Langsung ke konten utama

Postingan

[WARISAN YANG TAK PERNAH HABIS]

Senin pagi saya berkesempatan menghadiri bedah buku "Jejak Warisan Yang Tersisa, Kisah Memudarnya Pengetahuan Lokal Masyarakat Sumbawa" karya pasangan Julmansyah dan Yossy Dwi Erliana (Dekan Fak Psikologi UTS). Mengungkap diantaranya tradisi Nganyang (Berburu rusa) dan Lar (Padang pengembalaan bersama), memori saya terbawa pada masa SMP saat beberapa kali melihat orang-orang berkumpul untuk pergi berburu rusa atau pagi-pagi ada babi hutan yang kesasar masuk kampung/sawah dan telat balik ke gunung akan diburu bersama-sama (tentu bukan untuk dimakan tapi dibunuh sebagai hama pengganggu tanaman warga). Juga tentang bagaimana saat mulai musim penghujan ternak sapi dan kerbau dilepas di gunung sebagai Padang pengembalaan.  Melengkapi kebahagiaan dalam nostalgia memori dikampung, saya bertemu Prof. drh. Adji Santoso Drajad, M.Phil. PhD Guru Besar Univ. Mataram spesialisasi ke ahlian Rusa salah satu pembedah dalam bedah buku. Nostalgia di kampus juga menambah haru biru w...

[POJOK]

Pandemi makin hari makin tak bisa diprediksi. Sudah 11 bulan (setahun kurang sebulan) sejak kasus positif pertama ditemukan di Indonesia.  Merasa dibatasi g sekarang bang?  Pasti dong, tempat nongkrong atau duduk favorit diluar sana mulai dibatasi, termasuk dengan siapa harus berinteraksi.  Sekarang selama 11 bulan sering nongkrong dimana bang?  Dirumah. Rumah jadi tempat favorit, yang pada saat pandemi paling banyak dihabiskan cuma buat tidur aja karena banyak aktifitas di luar.  Karena tempat tinggal saya tiga setengah tahun terakhir dari rumah jadi cuma satu kamar aja,  saya sulap dikit pojok kamar jadi pojok serba guna. Buat nongkrong, ngopi, makan, baca, ketik, online, zoom meet, buat video youtube, terima telpon dll. Yang pernah kost cuma rumah petak satu kamar pasti mudah membayangkan. Ah kadang kita membenci pandemi, ia memisahkan diri cukup lama dengan tempat favorit diluar sana dan menggantung terlalu lama rencana jalan-jalan ke tempat...

[POLITIK]

Mendengar kata ini, pasti sebagian kita merasa bosan, memuakkan dan cuek aja. Apalagi akhir-akhir ini panggung politik di Indonesia riuh dan bercampur aduk tak karuan.  Ia sebenarnya seni mengubah ketidak mungkinan menjadi mungkin. Hal ini yang membuat kian banyak politisi bertahan bahkan mendayung diatas gelombang dan badai politik sekalipun. Mirip-mirip episode diatas papan caturlah. Dalam politik harus ada aktornya dan mereka yang selalu terlihat dan wara-wiri dihadapan mata kita. Dan pasti ada penonton seperti kita-kita ini yang kadang larut dalam suasana yang dilakoni oleh aktor, bersorak sorai atau mencaci emosi.  Pagung adalah layar tempat aktor bermain sesuai dengan suasana. Panggung perang tak mungkin aktor tidur dan bermimpi, panggung bergegas tak mungkin aktor masih berselimut dan seterusnya. Waktupun tak kalah penting. Kapan harus mulai, merendah, meninggi bahkan usai.  Tapi ingat selain papan catur, anak catur, waktu permainan, penonton, tentu ada...

