Sebuah foto tetiba masuk dalam pesan. Dua buah buku (Do the Best dan Bind and Spread Love) telah menemui takdir mata pembacanya. Jauh di Sulawesi Tenggara sana, tepatnya di Konawe Selatan. Dalam pelukan ustadz Ashari Abuhair . Setelah dititip melalui adik-adik KAMMI Kendari yang pekan lalu mengikuti Muktamar di Mataram NTB.
Kadang yang memberatkan untuk Indonesia Timur itu bukan harga buku, tapi ongkos kirimnya. Yang sama dengan harga buku bahkan lebih mahal melangit lagi.
Buku yang menurut pendapat umum merupakan benda mati, sesungguhnya memiliki "nyawa". Ia berasal dari penulisnya dan pembacanya juga untuk penulis dan pembacanya.
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan hati. Sehingga kata, kalimat dan isinya memiliki "nyawa". Ia menghidupkan dan menggerakan. Sesuatu yang tak berasal dari hati tak akan sampai ke hati dan berumur panjang.
Buku akan "bernyawa" panjang jika ada yang membacanya. Sehingga ia tidak hanya dipajang sebagai benda mati didalam rak atau lemari.
Jika penulisnya tiada, buku karyanya masih memiliki nyawa. "Ketika sebuah karya ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi." (Helvy Tiana Rosa)
Buku yang menginsyafi dan menggerakan pembacanya, menambah nilai "nyawa" pembacanya jauh lebih bermakna dan bermanfaat dibanding sebelumnya.
"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak." (Helvy Tiana Rosa)
Mari memberi lebih banyak lagi "nyawa" dengan menyalakan tulisan apapun, dimanapun oleh siapapun. Sudahkah kita menulis hari ini?
02062024
#Gerimis30Hari #Gerimis_Juni24_02 #MariBerbagiMakna #reHATIwan #InspirasiWajahnegeri #IWANwahyudi @gerimis30hari @rehatiwan @Inspirasiwajahnegeri @iwanwahyudi1

Komentar
Posting Komentar