Langsung ke konten utama

180 [AKU CEMBURU PADA SAPI]

 


Kemarin saya menyaksikan penyembelihan sapi kurban. Kemudian dagingnya dibagikan pada yang berhak. Sapi itu bagian dari ibadah kurban sekali setahun yang disyariatkan dalam Islam. Saya melihat sapi itu pasrah sekali.

Sapi masuk golongan hewan, tak ada kewajiban padanya untuk beribadah sebagaimana layaknya manusia, juga tidak akan ditimbang kebaikan dan keburukan selama hidupnya. Yang ditimbang beratnya sebagai patokan harga jual hewan kurban.

Saya tersentil, sapi rela membantu manusia melaksanakan ibadah pada Rabb nya. Kok saya diminta cuma seonggok harta buat dibelikan hewan kurban, tapi alasan untuk memunda tak kurang panjang.

Sapi yang tidak berpakaian bisa menunjang ibadah manusia. Malah manusia mencampakan perintah Tuhan untuk menutup tubuh dan berpakaian. Mempertontonkannya di tempat umum tanpa rasa risih dan salah. Dunia memang terbaik. Apa karena efek susu sapi? hingga berperilaku ala-ala sapi.

Sapi pasang badan bahkan nyawa untuk dikurbankan. Eh kita pasang badan untuk mengorbankan sesama. Merampas hak manusia lain, merampok uang negara dari pajak orang banyak, bahkan membunuh sesama dengan alasan sepele sudah meraja lela dimana-mana.

Sapi susunya banyak membantu manusia dari bayi hingga lansia dalam pemenuhan gizi. Lah manusia jangankan mensubsidi gizi sapi, makanan bergizi buat manusia aja diakali.

Sapi yang disembelih untuk kurban, meninggalkan catatan dan laporan bersama nama-nama pengkurban. Lalu kita apakah sebaik nama sapi itu kelak ketika meninggalkan dunia ini? Minimal hembusan nafas terakhir saat beribadah.

Aku cemburu pada sapi kurban, membantu manusia melaksanakan titah Tuhan nya. Aku iri pada sapi kurban, mati diiringi lantunan takbir mengagungkan asma Allah swt. Sedangkan aku baru mengeja langkah ke sana, atau belum sama sekali, bahkan kian jauh. Astaghfirullah...

"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah." (QS. Al Kautsar: 2)

Cordova Street A-03, 7 Juni 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

Pesanan Imam As-Syafi'i Tentang Travelling

Hebatnya pesanan Imam as-Syafi'e tentang travel 🌍✈️❤️ . Merantaulah... Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Tinggalkanlah tanahair dan mengembaralah. Bermusafirlah, nescaya kamu akan mendapat ganti kepada orang yang telah kamu tinggalkan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rosak kerana diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu, engkau akan temui darjat mulia di tempat yang baru dan engkau bagaikan emas yang sudah terang...