Langsung ke konten utama

[LILIN KECIL, KESYUKURAN TAK KERDIL]


"Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk pemadaman listrik"

Sejak tadi tengah malam hingga pagi ini terjadi pemadaman listrik. Selain waktunya yang lama, ternyata luas wilayah pemadamannya luas, se pulau Sumbawa. Saya mendapat kepastian itu setelah membaca status dan menghubungi langsung beberapa teman di Sumbawa kota, Dompu hingga Bima. Konon sistem PLN Black Out alias pemadaman total.

"Black Out atau padam total adalah keadaan dimana hilangnya seluruh sumber tenaga pada suatu sistem tenaga listrik. Karena proses bisnis PLN yang kompleks dari hulu ke hilir, antara lain dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Pembangkitan, Transmisi dan Distribusi, maka kehandalan tiap – tiap sistem harus dipertahankan dan dijaga, agar kontinuitas penyaluran tidak terganggu  dan terhindar dari padam total (Black Out)" . Begitu sedikit penjelasan Black Out yang saya copas dari salah satu website.

Ketika listrik padam apalagi dalam jangka waktu lumayan panjang, sudah bisa dipastikan keluh kesah hingga sumpah serapah akan memenuhi status media sosial. Padahal belum seberapa jika dibandingkan dengan berapa lama listrik sudah pernah menyala. Bukan saya membela kelalaian atau ke kurang sigapan PLN (jika memang demikian) dalam masalah black out. Tapi, ini sebuah perasaan yang tidak adil rasanya. Saat listrik menyala pernahkan kita menghitung berapa banyak ungkapan rasa syukur yang terucap (jangan ditanya ucapan terimakasih pada PLN pasti Alfa benar kita kan).

Bisa jadi Allah SWT sesekali mengkondisikan listrik padam bagi kita, sebagai sentilan kecil atas kadar kesyukuran atas nikmat listrik selama ini.

Kita juga secara bersamaan bisa berkaca pada lilin yang menyala saat listrik padam. Ia tak pernah protes atau mogok menyala saat tubuhnya meleleh dan hancur untuk menerangi kegelapan. Lilin tak sekecil ukurannya memberi peran dikala listrik padam. Lilin tak pernah kerdil bersyukur menjalankan fungsinya.

Mari menyalakan lilin kecil seraya bersyukur dan berbahagia, dibanding mengutuk pemadaman listrik. Yang belum tentu mengutuk itu menyebabkan listrik lekas menyala kembali. Jangan sampai hati kita kerdil dalam bersyukur, hingga terbawa dalam  suasana menghadapi dan melalui aktivitas sepanjang hari ini. Selamat memulai hari 

11112019
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
@iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...