Langsung ke konten utama

[RAMADHAN dan NILAI KETUNDUKAN]

Setiap kita memiliki waktu, setidaknya anugerah waktu itu dilalui sejak terlahir dimuka bumi, menapaki hari-hari di dunia hingga maut menjemput sebagai batas segala waktu yang dimiliki. Lalu bagaimana menilai apakah waktu-waktu tersebut bernilai kemuliaan atau malah ia hanya sekedar deretan detik demi detik tanpa bobot apapun?

Waktu akan bernilai dan mulia saat ia melahirkan fungsi ketundukan. Hanya orang-orang berimanlah yang mengisi waktunya dengan kepatuhan dan ketundukan. Kepatuhan atas segala yang diperintahkan dan ketundukan dari segala larangan-Nya. Dalam perspektif ketundukan ini dapat terlihat sekali perbedaan siapa yang taat pada aturan-aturan Allah SWT dengan orang-orang yang biasa mempermainkan agama Allah.

Orang yang tidak menghargai sebuah waktu sesungguhnya sedang mengalami problem pemikiran. Kadar problemnya tentu berbeda-beda, ada yang sangat tinggi dan kadar rendah. Tergantung bagaimana sudut pandang mereka. Seperti bagaimana mereka melihat kemuliaan Ramadhan misalnya, kalangan sok intelek dan arogan akan mengatakan bahwa puasa tak ada istimewanya, apa alasannya? Karena puasa bukan hanya dilakukan oleh ummat Islam saja, tapi telah dilakukan oleh ummat-ummat sebelum Islam dan hal itu dikatakan oleh Al-Qur'an. Dikalangan lain yang bekerja diterima matahari akan berdalil bahwa Tuhan akan memahami kesulitannya sehingga tidak berpuasa. Yang lain lagi melewati Ramadhan dengan campur aduk antara kemalasan dan kesibukan rutinitas. Ada juga yang penuh semangat, namun dengan penghayatan yang terbatas.

Berbagai problem paradigmatik ini seakan terus berulang. Karena kita tidak menempatkan semuanya dalam sebuah fungsi mendasar yaitu KETUNDUKAN. Kemuliaan waktu seperti yang dimiliki Ramadhan contohnya, memiliki fungsi ketundukan dan kepasrahan. Masukan segalanya dalam ruh kerinduan bukan paksaan, sepenuh hati bukan separuh hati. Namun hanya orang-orang beriman yang dapat menjalaninya. Orang-orang yang dapat menempatkan kemuliaan waktu pada nilai-nilai ketundukan yang telah digariskanNya.

19052018 15:50 Istana Dalam Loka
#IWANwahyudi 
#MariBerbagiMakna 
#InspirasiWajahNegeri 
#BerbagiMaknaRAMADHAN
www.iwan-wahyudi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

[SALAM PAGI: 199 TAK LARUT DALAM KESEDIHAN]

  Assalamu'alaikum Pagi Apabila pagi hari ini Anda dalam keadaan bersedih. Tentu dengan beragam penyebab yang membuatnya singgah dalam diri. Bisa karena trauma kehilangan masa lalu yang sesekali muncul kembali, kepergian orang tercinta yang sulit dilupakan, kegagalan kemarin yang bekasnya masih menyayat hingga kini, atau kehilangan harta dan kesempatan berharga yang tak dapat datang kembali dalam waktu dekat. Bisa jadi dari kesedihan itu Anda merasa hari ini sendiri. Sendiri menghadapi kesedihan, sendiri melawan kesedihan dan sendiri membebaskan diri dari kesedihan. Namun ingatlah firman Allah Swt yang menjamin tidak akan meninggalkan hambanya sendiri, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Anda mungkin luput menyadari kehadiran dan pantauan Sang Pencipta pada diri yang tak pernah berjeda sesaat pun. Cobalah tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan secara berlahan dengan mata terpejam. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati dan isi ...