Langsung ke konten utama

[GEN PEMENANG MELAWAN DENGAN DAMAI]

Kemenangan diraih dari perjuangan, perjuangan muncul dari sebuah kerisauan dan keterpanggilan melawan kondisi yang sangat berjarak antara idealitas dan realitas. 

Saya tidak mengartikan gen pemenang sebatas gen biologis semata. Jika dibatasi demikian maka hanya mengklaim kemenangan hanya milik mereka keturunan para pemenang secara biologis, toh faktanya tak jarang pemenang juga melahirkan para pecundang.
Saya ingin menempatkan gen pemenang ini pada kelompok, komunitas, golongan atau sekumpulan manusia yang mewariskan cita-cita, perjuangan, pengorbanan para pemenang pada masa lampau dan menariknya dalam realitas kebangkitan kemenangan kembali saat ini.  Seperti itulah sejarah ditempatkan pada realitas hari ini. Tak sekedar heroisme masa lalu dan nostalgia kemarin yang selalu dituturkan tanpa henti dengan berapi, tapi juga hikmah setiap itu semua yang menjadi darah dan energi yang menggerakkan generasi hari ini untuk meraih capaian kemenangan melebih mereka di masa lalu.

Setelah pertemuan 8 bulan yang lalu sebelum pandemi, Allah menakdirkan saya kembali bertemu aktifis Dompu Noval Palandi @noval_palandi. Ada yang berubah, bahkan jika dibandingkan dengan hari-hari biasa sebelum pandemi. Pandemi Covid-19 yang panjang dan belum bisa dipastikan kapan selesainya ini tak selamanya membawa pada keterpurukan. Allah menakdirkan semasa pandemi kami bisa merampungkan buku. Noval dengan buku pertamanya " Inspirasi dari Gen Pemenang" dan saya buku kedua selama pandemi ini " Melawan dengan Damai, Renungan Inspiratif dimasa Pandemi."

Alhamdulillah Ya Rabb dalam setiap takdirMu yang terpahit sekalipun dalam kacamata manusia, ia tak ada yang sia-sia bahkan menjadi sesuatu yang terbaik dariMu bagi kami.

BEST Kuliner Dompu
14112020
#IWANWahyudi #MariBebagiMakna #InspirasiWajahNegeri 
@iwanwahyudi1 
@inspirasiwajahnegeri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...