Langsung ke konten utama

[MAAFKAN KAMI RAMADAN] 79 Hari Menuju Ramadan

 


Ketika Ramadan datang, maka akan bersua antara bulan mulia itu sebagai tamu dan manusia sebagai tuan rumah yang dikunjungi. Dalam perjumpaan tersebut kedua belah pihak tentu memiliki tujuan masing-masing atau menemukan hakikat dari pertemuan itu. Tidak mungkin sebuah ruang istimewa itu hanya memenuhi hajat salah satu pihak.

Ramadan datang dengan kemuliaannya dan manusia menanti serta berharap mendapat sebanyak-banyaknya kemuliaan tersebut. Ramadan akan memberi, manusia menyiapkan diri meraih dan menerima semaksimal mungkin.

Ramadan datang bersama berlimpah kemuliaan dan pergi setelah menebar habis kemuliaan tersebut. Tidak mungkin Ramadan mengurangi takaran kemuliaan yang dibagikannya. Bisa jadi sebaliknya dan ini selalu berulang, Ramadan mungkin belum menemukan apa yang seharusnya ia temukan dalam diri kita. Sebagai tuan rumah yang baik dalam menyambut tamu.

Padahal orang-orang terdahulu yang pernah ditemui Ramadan, mereka menempatkannya sebagai bertemunya dua macam jihad. Jihad di malam hari dengan memperbanyak shalat malam dan tilawah Al-Quran, dan jihad pada waktu siang dengan berpuasa dengan arti yang sebenar-benarnya.

Ah…dengan jujur rasanya, diri ini jauh-jauh hari harus mengucapkan permohonan maaf, bila selama ini belum bisa menjadi tuan rumah yang sesuai pengharapan Ramadan. Biasanya hal ini baru disadari ketika penghujung Ramadan dan waktu tak bisa diputar kembali. Sekarang kita balik dari awal dan sejak dini menyadari, agar tidak menjadi rutinitas penyesalan dan melayakan diri lebih pantas lagi.

"Maafkan kami Ramadan. Kepala kami tertunduk malu karena engkau menjanjikan kami berlimpah kebaikan, tapi kami tenggelam dalam kehinaan" (Syaikh Adil bin Ahmad)

Ramadan 79 hari lagi. Semoga tak terulang, Ramadan berjumpa kita dengan rentang ekspektasi jauh dari kenyataan.

Cordova A-03, 1 Desember 2025
#JelajahRamadan  #79HariMenujuRamadan #90HariMenujuRamadan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #MariBerbagiMakna @rehatiwan @rehatiwanInspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

26 [PERPUSTAKAAN] Gerimis

  Pekan lalu saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB. Diterima hangat langsung oleh salah satu pustakawannya, H. Arsy Nyakin. Dua tahun lagi pensiun setelah pengabdian sejak awal pengangkatan di Perpustakaan ini. Dedikasi yang sangat luar biasa. Banyak hal yang kami diskusikan tentang perbukuan dan perpustakaan.   “Your library is your portrait. Perpustakaan Anda adalah potret Anda” (Holbrook Jackson. Wartawan, penulis dan penerbit dari Britania Raya,1874 - 1948).   Buku-buku di rumah anda adalah salah satu etalase yang menggambarkan diri anda. Wajar bila banyak yang menebak karakter anda sesuai dengan buku apa yang anda minati. Tak salah buku apa yang anda baca akan mempengaruhi cara anda bertutur dan bagaimana anda berperilaku.   "Perpustakaan yang buruk membangun koleksi, perpustakaan yang baik membangun layanan, perpustakaan yang hebat membangun komunitas." (R. David Lankes, ilmuwan Perpustakaan Amerika).   Tersadar bahwa koleksi buk...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...