Langsung ke konten utama

64 [MEMBERI "NYAWA" BUKU] 02/30

 


Sebuah foto tetiba masuk dalam pesan. Dua buah buku (Do the Best dan Bind and Spread Love) telah menemui takdir mata pembacanya. Jauh di Sulawesi Tenggara sana, tepatnya di Konawe Selatan. Dalam pelukan ustadz Ashari Abuhair . Setelah dititip melalui adik-adik KAMMI Kendari yang pekan lalu mengikuti Muktamar di Mataram NTB.

Kadang yang memberatkan untuk Indonesia Timur itu bukan harga buku, tapi ongkos kirimnya. Yang sama dengan harga buku bahkan lebih mahal melangit lagi.

Buku yang menurut pendapat umum merupakan benda mati, sesungguhnya memiliki "nyawa". Ia berasal dari penulisnya dan pembacanya juga untuk penulis dan pembacanya.

Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan hati. Sehingga kata, kalimat dan isinya memiliki "nyawa". Ia menghidupkan dan menggerakan. Sesuatu yang tak berasal dari hati tak akan sampai ke hati dan berumur panjang.

Buku akan "bernyawa" panjang jika ada yang membacanya. Sehingga ia tidak hanya dipajang sebagai benda mati didalam rak atau lemari.

Jika penulisnya tiada, buku karyanya masih memiliki nyawa. "Ketika sebuah karya ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi." (Helvy Tiana Rosa)

Buku yang menginsyafi dan menggerakan pembacanya, menambah nilai "nyawa" pembacanya jauh lebih bermakna dan bermanfaat dibanding sebelumnya.

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak." (Helvy Tiana Rosa)

Mari memberi lebih banyak lagi "nyawa" dengan menyalakan tulisan apapun, dimanapun oleh siapapun. Sudahkah kita menulis hari ini?

02062024

#Gerimis30Hari #Gerimis_Juni24_02 #MariBerbagiMakna #reHATIwan #InspirasiWajahnegeri #IWANwahyudi @gerimis30hari @rehatiwan @Inspirasiwajahnegeri @iwanwahyudi1

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...