Langsung ke konten utama

[MELITERASIKAN KISAH HIDUP]

“ Tidak ada yang akan menuliskan kisah kita, kecuali kita sendiri “
Tidak semua orang dimuka bumi dilahirkan dari Rahim dan keluarga para pesohor dan orang penting sehingga kisahnya dapat ikut nimbrung bersama sejarah para leluhurnya. Tidak banyak juga mereka yang dalam hidupnya memiliki kisah sukses dan menjadi penguasa sehingga banyak orang mengambil peran menulis biografinya atau bahkan pemerintah sendiri memasukan dalam sebuah bagian kurikulum pelajaran sejarah terhadap sepak terjang sang tokoh.

Hal diatas tak berarti mereka yang tidak pernah dilirik oleh panggung sejarah, tak tersentuh oleh hiruk-pikuk kekuasaan atau tak ditakdirkan muncul dari keluarga terkemuka, dalam hidupnya tak secuilpun memiliki hikmah dalam perjalanan hidupnya, tak separagrafpun jejaknya yang patut dijadikan contoh, bukan berarti hampa akan ide, gagasan bahkan pengalaman hidup yang sederhana namun kaya akan motivasi juga daya dorong untuk bangkit dari keterbatasan hidup.

Pena Yang Tak Berujung, Menjadi Aktivis Mahasiswa Produktif dan Menyejarah adalah buah sederhana perjalanan seorang aktifis mahasiswa Iksan Imanuddin. Tak banyak para aktifis yang dapat mewariskan jejak pemikiran dan perjalanan organisasinya dalam bentuk literasi. Sehingga asam garam keaktifisannya hanya dapat disambung dalam tradisi bertutur atau berkisah yang tentunya akan banyak pengurangan atau penambahan bahkan distrosi kisah sesuai dengan yang dialami oleh pelakunya. 
Keberanian beliau meliterasikan kisah hidup berupa pengalaman saat menjadi aktifis dan rekam jejak sebuah Lembaga Dakwah Mahasiswa di Kampus Universitas Sumbawa (UNSA) Nusa Tenggara Barat, sungguh harus diacungkan jempol. 

Keaktifisannya juga sederhana taka da yang melambungkan namanya dalam pentas ke-NTB-an bahkan nasional atau melakukan hal-hal yang fenomenal, Organisasi yang digeluti dan tempatnya tumbuh dan besar juga berada dikampus yang mungkin dianggap biasa-biasa saja. 

Diantara kelesuan para generasi bangsa akan semangat membaca ditambah oleh gerusan media social yang lebih menarik untuk dikunjungi (ini baru sekedar membaca belum lagi semangat menulis yang tentu kian dibawah itu), setiap kita hendaknya menyadari keberadan buku memiliki kisah dan pesan sendiri. Kisah dan pesan ini satu perjuangan yang memiliki keharuan dan hikmah yang khas. Dari hal-hal sederhana perjuangan hidup yang tentu tak semua mengalaminya adalah salah satu mata air yang dapat menjadi pewarisan tak ternilai bagi siapapun sekarang atau esok, disini atau tempat lain dengan cara meliterasikan kisah hidup tersebut.

08092018 08:27 Kamar 1A5
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri
www.iwan-wahyudi.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[TAK CUKUP COPY, PASTE DAN SHARE JUGA] #NulisRabilulAwal

  Hidup tak sekadar puas dengan kopi ( copy ), tapi lipat gandakan kebahagiaan juga kebaikan dengan paste (tempel) dan share (berbagi) hal itu ke banyak tempat, orang dan waktu.   Ada kesenangan yang cuma dipendam dalam diri sendiri saja, padahal bisa dibagi tanpa mengurangi. Ada kebahagiaan sekecil apa itu rupanya yang tak boleh berhenti pada diri saja, perlu dilanjutkan kemana-mana. Banyak kebaikan yang kadang sepele, hanya puas untuk "aku" saja. Padahal bisa digandakan tak hingga.   Jika memasak dan aromanya hingga masuk rumah tetangga, Rasulullah saw. meminta kita melebihkan kuahnya untuk dirasakan tetangga tersebut.   Saat hati patah dan hidup penuh duri sana sini. Kenapa kita perlu senyum saat berjumpa sesama? . Maknai senyum sebagai cara praktis dan gratis bersedekah saat di uji kegagalan dan diterpa kekurangan. Sebagaimana Rasulullah saw. Bilang, senyum pada saudaramu itu sedekah.   Ah itu nampak terlalu mencari validasi atau pencitraan dalam kacamata ...

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[JEDALAH, DENGARKAN AZAN!] #NulisRabiulAwal

  “Azan bukan sekadar seruan penanda waktu salat, setelah terdengar dibiarkan berlalu. Atau terkerdilkan sebatas alarm penanda, dimatikan kemudian aktivitas dilanjutkan.” Salah satu hikmah waktu shalat lima kali sehari, di lima waktu tersebut kita perlujeda sejenak dari beragam aktivitas duniawi. Manusia bukan robot tanpa istirahat, jiwa dan raga bukan benda mati tak perlu jeda sejenak. Salah satu hal terindah adalah dapat menjawab suara azan. Bukan semata menjawab dengan mendirikan shalat yang bisa saja setelah panggilan itu berlalu beberapa waktu. Bahkan penanda jam istirahat dari rutinitas. Tapi, benar-benar menjawab azan itu dengan kalimat yang sama dengan yang terucap oleh muazin saat itu. Siapa yang menjawab panggilan azan seperti seruan muazin dari dalam hatinya, maka akan masuk surga (HR. Muslim, Abu Daud). Umar bin Khatab ra. menyampaikan sabda Rasulullah saw. itu. Siapa di antara kita yang membuang begitu saja tiket ke surga? Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra. menyampaikan sab...