Langsung ke konten utama

176 [SELAMAT JALAN PUA USMAN D GANGGANG]



"Usia boleh tua, jasad bisa hilang, tapi setiap tulisan dan amal akan terus mengabadi sampai hari akhir nanti. Selamat Jalan Pua Usman D Ganggang."

Berita kepergian beliau untuk selamanya baru saya terima kemarin siang. Kaget dan sedih, pastinya. Pagi, siang hingga sore kemarin memang agak sedikit padat aktivitas. Jadi kurang lirik media sosial. 

Pertemuan dengan beliau terakhir kali tanggal 3 Oktober 2024 silam. Siang itu menjelang Dzuhur saya chat menanyakan kondisi dan waktu luang sekitar jam satu siang. Beliau iya kan, dan meluncurlah ke kediaman beliau di Sadia Kota Bima, dengan terlebih dahulu singgah di Alf*m*rt sekadar membeli makanan ringan sebagai buah tangan. 

Beliau menyambut hangat dan menyuguhkan secangkir kopi yang kian mengakrabkan obrolan. Beliau baru keluar dari RSUD Bima setelah dirawat inap 4 hari. Saya bertanya sejak kapan dan bagaimana dulu ceritanya bisa tinggal di Bima dari NTT? Tahun 90 an pasca Timor Timur (sekarang negera Timor Leste) kerusuhan dan merdeka kemudian ia merantau ke Bima. Kemudian mengajar di sekolah dan beberapa kampus di Bima. 

Ketika saya berikan buku "Bind and Spread Love" wajahnya gembira sekali. "Bung terbitkan dimana bukunya? Saya ada juga naskah ini." dengan senyumnya yang khas dan semangat ia bertanya. Akhirnya kami salaman untuk berkolaborasi. Namun, niat itu belum kesampaian hingga ia menghembuskan nafas terakhir hari Selasa Pagi, 3 Juni 2025 di RSUD Komodo, Merombok, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat NTT. 

Tampilannya nyentrik membuatnya berbeda dengan yang lain dan mudah dikenali. Sangat produktif menulis karya sastra maupun opini di media massa. Saya ingat betul pertama kali jumpa darat, setelah lama kenal di dunia maya pada sekitar Mei 2016 di Falcao Cafe, Kota Bima saat ada acara diskusi kebudayaan. 

Pria kelahiran Bambon, Sano Nggaong, Manggarai Barat,  15 Februari 1957 silam selalu memberi nasehat dan motivasi dalam berliterasi. 

Awal Dzulhijjah 2023 kami kehilangan Bang Alan Malingi, kini di awal Dzulhijjah dua tahun berselang Pua Usman menyusul. Kami ditinggal dua orang pegiat literasi, budaya dan sastrawan Bima.

Usia boleh tutup, jasad bisa saja hilang. Tapi, karya dan amal akan selalu dikenang dan mengalir abadi hingga hari akhir nanti. Selamat jalan Pua. 

Cordova Street A-03, 4 Juni 2025
#MariBerbagiMakna #reHATIwan #reHATIwanInspiring #Gerimis30Hari #Gerimis_Juni25_04 #MemungutKataKata #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring 
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...