Langsung ke konten utama

23 [KORBAN AKIBAT TEPAT WAKTU] Gerimis Desember

 


Sering kali dapat janji palsu. Apa itu? Molor dan menunggu lama dari waktu yang ditawarkan dan disepakati. Memang manusia Indonesia sudah kena virus MOLORISASI akut.
 
Anda pasti tau. Mulai dari janji ketemuan seseorang atau undangan dari pemerintah. Langka rasanya jika dicantumkan pukul 08.00 wita, kemudian benar-benar jam 08.00 wita acara dimulai. Malah sudah "dipaku" menjadi mindset semua orang, "paling cepat juga mulai jam 08.30 ini". Akhirnya semua menghina kedisiplinan secara berjamaah, padahal sebuah kesalahan fatal dan akan menjadi kebiasaan buruk. Ya, kebiasaan molor yang disepakati secara tidak tertulis.
 
Saya beberapa kali jadi korban, perilaku tidak terpuji itu. Pernah datang 10 menit sebelum jam yang disepakati. Bodohnya saya, masih kolot dan belum beradaptasi dengan virus jahat itu, pernah menunggu hingga satu jam baru panitia hadir dan tambah satu jam lagi menunggu para peserta, baru acara dimulai. Padahal di undangan saya tercantum sebagai "Pemateri alias narasumber".
 
Akhirnya sekarang saya punya cara, agar waktu saya yang berharga tak dirampok oleh mereka yang tak menghargai waktu. Datang tepat waktu, swafoto alias selfi dengan latar tempat janjian sambil memperlihatkan jam tiba saya. Kirim foto ke panitia atau sekalian ke media sosial. Lalu saya pergi cari tempat nyaman di luar tempat acara buat nongkrong yang bisa menunjang aktivitas lain. Sambil pantau para tuan dan puan datang hingga kuorum sebagai syarat acara dimulai, baru saya merapat ke tempat acara lagi.
 
Jika janjian sama satu atau dua orang, lewat 30 menit atau satu jam (kalau kesabaran saya lagi bisa di kompromi) dari waktu yang mereka janjikan, sementara saya telah sabar menanti 60 menit tanpa konfirmasi apa pun. Tentu setibanya tadi saya sudah dengan mode foto dan kirim ke mereka. Saya balik kanan cabut. Selesai urusan. Satu detik kemudian mereka tiba atau berpapasan di jalan, tidak akan saya perhatikan dan balik badan. Gas tinggalkan tempat.
 
Kita on time, menunggu serasa seperti dihukum sebagai pendosa. Sedang para konsumen jam karet tiba tanpa kata maaf dan wajah bersalah.
 
Salah satu waktu ON TIME sampai saat ini yang tersisa adalah berbuka puasa. Dipersiapkan dan ditunggu tunggu agar tepat waktu.
 
23 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_23 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...