Langsung ke konten utama

46 [TUKANG CUKUR YANG BERSYUKUR]

 


Jika dari arah Timur lampu merah STIE AMM Jl. Airlangga Mataram, anda kebetulan berhenti karena lampu menyala merah, tengoklah ke kanan (Utara) maka anda akan menjumpai pangkas rambut "RIZKY" ini diantara ruko gorden dan service televisi.

Bila sedang di Mataram dan rambut sudah agak panjang, di pangkas rambut milik pak Syahri ini saya cukur. Ketika di tanya siapa bapak? Dia dengan cepat menjawab, "Saya lahir di bulan Ramadhan pas tanggal 27, Syahri Ramadhan."

Sekali pangkas rambut untuk dewasa hanya 15 ribu. Profesi ini ia lakoni sejak tahun 1990an, masih 500 rupiah sekali cukur katanya. Gardu listrik tepat di Selatan jalan depan usahanya ini dulu ada genangan air yang mengalir masih jernih. Tempat mampir metik kangkung atau bahkan mandi sekalian.

 


Beliau buka 6 hari dalam sepekan, kecuali hari Jum'at. Suatu hari sampil menggunting rambut saya ia bercerita. Pernah suatu waktu di hari Jum'at hampir tidak dapat Jum'atan karena melayani pelanggan yang datang menjelang tengah hari. Sejak saat itulah supaya tidak buru-buru dan ibadah tidak terbengkalai ia putuskan libur hari Jum'at, kalaupun buka pasti siang seusai menunaikan shalat yang cuma sekali sepekan itu.

Sungguh tukang cukur yang sangat menjaga rasa syukur dengan mendahulukan ibadah pada sang Pemberi Rejeki.

Beberapa hari lalu, seperti biasa sambil melihat kelihaiannya memangkas rambut, saya coba klarifikasi suatu hal padanya. "Miq, dulu ada pangkas rambut di ruko yang menghadap Barat di Utara lampu merah ini, tempat saya cukur satu centi rambut sebagai mahasiswa baru yang di ospek. Sekarang kemana pangkas rambut itu?". Sambil senyam senyum dijawab, "Iya betul ada pangkas rambut disana, saya juga kerja disana. Setelah pangkas rambut itu pindah, saya buka pangkas rambut sendiri disini."

Selalu saja waktu terasa cepat, tiba-tiba belum tuntas cerita, eh rambut sudah kelar aja. Selalu aja ada bahan obrolan. Karena kepo saya coba tanya, "Miq, pernah plungguh dalam sehari tidak ada sama sekali orang datang cukur rambut?". "Alhamdulillah, selalu ada yang datang. Tidak pernah nol." jawabnya dengan suara yang kalem.

21052024

IWANwahyudi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...