“Termasuk
khianat adalah mencuri harta umat dan negara walaupun sebuah jarum dan selembar
kertas.” (Said Hawwa)
Suatu
waktu para sahabat berkumpul dan berdiskusi terkait gaji presiden alias
khalifahnya. Hasil syuro paripurna mereka dengan rada memaksa agar khalifah Abu
Bakar Ash-Siddiq mau menerima uang saku sebesar 6.000 dirham setahun. Jika
dikonversi dalam rupiah hari ini, gaji sebulan Abu Bakar yang cuma 500 dirham
itu setara dengan Rp4.950 x 500= Rp2.475.000.
Dengan
gaji yang jauh di bawah UMK Kota Mataram NTB tahun 2026 Rp3.019.015 itu, istri
Abu Bakar masih bisa berhemat dan hasil menabungnya dibelikan makanan ekstra.
Bukannya senang dengan sikap ibu negera yang hemat dan pandai menabung ini. Abu
Bakar malah menyuruh mengembalikan kelebihan itu pada negara. “ Kita telah
berjanji untuk mengambil secukupnya dan ini adalah kelebihannya.”
Putri
kedua Moh. Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta saat itu menempuh kuliah di School of Medical Record
Administration, Australia. Uang saku yang terbatas dari beasiswa
Colombo Plan membuatnya mengambil pekerjaan paruh waktu. Kebetulan Konsulat
Jenderal Republik Indonesia di Sydney membutuhkan tambahan tenaga juru ketik,
dan Gemala memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan pekerjaan itu. Saat Gemala
akan mengeposkan surat untuk ayahnya sekitar awal Maret 1975, amplop miliknya
habis. Ia pun memakai amplop milik Konsulat yang ada cap resminya.
Akhir
bulan datang surat balasan dari sang ayah. Dalam penutup suratnya Wakil
Presiden pertama RI itu memberikan nasihat tegas pada putri, “Ada yang satu
Ayah mau peringatkan kepada Gemala, kalau menulis surat kepada Ayah dan
lain-lainnya, janganlah dipakai kertas Konsulat Jenderal RI. Surat-surat Gemala
kan surat pribadi, bukan surat dinas. Jadinya tidak baik dipakai kertas
Konsulat itu.”
Hari-hari ini betapa miris dengan tingkah para koruptor negeri ini yang tertangkap, tentu yang masih berkaliaran lebih banyak lagi. Apakah mereka dan keluarga tak mampu makan tiga kali sehari dan memenuhi kebutuhan pokoknya? Jika ada yang bilang mereka lebih jelata, ITU BOHONG.
Lomba menumpuk harta yang tak berkesudahan dan pamer kemewahan yang selalu mempertontonkan hawa nafsu itulah yang tak pernah mengenal kata akhir bagi mereka. Hingga menguras harta negara. (*)
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_08#Harta #Negara #HartaNegara #Pemimpin #Korupsi #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar