri kanan sebagian besar mata memandang bekas tanaman jagung yang sudah di panen. Pokoknya tidak kalah dengan jalan lintas Pulau Sumbawa dan Kota Bima ke Wera Kabupaten Bima.
Tiba di patung Catur Muka Simpang Empat Dusun Lendang Guar ternyata Sahrel (Ketua Asrama Mahasiswa UTS 2022) sudah menunggu untuk menjemput. Dari situ kami mulai menikmati jalan tak beraspal hingga rumahnya.
Air kelapa muda menjadi hidangan pembuka penghilang dahaga di berugak sederhana depan rumah Kepala Sekolah Kepemimpinan Asrama Mahasiswa UTS 2019 itu, sambil menunggu kedatangan Sahidin yang otw merapat.
Setelah lengkap semuanya, kami memulai nostalgia saat di Asrama Mahasiswa UTS. Asrama bukan sekedar tempat tinggal mereka yang kuliah, tapi harus memiliki perbedaan dengan mahasiswa lain yang kos di luar sana. Harus ada nilai lebih sekadar tempat istirahat. Hingga perlu ada slogan yang dilekatkan padanya, maka terbersitlah “Rumah Pembelajaran”.
Sekolah Kepemimpinan adalah program untuk semester kedua para penghuni asrama yang terpilih dan mendaftarkan diri. Walau masih semester dua mereka harus dibekali banyak ilmu dan skill kepemimpinan setelah tidak tinggal di asrama atau menjadi Senior Resident membimbing adik-adik juniornya. Bekal ini kalau dalam jenjang oganisasi baru di dapat pada tahun kedua atau ketiga. Ada semacam percepatan pembentukan bagi mereka yang ikut sekolah kepemimpinan sehingga siap menjadi kader pemimpin di organisasinya kelak.
Sahrel dan Sahidin ini dua di antara alumni Sekolah Kepemimpinan. Sangat membanggakan. Para pemimpin selain dari warisan genetik keturunan, juga bisa disiapkan dan dibentuk dengan sebuah perencanaan yang matang.
Cordova Street A-03, 11 Juni 2025
#MariBerbagiMakna #reHATIwan
#reHATIwanInspiring #MemungutKataKata #Gerimis30Hari
#Gerimis_Juni25_11 #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarpublish_
@rehatiwan @rehatiwaninspiring

Komentar
Posting Komentar