Langsung ke konten utama

036 [ABDI NEGARA YANG BERINTEGRITAS] HARI KORPRI 29 NOVEMBER

 


Korpri berdiri berdasarkan Keputusan Presiden Nomor : 82 Tahun 1971, 29 November 1971. Berdasarkan Kepres itu, Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) merupakan organisasi yang anggotanya terdiri dari Pegawai Negeri Sipil, pegawai BUMN, BUMD serta anak perusahaan.
 
Pegawai Negeri Sipil atau yang sekaran disebut sebagai Apatur Sipil Negara (ASN) berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara pada bulan 30 Juni 2022 berjumlah 4.344.552 orang. Sebagai ujung tombak pelaksanaan tugas Negara tentu akan menjadi contoh bagi elemen masyarakat lainnya. Resiko itu tentu sudah lebih awal diketahui karena mereka telah diambil sumpah dan janjinya dalam melaksanakan tugas dikemudian hari.



 
PANCA PRASETYA KORPRI Korps Pegawai Republik Indonesia disebut juga sebagai sumpah/janji Aparatur Sipil Negara yang bertujuan agar dapat menciptakan sosok ASN yang profesional, jujur, bersih dari segala korupsi, kolusi, nepotisme, berjiwa sosial, dan sebagainya.
 
Panca Prasetya Koprs Pegawai Republik Indonesia, yaitu:
1)      Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,
2)      Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara,
3)      Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan,
4)      Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan Korps Pegawai Republik Indonesia, dan
5)      Menegakkan kejujuran, keadilan dan disiplin serta meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme.
 
Semoga Reformasi Birokrasi kian mencapai harapan dengan penataan ASN yang lebih berintegritas dan bersih dalam pengelolaan Negara.
 
Rumah Merpati 22
29112022, 14:08
#MariBerbagiMakna #HUTKORPRI #InspirasiwajahNegeri #reHATIwan #HariIniDalamSejarah #IWANwahyudi #AparatBerintegritas
@inspirasiwajahnegeri
@iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...