Langsung ke konten utama

[DAYA TAHAN]

Kenapa masih ada orang yang menjual lilin atau lampu minyak di warung atau pasar perkotaan dimana semua rumah telah terpasang listrik? Bukankah sudah ada lampu emergency yang cenderung lebih praktis, menyala lebih terang, bebas asap, bahkan tidak rentan terhadap bahaya kebakaran.

Kemajuan jaman cenderung akan melindas semua yang tidak sesuai dengan kebutuhan jaman yang kian praktis, cepat, ramah lingkungan bahkan murah. Apakah semua akan secara otomatis akan benar-benar punah dan tergantikan?. Saya rasa semua tergantung daya tahan masing-masing. Seperti itu yang terjadi pada lilin dan lampu minyak. Daya tahan akan makin kuat saat motivasi dan harapan untuk tetap bertahan masih ada.

Lilin tau persis tidak semua orang memiki uang lebih untuk membeli lampu emergency, penjual lampu emergencypun tak sampai ke pelosok paling ujung dan terdalam tempat tinggal para langganan listrik PLN. Lampu minyak juga paham ia tak akan dipake lagi pada hotel berbintang maupun rumah mewah, asapnya juga akan merusak warna cat dinding rumah, aromanya juga akan mengganggu wangi pakaian. 

Lalu apa yang membuat lilin dan lampu minyak memiliki daya tahan hingga kini? Harapan, ya harapan. Harapan bahwa tak selamanya listrik akan menyala, pasti sesekali akan ada gangguan dan pemadaman. Harapan bahwa setiap cahaya akan bertemu dengan takdirnya yang bernama kegelapan. Harapan bahwa memberi pencerahan bukan hak segelintir benda/alat semata. Tapi Harapan milik semua kebaikan yang ingin tetap eksis  dan memberi manfaat pada sekitar.

16122018 21:20 Kamar 1A5
#InspirasiWajahNegeri 
#MariBerbagiMakna
www.inspirasiwajahnegeri.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...