Saya disini hanya satu malam dan satu setengah hari. Ya sekitar cuma 34 jam. Perjalanan darat ke tempat ini pulang pergi 12 jam. Begitulah jika tanah ini memanggil, walaupun sejenak harus kembali.
Pagi sambil sarapan di mulai dengan membahas tentang salah satu tulisan saya di buku "Melawan dengan Damai". Saya berkisah tentang Almarhumah nenek. Dari situ terungkap cerita-cerita orang di sekitar nenek. Memang selama ini obrolan tak sedalam dan luas ini karena belum ketemu tempat yang tepat untuk menyampaikannya.
Setelah bersih-bersih saya meluncur ke bangunan bersejarah. Selain menyimpan cerita kepahlawanan dan kejayaan masa lalu, ia punya kisah kekiniannya. Ya kisah bagaimana bertahan agar bisa menjadi magnet generasi penerus diantara spot lain yang diburu para milenial.
Bersilaturahim ke tempat selanjutnya. Kegalauan kondisi politik daerah yang semakin memanas, wajar karena kurang sebulan pilkada. Setiap orang bercerita kegalauannya masing-masing.
Kemudian saya bergerak ke tempat berikutnya, butuh dua jam perjalanan darat. Sambil bermotor yang lumayan menghadirkan penat, coba mengiventarisir cerita galau sejak pagi. Apakah ini kegalauan sementara atau berkepanjangan?
Untung sesampainya ditempat tujuan tepat adzan dzuhur. Pas, sekalian melepas penat saya menuju masjid paling bersejarah di daerah ini.
.... Bersambung...
Inipun lagu yang diputar supir dalam perjalanan balik isinya super galau, syair-syair curhatan patah hati. Tiba-tiba pesan masuk via WA saya, tanya apakah ada tempat nginap atau kost soalnya lagi tidak punya uang. Nanti saya lanjutkan.... Jalanan tidak bersahabat untuk sambil ngetik
Komentar
Posting Komentar