Ketika Ramadan
datang, maka akan bersua antara bulan mulia itu sebagai tamu dan manusia
sebagai tuan rumah yang dikunjungi. Dalam perjumpaan tersebut kedua belah pihak
tentu memiliki tujuan masing-masing atau menemukan hakikat dari pertemuan itu.
Tidak mungkin sebuah ruang istimewa itu hanya memenuhi hajat salah satu pihak.
Ramadan datang
dengan kemuliaannya dan manusia menanti serta berharap mendapat
sebanyak-banyaknya kemuliaan tersebut. Ramadan akan memberi, manusia menyiapkan
diri meraih dan menerima semaksimal mungkin.
Ramadan datang
bersama berlimpah kemuliaan dan pergi setelah menebar habis kemuliaan tersebut.
Tidak mungkin Ramadan mengurangi takaran kemuliaan yang dibagikannya. Bisa jadi
sebaliknya dan ini selalu berulang, Ramadan mungkin belum menemukan apa yang
seharusnya ia temukan dalam diri kita. Sebagai tuan rumah yang baik dalam
menyambut tamu.
Padahal orang-orang
terdahulu yang pernah ditemui Ramadan, mereka menempatkannya sebagai bertemunya
dua macam jihad. Jihad di malam hari dengan memperbanyak shalat malam dan
tilawah Al-Quran, dan jihad pada waktu siang dengan berpuasa dengan arti yang
sebenar-benarnya.
Ah…dengan jujur
rasanya, diri ini jauh-jauh hari harus mengucapkan permohonan maaf, bila selama
ini belum bisa menjadi tuan rumah yang sesuai pengharapan Ramadan. Biasanya hal
ini baru disadari ketika penghujung Ramadan dan waktu tak bisa diputar kembali.
Sekarang kita balik dari awal dan sejak dini menyadari, agar tidak menjadi
rutinitas penyesalan dan melayakan diri lebih pantas lagi.
"Maafkan kami Ramadan. Kepala kami
tertunduk malu karena engkau menjanjikan kami berlimpah kebaikan, tapi kami
tenggelam dalam kehinaan" (Syaikh Adil bin
Ahmad)
#JelajahRamadan #79HariMenujuRamadan #90HariMenujuRamadan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #MariBerbagiMakna @rehatiwan @rehatiwanInspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar