Kemarin saya menyaksikan penyembelihan sapi kurban. Kemudian dagingnya dibagikan pada yang berhak. Sapi itu bagian dari ibadah kurban sekali setahun yang disyariatkan dalam Islam. Saya melihat sapi itu pasrah sekali.
Sapi masuk golongan hewan, tak ada kewajiban padanya untuk beribadah sebagaimana layaknya manusia, juga tidak akan ditimbang kebaikan dan keburukan selama hidupnya. Yang ditimbang beratnya sebagai patokan harga jual hewan kurban.
Saya tersentil, sapi rela membantu manusia melaksanakan ibadah pada Rabb nya. Kok saya diminta cuma seonggok harta buat dibelikan hewan kurban, tapi alasan untuk memunda tak kurang panjang.
Sapi yang tidak berpakaian bisa menunjang ibadah manusia. Malah manusia mencampakan perintah Tuhan untuk menutup tubuh dan berpakaian. Mempertontonkannya di tempat umum tanpa rasa risih dan salah. Dunia memang terbaik. Apa karena efek susu sapi? hingga berperilaku ala-ala sapi.
Sapi pasang badan bahkan nyawa untuk dikurbankan. Eh kita pasang badan untuk mengorbankan sesama. Merampas hak manusia lain, merampok uang negara dari pajak orang banyak, bahkan membunuh sesama dengan alasan sepele sudah meraja lela dimana-mana.
Sapi susunya banyak membantu manusia dari bayi hingga lansia dalam pemenuhan gizi. Lah manusia jangankan mensubsidi gizi sapi, makanan bergizi buat manusia aja diakali.
Sapi yang disembelih untuk kurban, meninggalkan catatan dan laporan bersama nama-nama pengkurban. Lalu kita apakah sebaik nama sapi itu kelak ketika meninggalkan dunia ini? Minimal hembusan nafas terakhir saat beribadah.
Aku cemburu pada sapi kurban, membantu manusia melaksanakan titah Tuhan nya. Aku iri pada sapi kurban, mati diiringi lantunan takbir mengagungkan asma Allah swt. Sedangkan aku baru mengeja langkah ke sana, atau belum sama sekali, bahkan kian jauh. Astaghfirullah...
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah." (QS. Al Kautsar: 2)
Cordova Street A-03, 7 Juni 2025
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar