Pernah ada suatu zaman peradaban manusia, manusia
menjadi hamba manusia lain atau manusia satu merasa lebih layak memperbudak
manusia lainnya. Hamba dan budak secara fisik. Titik di mana seorang manusia
tak punya hak atas dirinya sendiri. Manusia satu secara sah dapat merampas hak
asasi yang lainnya.
Amerika saja baru resmi menghapus perbudakan manusia
setelah amandemen ke-13 konstitusinya pada 18 Desember 1865. Kawasan Eropa,
penghambaan atas sesama itu mulai dihapus pada abad ke-15 hingga sepenuhnya
perbudakan massal berakhir pada abadke-19. Sedangkan benua Afrika berhasil
menghapus sisa-sisa perbudakan budaya saat mereka merdeka dan bergabung menjadi
negara modern abad ke-20.
Penghambaan manusia atas manusia lain secara fisik
tidak ada lagi dalam artian tak ada negara yang masih memberlakukannya. Namun
di era modern mereka berkamufalase dalam rupa yang berbeda yaitu: Harta, kuasa
dan strata.
Harta dapat mengubah mentalitas menusia untuk
menumpuk sumber daya yang dapat membuat orang menjadi hambanya.
Kuasa bisa mengubah mindset untuk menekan manusia lain atas nama manusia untuk
melakukan cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Starata sosial sanggup membelokan manusia menjadikan
golongannya merasa lebih dari golongan lain hingga bahkan dapat merenggut nyawa
manusia lain untuk memenuhi ambisi butanya.
“Kami diutus membebaskan manusia dari penghambaan
manusia atas manusia menuju penghambaan kepada Rabb manusia…” (Rib’iy bin Amir)
Sesungguhnya salah satu tugas manusia di muka bumi
adalah melenyapkan penghambaan manusia satu terhadap lainnya. Dengannya ia
benar-benar menjadi sebenar-benar hamba-Nya.
Cordova Street, 05062026
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar