Langsung ke konten utama

[AYO MULAI BERGERAK]



"Memulai itu kata kerja. Ia gerak pertama dari segala pergerakan yang akan menggerakan hingga terus bergerak dan bergerak terus di jalan pergerakan." #reHATIwan (sedikit meramu kata-kata bang @bachtiarfirdaus)

Setiap manusia terbangun diawal hari, tak langsung sekelebat berdiri apalagi berlari. Coba juga perhatikan ketika kucing sudah bosan dari giat rebahannya, apa yang dilakukan?. Mereka bergeliat, meregang-regang serta menarik-narik tangan dan badan serta menggerakannya masih sambil berbaring atau duduk. Setelah itu barulah melakukan gerakan berpindah tempat setelah gerak ditempat ala menggeliat itu.

Saat pagi juga geliat alam diawali dengan munculnya sinar matahari di ufuk timur. Tidak seketika langsung terik cerah sepanas siang bolong. Begitu pula dengan hujan lebat, ia bermula dari geliat rintik air dari langit bernama gerimis. Atau laksana air terjun yang deras dan keras meluncur dari atas, ia bermula dari geliat aliran air bernama mata air.

Setiap apapun punya potensinya masing-masing. Ada mimpi yang selalu dijumpai dalam alam imajinasi. Ada visi yang selalu tergiang dalam hafalan atau memori kolektif. Ia akan menjadi kenyataan yang dahsyat, menjadi cita-cita yang membumi bukan cuma slogan jika sudah dimulai.

Ayo saatnya memulai, bergerak dari setapak, memancar seperkasa matahari, berhembus sekencang badai, mengalir sederas air bah, berdebur sekeras gelombang, bergegas lebih awal laksana embun yang lembut sebelum pagi.

Memulai atau mati terkulai, berbuat atau lenyap tertelan masa, bergerak atau tersingkirkan, menggerakan atau tergantikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

Salam Pagi 127

  Assalamu’alaikum Pagi “ Setiap perilaku akan kembali pada pelakunya, baik itu penghinaan, keburukan apalagi kebaikan . Jangan lelah berbuat kebaikan walau belum terasa efeknya seketika itu pula.” Seberapa keji penghinaan yang pernah engkau terima? Mungkin tak sebanding dengan yang telah dirasakan   oleh pendahulumu dijalan kebaikan yang sama-sama engkau tebar dan lanjutkan saat ini. Seberapa nista keburukan yang engkau terima hari ini? Mungkin tak seberapa dibanding mereka yang telah berkorban menyerukan kebaikan, hingga kini engkau dan semua orang merasakan indahnya. Seberapa sering dan besar kebaikan yang engkau telah lakukan? Tak perlu menghitung, membandingkan atau mengingatnya. Karena cepat atau lambat akan kembali padamu. Jika menghitungnya engkau akan merasa besar, bila membandingkan engkau bisa sombong dan saat selalu mengingatnya bisa saja keikhlasanmu tergerus. Tetaplah disini bersama kebaikan dan orang-orang baik. Tetaplah menanam dan memeliharanya agar ...