Langsung ke konten utama

126 [PENGHAMBAAN MANUSIA]

 


Pernah ada suatu zaman peradaban manusia, manusia menjadi hamba manusia lain atau manusia satu merasa lebih layak memperbudak manusia lainnya. Hamba dan budak secara fisik. Titik di mana seorang manusia tak punya hak atas dirinya sendiri. Manusia satu secara sah dapat merampas hak asasi yang lainnya.

Amerika saja baru resmi menghapus perbudakan manusia setelah amandemen ke-13 konstitusinya pada 18 Desember 1865. Kawasan Eropa, penghambaan atas sesama itu mulai dihapus pada abad ke-15 hingga sepenuhnya perbudakan massal berakhir pada abadke-19. Sedangkan benua Afrika berhasil menghapus sisa-sisa perbudakan budaya saat mereka merdeka dan bergabung menjadi negara modern abad ke-20.

Penghambaan manusia atas manusia lain secara fisik tidak ada lagi dalam artian tak ada negara yang masih memberlakukannya. Namun di era modern mereka berkamufalase dalam rupa yang berbeda yaitu: Harta, kuasa dan strata.

Harta dapat mengubah mentalitas menusia untuk menumpuk sumber daya yang dapat membuat orang menjadi hambanya.

Kuasa bisa mengubah mindset untuk menekan manusia lain atas nama manusia untuk melakukan cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Starata sosial sanggup membelokan manusia menjadikan golongannya merasa lebih dari golongan lain hingga bahkan dapat merenggut nyawa manusia lain untuk memenuhi ambisi butanya.

“Kami diutus membebaskan manusia dari penghambaan manusia atas manusia menuju penghambaan kepada Rabb manusia…” (Rib’iy bin Amir)

Sesungguhnya salah satu tugas manusia di muka bumi adalah melenyapkan penghambaan manusia satu terhadap lainnya. Dengannya ia benar-benar menjadi sebenar-benar hamba-Nya.

Cordova Street, 05062026

#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_05 #Berbagi #Tulisan #Manusia #HambaManusia #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarPublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

122 [PEREKAT BUKAN UNTUK “MENYIKAT”]

  Saat itu saya masih duduk kelas 3 SD. Selain hafalan perkalian ada juga hafalan 36 butir-butir Pancasila. Sila Pancasila, Teks Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945 itu sudah kami lahap. Satu persatu maju berdiri disamping kursi guru menyetor hafalan. Bila lupa, maka cubitan kecil akan mendarat menjadi sanksinya. Hingga akhirnya saya mampu menuntaskan itu. Pada era Orde Baru tahun 1978 butir-butir Pancasila berjumlah 36 yang merupakan pedoman dari P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berdasarkan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978. Ketetapan itu pada era Reformasi dicabut dan pada tahun 2003 jumlah butir Pancasila disesuaikan dan dikembangkan menjadi 45 butir melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. Hafalan saya dulu itu dan spirit para pendiri bangsa kadang dihadapkan pada paradoks hari ini. Siapa yang berbeda dengan penguasa bisa dilabeli “anti negara”, pengkritik tak segan akan “disikat”, saat kalah kontestasi kepemimpinan bersiap “disikut” karena beda pilihan. Pada tahun 19...

128 [PEGANGAN HIDUP]

  Saya membuka sebuah majalah lama yang sudah tidak terbit lagi. Majalah Tarbawi edisi 137/th 8 memuat lima nasihat dari Syaqiq al-Balkhi rahimahullah (wafat 810 M) .   Pertama, “Sembahlah Allah swt sebesar kebutuhanmu kepada-Nya.” Adakah sesaat saja diri ini bisa lepas dari kebutuhan atas nikmat yang diberikan oleh-Nya?   Kedua, “Ambillah dunia sekadar memenuhi kebutuhan hidupmu.” Kebutuhan ada titik capainya. Keinginan tak akan pernah berujung walau sudah meraihnya, ia terus ada lagi tanpa henti.   Ketiga, “Berbuatlah dosa sekadar kekuatanmu menanggung siksa-Nya.” Hidup bukan sesukanya, tapi semampu menanggung resikonya. Tak satu pun yang luput dari pertanggungjawaban.   Keempat, “Berbekallah di dunia sebanyak kebutuhanmu di alam kubur.” Lebih baik kelebihan bekal daripada memikul beban yang berlebihan. Tak seorang pun mau berbagi beban saat tak bisa saling melihat urusan orang lain kelak.   Kelima, “Berbuatlah untuk mendapat surga sesuai dengan kedud...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...