Langsung ke konten utama

Postingan

04 [BENCANA CERMIN HATI KITA] Gerimis Desember

  Akhir bulan lalu, tepatnya 24-26 November 2025 terjadi banjir bandang dan tanah longsor disejumlah daerah di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Sampai 4 Desember tercatat korban meninggal mencapai 836 jiwa, hilang 518 jiwa, dan luka-luka 2.700 jiwa serta jutaan orang mengungsi kehilangan tempat tinggal.   Bencana dan musibah dalam kacamata umat Islam bisa merupakan sebuah ujian, teguran bahkan azab.   “Kami membagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan. Di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada (pula) yang tidak. Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali (pada kebenaran) .” (QS.Al-‘Araf: 158)   Bencana disebut ujian bagi mereka yang beriman dan hatinya terpaut pada Sang Pencipta dengan segala perintah dan larangannya.   “Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri…” (QS.An-Nisa: 79) ...

[SIAPKAN LEBARAN SEBELUM RAMADAN] 76 Hari Menuju Ramadan

  Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah saat yang “genting”. Genting meraih pahala di ujung Ramadan yang tersisa, salah satunya malam lailatul qadar. Dan genting menyiapkan lebaran dengan segala printilan nya. Sering ibadah Ramadan kian kendor, bahkan sedapatnya saja, tergusur oleh “ Lebaran Effect ”. Lebaran Effect bukan hanya perkara waktu berbarengan dengan Ramadan yang segera berlalu, tapi juga masalah finansial, pengeluaran yang menumpuk. Pengeluaran yang membeludak seperti air bah pada waktu yang singkat secara bersamaan. Waktu tidak bisa diubah atau diundur satu sama lain karena kedua momentum tersebut sudah memiliki perhitungan hisab dan rukyatnya. Ramadan dan lebaran beriringan, mustahil dipisah dalam jangka waktu yang berjauhan. Cara pandang dan strategi menyiapkan keperluanlah yang bisa disiasati waktunya. Apa yang bisa dipenuhi beberapa pekan atau bulan sebelumnya dapat dikerjakan lebih awal. Seorang kenalan pernah bercerita, Ramadan tahun lalu beberapa kegiatan...

03 [MUNDUR TAK BERARTI KABUR] Gerimis Desember

  Drs Moh. Hatta sang Proklamator tercinta mundur sebagai Wakil Presiden terhitung mulai 1 Desember 1956. Mengakhiri dwi tunggal yang menjadi simbol persatuan nasional. Pemimpin harus memberi keteladanan moral dan etika politik yang lebih luas. Jika sudah tidak sejalan dan tidak bisa lagi mencegah dengan jabatannya terhadap penyimpangan, untuk apa berlama-lama di ruang hampa. Bung Hatta mundur bukan berarti kemudian lepas handuk dan menikmati masa “pensiun”. Tutup mata, telinga dan pikiran terhadap urusan bangsa. Ia tetap berkontribusi, mengingatkan pemerintah lewat surat pribadi pada Soekarno dan tulisan-tulisan di media massa, mengajar di sejumlah kampus dan kegiatan sosial lainnya. Mundur bukan aib atau tindakan tercela, jika itu merupakan solusi dari sebuah permasalahan. Memaksakan diri pada posisi di mana tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya jauh lebih tak bermakna dan banyak yang akan terluka. Karena jabatan bukan sebuah kehormatan, tapi peran dan kontribusi. Bukan a...

02 [LIDAH PEMIMPIN] Gerimis Desember

  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M pada tanggal 28 November 2025 membuat pernyataan terkait bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bahwa bencana itu hanya mencekam di media sosial, tapi aslinya membaik. Jika menggunakan percakapan keseharian rakyat, terlalu di dramatisasi oleh media sosial, aslinya tidak seberapa. Beliau ini komandan penanggulangan bencana secara nasional, beda bila hal itu celetukan akun abal-abal atau buzzer . Kok sereceh itu, apalagi institusi ini dilengkapi oleh BPBD hingga semua Kabupaten/Kota, tentu up date data lebih cepat dan shahih . Salah sikap, bisa salah penanganan bencana yang di dalamnya ada nyawa manusia sebagai taruhan. Tiga hari kemudian, 1 Desember 2025 Jenderal bintang tiga ini meminta maaf, tak mengira bencana sebesar itu. Rakyat yang sedang ditimpa musibah sudah terlanjur terluka. Warga bangsa sudah kepalang marah dan bereaksi, “Pemimp...

[MAAFKAN KAMI RAMADAN] 79 Hari Menuju Ramadan

  Ketika Ramadan datang, maka akan bersua antara bulan mulia itu sebagai tamu dan manusia sebagai tuan rumah yang dikunjungi. Dalam perjumpaan tersebut kedua belah pihak tentu memiliki tujuan masing-masing atau menemukan hakikat dari pertemuan itu. Tidak mungkin sebuah ruang istimewa itu hanya memenuhi hajat salah satu pihak. Ramadan datang dengan kemuliaannya dan manusia menanti serta berharap mendapat sebanyak-banyaknya kemuliaan tersebut. Ramadan akan memberi, manusia menyiapkan diri meraih dan menerima semaksimal mungkin. Ramadan datang bersama berlimpah kemuliaan dan pergi setelah menebar habis kemuliaan tersebut. Tidak mungkin Ramadan mengurangi takaran kemuliaan yang dibagikannya. Bisa jadi sebaliknya dan ini selalu berulang, Ramadan mungkin belum menemukan apa yang seharusnya ia temukan dalam diri kita. Sebagai tuan rumah yang baik dalam menyambut tamu. Padahal orang-orang terdahulu yang pernah ditemui Ramadan, mereka menempatkannya sebagai bertemunya dua macam jihad. Jihad...

01 [AWALI DENGAN BISMILLAH] Gerimis Desember

  Salah satu anjuran yang sejak kecil masih melekat hingga saat ini, baik dari orang tua, guru ngaji maupun guru agama adalah, "Baca Bismillah".   Sebelum menghafal berbagai doa, Bismillah menjadi " Mantra" yang wajib di ingatkan. Saat mau makan, "Ayo baca Bismillah dulu". Begitu juga ketika mau keluar rumah, memakai baju, hendak tidur dan lain sebagainya.   Pasti Anda yang muslim punya pengalaman yang hampir sama. Walau ketika itu tidak tau persis dalil perintah melakukan hal itu dan beragam keistimewaan mengucapakan nya. Pokok Bismillah....   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah saw bersabda, “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya)   Setiap kita dapat melakukan apa saja dan menyelesaikannya karena ada Allah swt. Tak ada sedikit pun yang luput dari-Nya. Sehing...

[PARA SAHABAT MENYIAPKAN DIRI 6 BULAN SEBELUM RAMADAN] 90 Hari Menuju Ramadan

  Ramadan sebagai bulan mulia dan bertabur kemuliaan dengan pahala yang dilipatgandakan, tentu menjadi peluang bagi siapa saja untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Begitu pula dengan para sahabat ra. Mereka menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk bertemu dengan Ramadan. Bahkan saking ngebet berjumpa Ramadan dan mau gas poll beribadah juga beramal di dalamnya mereka sebagaimana disebutkan oleh ulama tabi’ tabiin Mu’alla bin Al-Fadhl telah rajin berdoa enam bulan sebelumnya. Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Kitab Lathaif Al-Ma’arif   menyebutkan satu riwayat yang menunjukan semangat menyambut Ramadan tersebut. Mua’alla bin Al-Fadhl mengatakan, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” Dalam kitab yang sama Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantu...