Langsung ke konten utama

161 [ASRAMA DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

 


Sepenuhnya tidak janjian jumpa berempat. Awalnya cuma dengan Sahrel Gunawan @sahrelgunawan_ mahasiswa pasca sarjana UGM yang sedang mudik liburan. Usai Jumatan Sahrel ketemu Rasdan dan Ramadhan. Akhirnya kami duduk satu meja di gerobak mie ayam samping masjid usai Jumatan.

Sahrel Gunawan angkatan 2018, Rasdan dan Ramadan angkatan 2021 Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rasdan dan Ramadan lulus September 2025 lalu. Sedang Sahrel jadi mahasiswa UGM dengan beasiswa LPDP mulai semester ganjil tahun lalu.

Kami nostalgia kehidupan di Asrama Mahasiswa UTS, setidaknya perubahan sebelum dan pasca covid 19. Asrama tak bisa disamakan dengan asrama santri pondok pesantren yang ketat dengan aturan. Atau sebebas ngekos di rumah susun yang sangat longgar tanpa ada kegiatan bersama yang menyatukan.

Asrama hingga menjelang covid diperuntukan untuk anak semester satu. Maunya sih semua semester, tapi fasilitas tidak selengkap UI, IPB atau kampus besar di Jawa. Apalagi UTS swasta. Pokoknya sangat sangat terbatas, mau bilang sangat kekurangan he... he...

Sesuai dengan tagline sebagai rumah pembelajaran, asrama harus punya titik temu konsep ala pesantren dengan pola mahasiwa kos-kosan. Sesibuk apa pun ada program harian, pekanan, bulanan, semesteran dan tahunan yang wajib diikuti semua penghuni. Ada yang gabungan, berbasis masing-masing asrama putra dan putri, atau internal lantai (lorong) hingga tiap kamar.

Jika mengikuti alur kaderisasi organisasi/kepemimpinan di BEM dengan LKMM Dasar (Fakultas) dan LKMM Menengah (level Universitas), penjenjangan di Program Studi, UKM Fakultas, UKM Universitas atau di organisasi ekstra kampus pun rasanya agak sedikit lama untuk memenuhi persyaratannya. Keburu tua angkatannya. Di sisi lain trend cepat selesai kuliah, wisuda semester 7, paling telat semester 8 harus menjadi prioritas. Kalau lewat beasiswa selesai, alias tidak bisa dapat lagi pada semester 9 alias lewat 4 tahun.

Akhirnya perlu percepatan, tanpa ada kendala syarat organisasi masing-masing yang beragam. Sekolah Kepemimpinan (SK) pada semester dua di Asrama menjadi alternatif. Kegiatan tiap akhir pekan, biasanya malam. Agar tidak mengganggu aktivitas akademik dan organisasi mereka.

Ketika itu saya cuma terinspirasi dari bagaimana kos-kosan mahasiswa era kebangkitan nasional hingga sebelum kemerdekaan RI yang produktif melahirkan pejuang dan tokoh yang berkarakter kuat.

Di Surabaya pada tahun 1912 di Gang Peneleh VII rumah nomor 29-31 Kampung Peneleh. Ada rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang menjadi kos para mahasiswa. Sebut saja dari jalan nasionalis Soekarno, dari jalan komunis Alimin, Semaoen dan Muso dan dari jalan Islamis ada SM. Kartosoewiryo. Beberapa tokoh yang pernah singgah dan berdiskusi di tempat tersebut tercatat nama besar seperti KH. Ahmad Dahlan, Fakih Hasyim, A. Hasan, Hamka, Agus Salim dan sebagainya.

Di Jakarta pada tahun 1927 ada sebuah gedung yang berfungsi sebagai rumah kos semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan), kini dikenal dengan sebutan Gedung Kramat Raya 106. Para mahasiswa atau pelajar yang tinggal di situ menamai gedung kos tersebut dengan nama Commensalen Huis.

Penghuni kos-kosan tersebut nama-nama yang tak asing sebagai tokoh pergerakan pemuda, terlebih yang membidani Kongres Pemuda II tahun 1928. Mereka diantaranya Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, dan Assaat dt Moeda. Kemudian ada Soerjadi, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali. Penghuni lainnya, ada Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana. Soekarno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering mampir di tempat ini untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni.

Sahrel ini angkatan pertama SK. Rasdan baru selesai magang setahun program Kemenaker RI batch 1 , Ramadan mau daftar batch 2. Inilah sebagian dari alumni SK pasca di kampus.

Cerita penting dan menarik dari Sahrel. Menyikapi culture shock. Maklum mereka ini asli dari kampung beneran, ke UTS yang suasana di kaki bukit Olat Maras tidak beda tipis lah ala kampung. Tapi langsung lompat ke UGM, Yogyakarta dan Pasca Sarjana lagi. Cerita ini penting bagi mahasiswa kampung lainnya. Sebagaimana pesan DR. Zulkieflimansyah "Provinsi kita boleh kecil, tapi ide dan cita-cita kita besar". Saya sederhanakan jadi, "Kampus kita UTS atau asal boleh dari pelosok kampung, tapi tekad, kemauan dan cita-cita tidak boleh kalah dengan orang kota di Jawa"

Saya asyik aja menjadi pendengar yang baik. Harus banyak menangkap dan menyesuaikan dengan gaya mereka para gen Z. Milenial dan gen Z punya karakter generasi yang berbeda, apalagi mahasiswa baru 2026 ini sepertinya sudah ada yang generasi Alpha (yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025). Salah satu acara adaptasi cepat dengan interaksi.

Salah dua kuncinya percepatan dan inovasi ala kita sendiri yang tau karakter masing-masing daerah lengkap dengan keberagaman orang-orangnya. Jangan langsung caplok konsep tempat lain, yang kadang sebagiannya perlu adaptasi lama di lokal. Ujung-ujungnya gagal.

Cordova Street A-03, 11 Juli 2026

#rehatiwan #rehatiwaninspiring #asrama #AsramaUTS #RumahPembelajaran #SekolahKepemimpinan #IWANwahyudi

@rehatiwam @rehatiwaninspiring

www.rehatiwan.blogspot.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

00 [SAMUDERA KEMULIAAN]

Samudera nan luas tak bertepi, kadang yang terlihat oleh mata hanya cakrawala.  Ramadhan seperti yang telah diketahui bersama, keistimewaannya tak terkira. Bahkan tak semua dapat di minum oleh manusia yang menyadarinya. Apalagi mereka yang sekedar singgah apa adanya. Belum lagi mereka yang tak berharapnya singgah dalam hidup. Samudera yang menampung siapa saja yang merindukan dan mencintainya. Mengguyur bersih dosa siapa saja yang bertaubat dengan sesungguhnya. Memuliakan sesiapa yang menghidupkannya.  Energi Samudera begitu hebat, begitu pula energi Ramadhan. Membawa manusia melangit. Meninggi dengan keimanan dan amal kepada-Nya. Meninggi dengan empati dan kasih sayang sesama manusia dalam berbagi.  Mari siapkan diri, menghampiri bulan suci. Mengisi dengan ibadah teristimewa. Hingga berjumpa gelar taqwa di ujung bulan mulia.  Rumah Merpati 22 02042022 09:43 #EnergiRamadhan #SamuderaRamadhan #MariBerbagiMAKNA #InspirasiWajahNegeri #IWANwahyudi #SecangkirI...

014 [PERANG DIPONEGORO, PERANG TERMAHAL BELANDA DI INDONESIA]

  Belanda salah satu penjajah Indonesia yang sangat lama dibandingkan negera lainnya. Hal itu bukan berarti mulus-mulus saja. Perlawanan di berbagai daerah di Nusantara meletus silih berganti sepanjang waktu. Walau dengan persenjataan yang sebanding, namun api perjuangan itu tak mampu dipadamkan dengan mudah hingga kemerdekaan itu benar-benar diproklamasikan. Salah satu perang yang dicatat sebagai perlawanan terbesar dan termahal yang dihadapi oleh Belanda ialah Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang meletus selama lima tahun sejak tahun 1825 hingga 1830. Penyebab dari perang Diponegoro ini diantaranya, Belanda ikut campur tangan dalam kehidupan keraton yang pastinya merupakan akal licik untuk mempengaruhi dan mengadudomba. Selain itu beban ekonomi rakyat akibat aturan pajak yang diberlakukan Belanda, pengusiran terhadap rakyat karena tanahnya termasuk tanah yang disewakan. Dan yang paling khusus adalah pemasangan patok-patok jalan oleh Belanda yang melintasi makam para leluhur Pa...

076 [SULTAN ABDUL KHAIR SIRAJUDDIN LAHIR]

  Sultan Ab dul Khair Sirajuddin bergelar Ruma Ta Mantau Uma Jati lahir dilingkungan istana Kesultanan Makassar pada bulan Ramadan 1038 H ( ± April 1627 M). Disamping itu beliau diberi gelar “La Mbila”. Para prajurit Gowa memanggilnya “I Ambela”.   Beliau adalah Sultan ke II Kesultanan Bima. Putra dari Sultan Abdul Kahir I dengan permainsurinya Daeng Sikontu, adik permainsuri Sultan Alauddin Makassar.   Dalam kitab Bo (naskah lama Bima) namanya “Abil Khair Sirajuddin”, tapi pada bagian lain sumber yang sama ditulis “Abdul Kahir Sirajuddin”. Sejak usia kecil ia memperoleh pendidikan agama, ilmu politik pemerintahan juga ilmu perang di lingkungan istana Makassar. Dimana saat itu orang tuanya “berhijrah” sementara ke Makassar dari konflik yang terjadi di Kerajaan Bima.   Ia dilantik menjadi “Jena Teke” (putra mahkota) oleh Majelis Hadat sebelum ayahnya mangkat pada 8 Ramadan 1050 H (22 Desember 1640 M). Menikah dengan “Karaeng Bonto Je’ne” saudari dari Su...