Langsung ke konten utama

[PERIHNYA PERPISAHAN]

Dalam sebuah komunitas akan terjalin persahabatan dan kebersamaan. Dalam proses panjang menumbuhkannya memerlukan pemeliharaan diantaranya dengan kecintaan dan kesetiaan. Sebuah refleksi inisiatif yang diperlukan oleh jiwa-jiwa yang tulus dalam persahabatan.

Bermula dengan saling mengenal (ta'aruf). Mengenal dalam arti hakiki yaitu ketika dua anak manusia saling mengenal dengan ketulusan. Melalui proses saling menyapa dan mengenal bukan sekedar nama semata, namun identitas lainnya.

Proses itu kemudian akan naik pada level saling memahami eksistensi masing-masing (tafahum). Langkah kedua dalam memahami eksistensi persahabatan dan kebersamaan tentang jalan pikiran, perasaan jiwa, watak dan karakter dasar serta kecenderungan masing-masing hingga menghadirkan dan menumbuhkan kesadaran pentingnya saling menghargai.

Hingga persahabatan sejati itu lahir dari proses kerjasama dalam saling tolong-menolong (ta'awun). Kristalisasi dari rasa cinta seseorang pada sahabatnya akan tumbuh menjadi persahabatan sejati. Akan tetapi semua harus bermuara pada landasan ikhlas karena Allah.

Dalam kehidupan, perpisahan dengan sesuatu yang dicintai akan sangat menyakitkan karena kekalnya persahabatan dan kebersamaan adalah peristiwa yang disukai dan dirindukan setiap orang. Walaupun perpisahan merupakan peristiwa yang perih, sedih dan menyakitkan,  namun akan mengajarkan lebih dalam berharganya persahabatan agar dijaga sebaik-baiknya.

"Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Anfal:63).

Jika persahabatan dan kebersamaan dalam komunitas tidak dilandasi oleh ketulusan, kesetiaan dan kecintaan maka peluang berpisah sangat terbuka. Baik perpisahan di dunia maupun akhirat kelak yang tentu lebih menyakitkan.

08092020
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri
@iwanwahyudi1
@inspirasiwajahnegeri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[TAK CUKUP COPY, PASTE DAN SHARE JUGA] #NulisRabilulAwal

  Hidup tak sekadar puas dengan kopi ( copy ), tapi lipat gandakan kebahagiaan juga kebaikan dengan paste (tempel) dan share (berbagi) hal itu ke banyak tempat, orang dan waktu.   Ada kesenangan yang cuma dipendam dalam diri sendiri saja, padahal bisa dibagi tanpa mengurangi. Ada kebahagiaan sekecil apa itu rupanya yang tak boleh berhenti pada diri saja, perlu dilanjutkan kemana-mana. Banyak kebaikan yang kadang sepele, hanya puas untuk "aku" saja. Padahal bisa digandakan tak hingga.   Jika memasak dan aromanya hingga masuk rumah tetangga, Rasulullah saw. meminta kita melebihkan kuahnya untuk dirasakan tetangga tersebut.   Saat hati patah dan hidup penuh duri sana sini. Kenapa kita perlu senyum saat berjumpa sesama? . Maknai senyum sebagai cara praktis dan gratis bersedekah saat di uji kegagalan dan diterpa kekurangan. Sebagaimana Rasulullah saw. Bilang, senyum pada saudaramu itu sedekah.   Ah itu nampak terlalu mencari validasi atau pencitraan dalam kacamata ...

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[JEDALAH, DENGARKAN AZAN!] #NulisRabiulAwal

  “Azan bukan sekadar seruan penanda waktu salat, setelah terdengar dibiarkan berlalu. Atau terkerdilkan sebatas alarm penanda, dimatikan kemudian aktivitas dilanjutkan.” Salah satu hikmah waktu shalat lima kali sehari, di lima waktu tersebut kita perlujeda sejenak dari beragam aktivitas duniawi. Manusia bukan robot tanpa istirahat, jiwa dan raga bukan benda mati tak perlu jeda sejenak. Salah satu hal terindah adalah dapat menjawab suara azan. Bukan semata menjawab dengan mendirikan shalat yang bisa saja setelah panggilan itu berlalu beberapa waktu. Bahkan penanda jam istirahat dari rutinitas. Tapi, benar-benar menjawab azan itu dengan kalimat yang sama dengan yang terucap oleh muazin saat itu. Siapa yang menjawab panggilan azan seperti seruan muazin dari dalam hatinya, maka akan masuk surga (HR. Muslim, Abu Daud). Umar bin Khatab ra. menyampaikan sabda Rasulullah saw. itu. Siapa di antara kita yang membuang begitu saja tiket ke surga? Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra. menyampaikan sab...