Setiap kita memiliki waktu, setidaknya anugerah waktu itu dilalui sejak terlahir dimuka bumi, menapaki hari-hari di dunia hingga maut menjemput sebagai batas segala waktu yang dimiliki. Lalu bagaimana menilai apakah waktu-waktu tersebut bernilai kemuliaan atau malah ia hanya sekedar deretan detik demi detik tanpa bobot apapun?
Waktu akan bernilai dan mulia saat ia melahirkan fungsi ketundukan. Hanya orang-orang berimanlah yang mengisi waktunya dengan kepatuhan dan ketundukan. Kepatuhan atas segala yang diperintahkan dan ketundukan dari segala larangan-Nya. Dalam perspektif ketundukan ini dapat terlihat sekali perbedaan siapa yang taat pada aturan-aturan Allah SWT dengan orang-orang yang biasa mempermainkan agama Allah.
Orang yang tidak menghargai sebuah waktu sesungguhnya sedang mengalami problem pemikiran. Kadar problemnya tentu berbeda-beda, ada yang sangat tinggi dan kadar rendah. Tergantung bagaimana sudut pandang mereka. Seperti bagaimana mereka melihat kemuliaan Ramadhan misalnya, kalangan sok intelek dan arogan akan mengatakan bahwa puasa tak ada istimewanya, apa alasannya? Karena puasa bukan hanya dilakukan oleh ummat Islam saja, tapi telah dilakukan oleh ummat-ummat sebelum Islam dan hal itu dikatakan oleh Al-Qur'an. Dikalangan lain yang bekerja diterima matahari akan berdalil bahwa Tuhan akan memahami kesulitannya sehingga tidak berpuasa. Yang lain lagi melewati Ramadhan dengan campur aduk antara kemalasan dan kesibukan rutinitas. Ada juga yang penuh semangat, namun dengan penghayatan yang terbatas.
Berbagai problem paradigmatik ini seakan terus berulang. Karena kita tidak menempatkan semuanya dalam sebuah fungsi mendasar yaitu KETUNDUKAN. Kemuliaan waktu seperti yang dimiliki Ramadhan contohnya, memiliki fungsi ketundukan dan kepasrahan. Masukan segalanya dalam ruh kerinduan bukan paksaan, sepenuh hati bukan separuh hati. Namun hanya orang-orang beriman yang dapat menjalaninya. Orang-orang yang dapat menempatkan kemuliaan waktu pada nilai-nilai ketundukan yang telah digariskanNya.
19052018 15:50 Istana Dalam Loka
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri
#BerbagiMaknaRAMADHAN
www.iwan-wahyudi.com
Komentar
Posting Komentar