Langsung ke konten utama

[WARISAN bernama LITERASI/TULISAN]

Asma Nadia (AS) : Bukunya sudah ditanda tangan?
Saya (SY) : Belum bunda, ini bun (sambil menyodorkan halaman pertama salah satu novel AS dan pulpen)
AS : bukan buku ini tapi buku itu yang mau diberikan ke saya (sambil menunjuk buku BEST SELLER yang dipegang SY)
SY : oo...belum bunda, siap saya tandatangani sekarang (sambil terkaget2 membubuhkan tanda tangan dihalaman pertama buku sambil berdiri)
Beberapa waktu kemudian........
SY : maaf bunda ini bukunya harap maklum saya baru belajar nulis (sambil memberikan buku BEST SELLER)
AS : ndak apa-apa saya juga sampe sekarang masih belajar kok.

Untuk apa kita menulis?

Ingin menjadi kaya, ah menulis bukan cara cepat mendapat uang karena ia perjalanan panjang baru bisa menerbitkannya.
Mau terkenal, ih sudah berapa banyak mereka yang menulis dan kemudian tenggelam bukan sekedar karyanya tapi juga namanya.
Biar bisa ketemu orang-orang hebat, eh lebih cepat jika kamu membuat viral disosmed buat ketemu orang hebat ketimbang susah payah nulis bro.

Kerabat, menulis itu lebih dari sekedar jawaban diatas, kaya, terkenal, ketemu orang hebat itu hanya efek dari tujuan menulis pada dasarnya. Menulis itu adalah cara mengungkapkan sesuatu yang kita lihat, pikirkan, inginkan dan berikan. Menulis itu ladang amal, berbuat sesuatu agar efeknya terus mengalir pada kita hingga jasad kita ditelan bumi sekalipun.
Menulis itu pewarisan dan berbagi gagasan, cerita, kesaksian, pelajaran pada siapapun hari ini dan dimasa yang akan datang.

19122016
#IwanWahyudi
#MariBerbagiMakna
www.iwan-wahyudi.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...