Langsung ke konten utama

[NASI BALAP PAK WAHAB]


Sarapan pagi di Asrama saat masih kuliah dulu menu legendarisnya nasi balap. Harga murah dan tepat waktu. Tiap pagi jam 6 pak Wahab dengan motor merahnya sudah duduk manis di berugak depan asrama menanti anak asrama dan mahasiswa di gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), kedua gedung ini berdampingan. 

Satu porsi sekarang cuma 5K berisi nasi (putih atau kuning) tempe, mie bihun, kacang goreng, sambal (ada sambal biasa dan sambal terong) , ikannya silahkan pilih : ayam, daging, hati, ikan laut, belut, telur. Selain itu sayur biasanya ambil sendiri dari wadah sayur yang disediakan. Selain itu bagi yang punya anggaran lebih bisa nambah kerupuk berbungkus cuma Rp. 500,- atau gorengan/biji Rp. 1.000 (bakwan, tempe dan tahu isi). Murah meriah kan. 
Salah satu teman kami Syawaluddin biasanya menambah tahu mentah lewat tukang tahu yang biasanya memikul tahu mentah jualannya dari kekalik melintas didepan asrama. Beberapa diantara kami jika belum cair beasiswa atau kiriman belum datang bisa ngutang dulu dipakai Wahab. 

Kemudian karena Usia atau regenerasi Pak Wahab digantikan Andi putranya. Pak Wahab tetap berjualan dirumahnya, dan Andi yang berkeliling jualan masih dengan motor merahnya pak Wahab. Sejak ada kebijakan dikampus, sekarang Andi mangkal dengan nasi balapnya di depan gerbang kampus Undikma (IKIP Mataram) 
Nah... bagi yang mau bernostalgia rasa silahkan mampir. Saya pagi ini beli sarapan disini sambil berbincang singkat dengan Andi. Semoga pak Wahab dan keluarga sehat selalu. 

26012021
#30haribercerita #30haribercerita2021 #30hbc21hariini
#MariBerbagiMakna #reHATIwan #InspirasiWajahNegeri #IWANwahyudi 
@30haribercerita @inspirasiwajahnegeri @iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...