Langsung ke konten utama

129 [HARTA NEGARA]

 


“Termasuk khianat adalah mencuri harta umat dan negara walaupun sebuah jarum dan selembar kertas.” (Said Hawwa)

Suatu waktu para sahabat berkumpul dan berdiskusi terkait gaji presiden alias khalifahnya. Hasil syuro paripurna mereka dengan rada memaksa agar khalifah Abu Bakar Ash-Siddiq mau menerima uang saku sebesar 6.000 dirham setahun. Jika dikonversi dalam rupiah hari ini, gaji sebulan Abu Bakar yang cuma 500 dirham itu setara dengan Rp4.950 x 500= Rp2.475.000.

Dengan gaji yang jauh di bawah UMK Kota Mataram NTB tahun 2026 Rp3.019.015 itu, istri Abu Bakar masih bisa berhemat dan hasil menabungnya dibelikan makanan ekstra. Bukannya senang dengan sikap ibu negera yang hemat dan pandai menabung ini. Abu Bakar malah menyuruh mengembalikan kelebihan itu pada negara. “ Kita telah berjanji untuk mengambil secukupnya dan ini adalah kelebihannya.”

Putri kedua Moh. Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta saat itu menempuh kuliah di School of Medical Record Administration,​ Australia. Uang saku yang terbatas dari beasiswa Colombo Plan membuatnya mengambil pekerjaan paruh waktu. Kebetulan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney membutuhkan tambahan tenaga juru ketik, dan Gemala memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan pekerjaan itu. Saat Gemala akan mengeposkan surat untuk ayahnya sekitar awal Maret 1975, amplop miliknya habis. Ia pun memakai amplop milik Konsulat yang ada cap resminya.

Akhir bulan datang surat balasan dari sang ayah. Dalam penutup suratnya Wakil Presiden pertama RI itu memberikan nasihat tegas pada putri, “Ada yang satu Ayah mau peringatkan kepada Gemala, kalau menulis surat kepada Ayah dan lain-lainnya, janganlah dipakai kertas Konsulat Jenderal RI. Surat-surat Gemala kan surat pribadi, bukan surat dinas. Jadinya tidak baik dipakai kertas Konsulat itu.”

Hari-hari ini betapa miris dengan tingkah para koruptor negeri ini yang tertangkap, tentu yang masih berkaliaran lebih banyak lagi. Apakah mereka dan keluarga tak mampu makan tiga kali sehari dan memenuhi kebutuhan pokoknya? Jika ada yang bilang mereka lebih jelata, ITU BOHONG.

Lomba menumpuk harta yang tak berkesudahan dan pamer kemewahan yang selalu mempertontonkan hawa nafsu itulah yang tak pernah mengenal kata akhir bagi mereka. Hingga menguras harta negara. (*)


Cordova Street, 08062026
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_08#Harta #Negara #HartaNegara #Pemimpin #Korupsi #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

  Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu. Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan. Pada tahun 19...

128 [PEGANGAN HIDUP]

  Saya membuka sebuah majalah lama yang sudah tidak terbit lagi. Majalah Tarbawi edisi 137/th 8 memuat lima nasihat dari Syaqiq al-Balkhi rahimahullah (wafat 810 M) .   Pertama, “Sembahlah Allah swt sebesar kebutuhanmu kepada-Nya.” Adakah sesaat saja diri ini bisa lepas dari kebutuhan atas nikmat yang diberikan oleh-Nya?   Kedua, “Ambillah dunia sekadar memenuhi kebutuhan hidupmu.” Kebutuhan ada titik capainya. Keinginan tak akan pernah berujung walau sudah meraihnya, ia terus ada lagi tanpa henti.   Ketiga, “Berbuatlah dosa sekadar kekuatanmu menanggung siksa-Nya.” Hidup bukan sesukanya, tapi semampu menanggung resikonya. Tak satu pun yang luput dari pertanggungjawaban.   Keempat, “Berbekallah di dunia sebanyak kebutuhanmu di alam kubur.” Lebih baik kelebihan bekal daripada memikul beban yang berlebihan. Tak seorang pun mau berbagi beban saat tak bisa saling melihat urusan orang lain kelak.   Kelima, “Berbuatlah untuk mendapat surga sesuai dengan kedud...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...