[ MELAWAN PATAH ]

Kita tentu pernah terjatuh dan tentu meninggalkan luka baik patah tulang ataupun lecet setidaknya. Kadang kita pernah gagal, sakit memang jika sudah berupaya semaksimal mungkin mengerahkan yang dimiliki namun tak mencapai target. Adakalanya juga kecewa itu datang saat melihat gap (jarak) antara harapan dan kenyataan yang sungguh jauh dari prediksi dan ekspektasi. Suatu waktu kita mencicipi juga kebangkrutan baik setelah memperoleh keuntungan bahkan saat memulai menapaki perniagaan dengan modal pas-pasan dan nekad. Kita juga mengerti dan pernah mengalami perihnya patah. Saat yang lain masih berdiri atau tumbuh kita sendiri yang patah, bukan hanya patah wujud tapi juga patah semangat, patah hati, patah harapan bahkan mematahkan mimpi-mimpi yang telah disusun begitu lamanya. Tapi, tak boleh patah itu merobohkan segala yang kita miliki. Jati diri dan harga diri tak boleh terpatahkan oleh apapun titik. Melawan patah untuk tak pernah takluk olehnya. " Sebagian besar mereka m...

[KOMPETISI HIDUP]

Sadar atau tidak, hidup ini sebenarnya perjalanan kompetisi, Tapi hanya sebagian yang mengetahuinya. Walaupun kita hanya mengambil peran mengalir begitu saja, bukan berarti tidak masuk kompetisi. Malahan diam atau tak berpartisipasi dalam kompetisi menunjukan sikap kita dengan jelas, kita kalah sebelum berkompetisi atau takut bersaing dengan yang lain.  Kompetisi bisa bertujuan mempertahankan diri atau meningkatkan yang sudah diraih. Jika berdiam diri maka akan tertindas oleh yang lebih kuat, jika tak bergerak maka akan tertinggal dan tak diperhitungkan, jika memilih pasrah maka bersiap-siaplah untuk punah.  Kompetisi juga untuk mengukur kemampuan, peningkatan capaian. Kompetisi menyiapkan diri untuk bertarung tentunya, kompetisi juga menaikan rangking dan posisi di hadapan yang lainnya.  Dalam kompetisi hanya ada dua pilihan menang dan melanjutkan perjalanan atau kalah  sehingga punah. Karena tidak ada opsi diam artinya tak tersaingi.  @30haribercer...

[MEMBANTU TANPA MERUGIKAN]

Suatu ketika pasti kita mengalami ada teman yang mempromosi dan menjual produknya.  "Yuuk beli cilok rasa manis asam asin, murah dan enak. " "Gaeys order yuuk Minyak Kelapa tanpa pengawet di jamin sehat dan bikin makanan makyuus. " "Bro/sis, Minyak Kayu Putih tanpa bahan kimia, langsung hangat dan fresh. " "Alhamdulillah terbit juga buku karya pertama saya, minat inbox/DM ya. Bonus tanda tangan penulisnya langsung." TAPI karena yang jual teman akrab atau kenalan kadang kita langsung komentar dengan perasaan yang datar.  "Harga promo dong, buat kita." "Mau dong dikirimin satu bukunya." "Wah selamat ya. Gratis buat kita cobain kan?." Salah satu kondisi mereka yang baru memulai usaha kecil-kecilan ialah butuh promosi dan modalnya terbatas. Bisa jadi yang diproduksi saat ini harganya lebih mahal dibanding produk lain yang modalnya besar. Nah, klo kita minta gratis, dikirimin buat cobain dan sebagainya hal itu...

[USIA SECANGKIR KOPI]

Kopi merupakan minuman yang familiar bagi sebagian besar penduduk bumi, ia melintasi semua genre dan usia. Sebagian besar kita kalau tak mau disebut semuanya pasti pernah disuguhi dan minum kopi. Berapa waktu yang kita butuhkan untuk menyeruput habis secangkir kopi? Ada yang membutuhkan waktu 10 menit atau bahkan berjam-jam lamanya. Seperti saya semalam secangkir kopi menemani hingga 4 jam saat mengerjakan deadline tugas. Apakah usia secangkir kopi sebatas waktu dari srupuut pertama hingga tetes terakhir digelas semata? Bagi saya tidak.  Waktu secangkir kopi yang kita gunakan untuk belajar, ia akan bermanfaat sampai ilmu itu terus dipergunakan si pembelajar. Masa yang diperlukan minum kopi sambil menulis, ia akan seusia dengan sampai kapan tulisan itu sirna dimuka bumi. Menit yang kita habiskan menyeruput kopi sambil mengajar kebaikan ia akan beranak-pinak melahirkan waktu-waktu lain sepanjang amal jariyah ilmu yang diajarkan. Sepenggal waktu sruput kopi dapat sambil ki...